Minggu, 10 Januari 2016

SKKNI Penyuluhan Perikanan



Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Kelautan dan Perikanan Bidang Penyuluhan Perikanan:

1. Merumuskan Keadaan Wilayah Perikanan (M.749090.001.02) > Fasilitator, Supervisor, Advisor
A. Mengumpulkan Data Primer dan Sekunder
a.  Menentukan metode pengumpulan data sesuai kaidah statistika deskriptif
b.  Menyiapkan instrumen pengumpulan data primer dan sekunder dalam bentuk kuesioner dan orang
c.   Melakukan pengumpulan data primer dan sekunder sesuai kaidah statistika deskriptif
B.  Menyajikan Data Primer dan Sekunder
a.   Menyiapkan instrumen penyajian data dalam bentuk tabel, gambar dan narasi
b.   Mengisi instrumen penyajian data sesuai dengan data sekunder dan data primer
c.   Melakukan penyajian data dalam bentuk tabel atau gambar dan narasi
C.  Mengolah Data Primer dan Data Sekunder
a.  Mengolah data primer dan sekunder dalam bentuk tabel atau gambar sesuai metode statistik menjadi data aktual dan data potensial
b.   Menetapkan data aktual dan data potensial dalam bentuk tabel
2. Menyusun Programa Penyuluhan Perikanan (M.749090.002.02) > Fasilitator, Supervisor, Advisor
A.  Menentukan Keadaan Wilayah Perikanan
a.    Menggunakan data aktual dan data potensial sesuai pedoman
b.   Menetapkan kesenjangan antara data aktual dan data potensial sesuai pedoman
B.  Menetapkan Masalah
a.   Mengidentifikasi masalah umum berdasarkan kesenjangan antara data aktual dan data potensial
b.    Menyusun masalah khusus berdasarkan masalah umum
c.    Menguji prioritas masalah khusus dengan  metode yang relevan
C.   Menetapkan Tujuan
a.    Menetapkan tujuan umum sesuai dengan masalah umum
b.    Menetapkan tujuan khusus sesuai dengan masalah khusus
D.   Menetapkan Cara Mencapai Tujuan
a.    Menyiapkan tabel cara mencapai tujuan sesuai pedoman cara mencapai tujuan
b.    Menyusun cara mencapai tujuan berdasarkan masalah dan tujuan
c.    Menetapkan cara mencapai tujuan sesuai pedoman
3. Menetapkan Metode Penyuluhan Perikanan (M.749090.003.02) > Fasilitator
A. Menentukan Sasaran Penyuluhan Perikanan
a. Mengidentifikasi jumlah dan kriteria sasaran berdasarkan karakteristik sasaran penyuluhan perikanan
b. Menetapkan sasaran Penyuluhan berdasarkan karakteristik sasaran penyuluhan perikanan
B. Memilih Metode Penyuluhan Perikanan Berdasarkan Jumlah dan Kriteria Sasaran
a.  Menganalisis metode penyuluhan perikanan sesuai kriteria pemilihan metode
b.  Menentukan metode penyuluhan perikanan sesuai kriteria pemilihan metode
C. Menyiapkan Bahan Materi Penyuluhan Perikanan sesuai Bentuk Media Penyuluhan
a.   Mengumpulkan bahan penyusunan materi penyuluhan perikanan sesuai kebutuhan
b.   Menentukan bahan penyusunan materi penyuluhan perikanan sesuai kebutuhan
D.  Menentukan Media Penyuluhan Perikanan
a.    Mengumpulkan media penyuluhan perikanan sesuai kebutuhan
b.    Memilih media penyuluhan perikanan sesuai kebutuhan
E. Menggunakan Metode Penyuluhan Perikanan sesuai dengan Media Penyuluhan
a.    Menentukan metode penyuluhan  sesuai dengan materi, media, sasaran, dan tujuan
b.    Mengaplikasikan metode penyuluhan sesuai dengan materi, media, sasaran dan tujuan
4.   Menumbuhkan Kelompok Pelaku Utama Perikanan (M.749090.006.02) > Fasilitator
A.    Menetapkan Kelompok Sasaran
a.   Menjelaskan pedoman dan referensi yang terkait dengan penumbuhan kelompok perikanan
b.    Mengidentifikasi sasaran kelompok perikanan
c.    Menentukan sasaran kelompok perikanan
B.    Membentuk Kelompok Pelaku Utama Perikanan
a.    Mengidentifikasi kondisi pelaku utama sesuai dengan pedoman penumbuhan kelompok
b.    Mensosialisasikan kriteria penumbuhan kelompok kepada pelaku utama
c.    Melakukan fasilitasi penyusunan AD/ART dan organisasi kelompok sesuai pedoman
d.    Memfasilitasi pembentukan kelompok pelaku utama sesuai dengan pedoman
e.    Melakukan fasilitasi pengukuhan kelompok pelaku utama perikanan sesuai pedoman
5. Memfasilitasi Pelaksanaan Usaha Perikanan (M.749090.010.02) > Fasilitator
A.    Menetapkan Kondisi Usaha Perikanan
a.    Menetapkan peluang pasar sesuai kebutuhan sasaran
b.    Mengidentifikasi kemampuan produksi sesuai dengan standar
c.    Mengidentifikasi kondisi sosial sesuai dengan kondisi sasaran
d.    Mengidentifikasi persyaratan mutu
e.    Mengidentifikasi pengelolaan sumberdaya perikanan yang berkelanjutan
B.  Menetapkan Materi Konsultasi Usaha Perikanan
a.  Memilih materi konsultasi sesuai aspek pasar, produksi, permodalan, sosial, persyaratan mutu dan Sumberdaya Perikanan yang berkelanjutan
b. Menyiapkan materi konsultasi sesuai aspek pasar, produksi, permodalan sosial, persyaratan mutu dan Sumberdaya Perikanan yang berkelanjutan
C.  Melaksanakan Pendampingan Usaha Perikanan
a. Melakukan pendampingan  sesuai aspek pasar, produksi, permodalan sosial, persyaratan mutu dan Sumberdaya Perikanan yang berkelanjutan
b. Melaporkan kegiatan pendampingan pengembangan usaha perikanan  sesuai prosedur
6.  Menyusun Materi Penyuluhan Perikanan (M.749090.004.02) > Supervisor
A.  Memilih Materi Dan Metode Penyuluhan Perikanan
a.  Menyiapkan materi untuk pembuatan media yang sesuai dengan kebutuhan sasaran
b.  Menganalisis materi dan metode penyuluhan sesuai dengan kebutuhan sasaran
c.  Menetapkan materi dan metode penyuluhan perikanan berdasarkan kebutuhan sasaran
B. Merumuskan Materi Dalam Bentuk Media Penyuluhan
a.  Menyiapkan materi untuk pembuatan media yang sesuai dengan kebutuhan sasaran
b. Membuat materi penyuluhan  dalam bentuk media penyuluhan sesuai kebutuhan sasaran
7. Mengembangkan Kemampuan Kelas Kelompok Pelaku Utama Perikanan  (M.749090.007.02) > Supervisor
A.  Merencanakan Pengembangan Kelas Kelompok Pelaku Utama Perikanan
a.  Menjelaskan pedoman dan referensi yang terkait dengan pengembangan kelas kelompok
b.  Membuat rencana pengembangan kelas kelompok sesuai dengan pedoman
B. Melaksanakan Pengembangan Kelas Kelompok Pelaku Utama Perikanan
a.  Melakukan monitoring dan evaluasi kelembagaan kelompok sesuai pedoman
b.  Melakukan penilaian pengembangan kelas kelompok sesuai pedoman
c.  Menetapkan hasil penilaian pengembangan kelas kelompok sesuai pedoman
d.  Melakukan fasilitasi pengukuhan pengembangan kelas kelompok sesuai pedoman
8. Memfasilitasi Perencanaan Usaha Perikanan (M.749090.011.02) > Supervisor
A.    Melakukan Analisa Peluang Pasar
a.    Mengidentifikasi permasalahan proses produksi berdasarkan prioritas masalah
b.    Memperhitungkan kelayakan harga berdasarkan hasil analisa usaha
B.    Mengidentifikasi Proses Produksi
a.    Menetapkan fasilitasi pengembangan modal sesuai kebutuhan
b.    Menentukan skala produksi sesuai kebutuhan pasar
c.    Mengidentifikasi sarana produksi sesuai dengan proses produksi
d.    Mengidentifikasi permasalahan proses produksi berdasarkan prioritas masalah
C.    Memfasilitasi Akses Permodalan
a.    Mengidentifikasi kemampuan keuangan usaha berdasarkan skala produksi
b.    Mengidentifikasi akses Permodalan sesuai kebutuhan skala usaha
c.    Menetapkan fasilitasi pengembangan modal sesuai kebutuhan
d.    Menyusun fasilitasi perencanaan usaha perikanan sesuai dengan skala usaha
9.    Mengevaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Perikanan (M.749090.013.02) > Supervisor, Advisor
A.    Merencanakan Kegiatan Evaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Perikanan
a.    Merumuskan tujuan evaluasi pelaksanaan penyuluhan perikanan sesuai prosedur
b. Menyiapkan instrumen evaluasi kegiatan penyuluhan perikanan sesuai kaidah penyusunan instrumen
c. Menentukan kegiatan penyuluhan perikanan yang akan dievaluasi sesuai dengan programa
d.  Memilih metode evaluasi pelaksanaan penyuluhan sesuai dengan tujuan
e.  Menetapkan sampel sesuai dengan tujuan evaluasi
B. Melakukan Kegiatan Evaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Perikanan
a.  Mengumpulkan sumber dan jenis data sesuai instrumen
b.  Mengumpulkan data yang telah direkapitulasi
c.  Menganalisis hasil rekapitulasi data sesuai dengan metode
d.  Menetapkan hasil evaluasi penyuluhan sesuai kebutuhan
C. Menyusun Laporan Hasil Evaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Perikanan
a.  Menentukan sistematika penulisan laporan sesuai dengan prosedur
b.  Membuat hasil evaluasi pelaksanaan penyuluhan perikanan dalam bentuk laporan
10.Mengevaluasi Dampak Penyuluhan Perikanan (M.749090.014.02) > Supervisor, Advisor
A.  Merencanakan Kegiatan Evaluasi Dampak Penyuluhan Perikanan
a.    Merumuskan tujuan evaluasi dampak penyuluhan perikanan sesuai dengan kebutuhan
b.    Menyiapkan instrumen evaluasi dampak penyuluhan Perikanan sesuai prosedur
c.    Memilih metode evaluasi dampak penyuluhan sesuai dengan tujuan
d.    Menetapkan sampel sesuai dengan tujuan evaluasi
B.  Melakukan Kegiatan Evaluasi Dampak Penyuluhan Perikanan
a.    Mengumpulkan sumber dan jenis data sesuai instrumen
b.    Merekapitulasi data sesuai dengan metode statistik
c.    Menetapkan hasil evaluasi dampak penyuluhan sesuai kebutuhan
C.  Menyusun Laporan Hasil Evaluasi Dampak Penyuluhan Perikanan
a.   Menentukan sistematika penulisan laporan sesuai kaidah
b.   Membuat laporan hasil evaluasi dampak pelaksanaan penyuluhan perikanan
11. Membuat  Karya Tulis Ilmiah Bidang Penyuluhan Perikanan (M.749090.015.02) > Supervisor
A.    Merencanakan Penulisan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Perikanan
a.    Menetapkan sistematika penulisan karya tulis di bidang perikanan sesuai dengan kaidah penulisan
b.    Mengidentifikasi masalah dalam pengembangan keprofesian penyuluh perikanan sesuai dengan tupoksi penyuluh
c.    Menentukan topik karya tulis di bidang perikanan sesuai pedoman
B.    Mengumpulkan Bahan  Karya Tulis di Bidang Perikanan
a.  Mengidentifikasi bahan dan referensi yang terkait dengan karya tulis di bidang perikanan sesuai dengan topik
b. Menentukan bahan dan referensi yang terkait dengan karya tulis di bidang perikanan sesuai topik
C.  Menulis Karya Tulis Ilmiah di Bidang Perikanan
a.  Menganalisis karya tulis ilmiah di bidang perikanan sesuai dengan topik
b. Menetapkan kerangka penulisan karya tulis ilmiah di bidang perikanan sesuai dengan topik
c.  Menyusun karya tulis ilmiah di bidang perikanan sesuai dengan kaidah
12. Mengembangkan Metode dan Materi Penyuluhan Perikanan (M.749090.005.02) > Advisor
A.    Menganalisis Hasil Evaluasi Metode dan Materi Penyuluhan Perikanan
a.   Mengidentifikasi metode dan materi penyuluhan hasil evaluasi sesuai kebutuhan sasaran
b.   Memilih metode dan materi penyuluhan hasil evaluasi sesuai kebutuhan sasaran
c.   Merumuskan metode dan materi penyuluhan sesuai kebutuhan sasaran
B.  Menetapkan Hasil Evaluasi Metode dan Materi Penyuluhan Perikanan
a. Merekomendasikan rumusan metode dan materi penyuluhan sesuai dengan prinsip-prinsip  penyuluhan
b.  Menyusun hasil evaluasi metode dan materi dalam bentuk laporan
C. Menyusun Rencana Pengembangan Metode dan Materi
a. Menyajikan pengembangan metode dan materi penyuluhan dalam bentuk media penyuluhan
b.   Melaporkan hasil rencana pengembangan metode dan materi
13.Mengembangkan Kewirausahaan Kelompok Pelaku Utama (M.749090.008.02) > Advisor
A.  Merencanakan Kegiatan Pengembangan Kewirausahaan
a.    Menjelaskan perencanaan kegiatan kewirausahaan
b.   Menjelaskan standar, indikator dan kriteria kegiatan kewirausahaan
c.   Menyusun rencana kegiatan pengembangan kewirausahaan dalam bentuk proposal
B. Melaksanakan Kegiatan Pengembangan Kewirausahaan
a.  Mengimplementasikan kegiatan pengembangan kewirausahaan sesuai dengan proposal yang telah disusun
b.   Menyusun laporan kegiatan pengembangan kewirausahaan sesuai standar laporan
C.  Mengevaluasi Kegiatan Pengembangan Kewirausahaan
a.   Menganalisis laporan kegiatan pengembangan kewirausahaan sesuai prosedur
b.   Merekomendasikan hasil analisis sesuai dengan kriteria yang berlaku
c.   Mengevaluasi kegiatan pengembangan kewirausahaan kelompok pelaku Utama
14.Menumbuhkan Jejaring Kerja antara Sumber Informasi dan Teknologi dengan Pengguna (M.749090.009.02) > Advisor
A. Mengidentifikasi Aspek-Aspek Jejaring Kerja antara Sumber Informasi dan Teknologi dengan Pengguna
a.    Menjelaskan aspek-aspek yang diperlukan dan mempengaruhi jejaring kerja
b.   Mengidentifikasi aspek-aspek yang diperlukan dan mempengaruhi jejaring kerja
B. Melaksanakan Penumbuhan Jejaring Kerja antara Sumber Informasi dan Teknologi dengan Pengguna
a.   Merumuskan tahapan penumbuhan jejaring kerja sesuai prosedur
b.   Melakukan tahapan penumbuhan jejaring kerja sesuai prosedur
C.  Melaporkan Hasil Penumbuhan Jejaring Kerja
a.   Melakukan evaluasi hasil penumbuhan jejaring kerja sesuai prosedur
b.   Melaporkan hasil evaluasi penumbuhan jejaring kerja sesuai prosedur
15.Memfasilitasi Pengembangan Usaha Perikanan (M.749090.012.02) > Advisor
A. Mengevaluasi Peluang Pasar
a.  Mengidentifikasi daya serap hasil produksi sesuai dengan permintaan pasar
b.  Mengidentifikasi kebutuhan konsumen sesuai dengan analisis pasar
B. Mengevaluasi Kapasitas Produksi Usaha
a.  Mengidentifikasi kemampuan sarana produksi sesuai dengan target produksi
b.  Mengidentifikasi kemampuan sumberdaya manusia sesuai dengan target produksi
c.  Menganalisa daya dukung lingkungan sesuai dengan standar
C. Mengevaluasi Kemampuan Permodalan
a.  Mengidentifikasi sumber permodalan sesuai dengan kebutuhan
b.  Menetapkan kebutuhan pengembangan permodalan sesuai dengan skala usaha
D. Menyusun Rencana Pengembangan Usaha Perikanan
a.  Merencanakan pengembangan usaha aspek pemasaran sesuai dengan analisa pasar
b.  Merencanakan pengembangan usaha aspek produksi sesuai dengan permintaan pasar
c.  Merencanakan pengembangan usaha aspek sosial sesuai dengan kondisi lingkungan
d.  Merencanakan kemitraan strategis antara pelaku utama dan pelaku usaha
16.Melaksanakan Pengkajian Bidang Penyuluhan Perikanan (M.749090.016.02) > Advisor
A.  Merencanakan Kegiatan Pengkajian
a.  Merumuskan tujuan pengkajian penyuluhan perikanan sesuai kebutuhan
b.  Memilih metode pengkajian penyuluhan sesuai dengan tujuan
c.  Menetapkan sampel sesuai dengan tujuan pengkajian
d.  Merancang kegiatan pengkajian penyuluhan perikanan sesuai dengan tujuan
B.  Menetapkan Hasil Pengkajian
a.  Menganalisis data sesuai tujuan pengkajian
b.  Merumuskan rekomendasi hasil analisis kajian penyuluhan sesuai kebijakan
C.  Menyusun Laporan Hasil Pengkajian
a.  Menjelaskan sistematika penulisan laporan
b.  Membuat laporan hasil pengkajian penyuluhan Perikanan

Jumat, 08 Januari 2016

Pembinaan Pada kelompok Bakit Sejahtera Pembudidaya Ikan Kerapu di KJA



  • Memberikan arahan ataupun berdiskusi dengan pelaku utama budidaya ikan kerapu cantik di KJA
  • Mensosialisasikan kepada pembudidaya akan pentingnya pemberrian pakan secara teratur
  • Mensosialisasikan kepada pembudidaya akan pentingnya secara periodik memandikan/ merendam ikan kerapu dengan air tawar dimana hal ini bertujuan agar ikan kerapu terhindar dari serangan penyakit
  • Mendapat keluhan/ masukan dari pelaku utama tentang kendala kekurangan benih ikan kerapu karena masih banyak KJA yang kosong belum terisi benih


Jumat, 18 Desember 2015

BUDIDAYA IKAN NILA METODE KARAMBA JARING TANCAP DI KOLONG BEKAS GALIAN TIMAH

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terdiri dari dua pulau utama, yaitu pulau Bangka dan pulau Belitung serta di kelilingi pulau-pulau kecil seperti pulau Lepar, pulau Selat Nasik, pulau Pongok dan pulau-pulau lainnya. Wilayah provinsi Kepulauan Bangka Belitung terbagi menjadi wilayah Daratan dan Wilayah Lautan dengan Total wilayah mencapai 81,725,14 km. Luas daratan lebih kurang 16,424,14 Km atau 20,10 persen dari total wilayah dan luas laut kurang lebih 65,301 Km atau 79,9 persen dari total wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Provinsi yang mulai dikenal banyak orang sejak difilmkannya “Laskar Pelangi” oleh Andrea Hirata ini merupakan daerah yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan diri pada hasil pertambangan, terutama pertambangan timah. Secara turun temurun masyarakat Bangka Belitung menjadikan tambang timah sebagai mata pencahariannya. Penambangan timah ini sudah ada sejak zaman dahulu dan semakin intensif terjadi disaat Indonesia dijajah oleh Belanda.

Penambangan timah yang terjadi di Bangka Belitung ada yang dilakukan secara intensif dengan teknologi yang modern utamanya oleh perusahaan besar, baik itu pemerintah ataupun swasta serta juga dilakukan oleh masyarakat dengan cara tradisional atau konvensional. Penambangan timah yang intensif di Pulau Bangka maupun Belitung telah menyisakan fenomena yang menarik, yaitu terbentuknya lubang bekas galian tambang yang berisi air menyerupai danau-danau kecil yaang disebut “kolong”.


Kolong umumnya mempunyai air yang bersifat asam tergantung dari tipe mineral dominan di area tambang tersebut, serta juga mengandung logam-logam terlarut yang tidak dapat dimanfaatkan dalam kurun waktu yang cukup panjang. Sumber air kolong bisa berasal dari mata air, air sungai maupun air hujan. Kolong bekas tambang merupakan habitat yang unik karena umumnya sempit dan dalam serta tanpa zona littoral yang dikelilingi oleh dinding batuan yang terjal/curam dan biasanya tidak terdapat aliran air masuk dan/atau air keluar.

Namun perairan kolong merupakan perairan yang memiliki kondisi berbeda dengan perairan umum lainnya seperti waduk, danau dan sungai. Hal ini menjadikan kolong membutuhkan perlakuan yang lebih special (spesifik). Kualitas air kolong yang tentunya berbeda dengan perairan umum lain dan setidaknya pernah mengalami kondisi terburuk saat penambangan timah. Logam berat dan tingkat keasaman menjadi kendala diantara kendala-kendala lainnya. Kondisi tersebut menjadikan kegiatan budidaya ikan lebih terfokus pada kolong-kolong tua yang memiliki kualitas air yang lebih baik dibandingkan dengan kolong-kolong yang berusia muda.


Masyarakat sekitar kolong ada yang memanfaatkan areal pinggiran kolong yang landai dan tidak terlalu dalam untuk budidaya ikan, salah satunya dengan menggunakan karamba jaring tancap (KJT). ikan yang di budidayakan bisa berupa ikan lele, ikan nila, ikan mujair, ikan mas, ikan gurame dan ikan air tawar lainnya.
Keramba Jaring Tancap (KJT) merupakan jaring kantong berbentuk persegi yang dipasang pada kerangka bambu atau kayu yang ditancap pada dasar perairan. Pasangan kayu/ bambu ditancap rapat, seperti pagar, atau hanya dipasang di bagian sudut kantong jaring. Ikan yang dapat dibudidayakan dengan teknik karamba jaring tancap yaitu ikan mas, nila, patin, lele, bawal, betutu dan jenis ikan air tawar lainnya.

Keunggulan Metode Keramba Jaring Apung
1.    Design lebih mudah dan efisien dalam pembuatannya
2.   Dana yang diperlukan untuk membuat keramba juga tidak terlalu besar karena tidak memerlukan pemberat ataupun pengapung yang biayanya mahal
3.    Pengoperasiannya mudah
4.    Produktivitas lebih tinggi
5.    Tidak memerlukan kedalaman air yang terlalu dalam seperti KJA


Teknik Budidaya Keramba Jaring Tancap
1.  Perhatikan Aspek teknis seperti kondisi perairan (kolong) dan kualitas air sangat berperan penting bagi pertumbuhan ikan yang akan dipelihara.
2.   Peletakan jaring tancap sebaiknya didaerah yang berarus kecil dan dalam. Peletakan di daerah tersebut untuk memudahkan dalam pembuatan, pengoperasionalan serta pemeliharaan karamba jaring tancap tersebut. Oleh karenanya karamba jarring tancap sebaiknya diletakkan pada kedalaman idealnya, yaitu 60-70 cm.
3. Penebaran benih ikan sebaiknya pada pagi hari sebelum matahari terbit hal ini dikarenakan pada pagi hari suhu air hampir setiap daerah sama. Sebelum ikan ditebarkan perlu dilakukan aklimatisasi atau penyesuaian kondisi lingkungan sekitar. Padat tebar pada keramba jaring tancap idealnya adalah 100-150 ekor/m2 nya.
4. Selain pakan berupa pelet, pakan tambahan lainnya dapat juga diberikan seperti tanaman air dan daun-daunan. Pakan diberikan tiga kali sehari, yaitu pada pagi, siang dan sore hari.
5.  Pemenenan ikan dilakukan dengan cara mempersempit ruang gerak ikan di dalam kantong keramba.
6. Diberi biofilter di sekitar keramba agar zat-zat racun dan amoniak pada air dapat berkurang, pemberian biofilter dapat berupa eceng gondok.
7.  Dilakukan monitoring kualitas air 1 minggu sekali serta melakukan sampling untuk mengetahui kesehatan ikan. Sehingga apabila dalam monitoring dan sampling diketahui ada penyakit dan kuaitas air yang dapat membahayakan ikan yang dibudidayakan dapat dicegah.

salam perikanan

Senin, 14 Desember 2015

Fotonews: Ira Poenya Cerita dari Batam hingga Aceh






at masjid Baiturrahman Aceh

pusat oleh-oleh Aceh di samping masjid Baiturrahman

with kawan penyuluh perikanan

 
at Bandara Sultan Iskandar Muda in Aceh

at Golden View Hotel in Batam

Sabtu, 12 Desember 2015

Foto News: Mengikuti Sosialisasi Uji Sertifikasi Penyuluh Perikanan di Aceh

Foto-foto saat mengikuti Sosialisasi Uji Sertifikasi Penyuluh Perikanan yang diadaakan oleh Pusluh KKP di Hotel Oasis Aceh









Mengikuti Sosialisasi Sertifikasi Penyuluh Perikanan di Aceh

Bertempat di Hotel Oasis Aceh Jl. Tengku Imum No.115 Kota Banda Aceh, Pusat Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat Kelautan dan Perikanan menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Sertifikasi Penyuluh Perikanan.  Kegiatan yang akan berlangsung selama 3 hari (10-12 Desember 2015) diikuti oleh 55 orang Penyuluh Perikanan dari kabupaten/kota perwakilan provinsi Aceh, Sumut, Sumbar, Jambi Riau, Kepri, Kep. Babel, Lampung, Kalbar, Kalsel, Sulsel, Maluku dan dibuka oleh Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan, serta dihadiri oleh Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi  Kelautan dan Perikanan (LSP-KP).


Kegiatan ini diselenggarakan agar para Penyuluh Perikanan yang belum mengikuti kegiatan Sertifikasi tahun 2015, dapat memahami dan mempersiapkan diri  dalam mengikuti Sertifikasi Penyuluh Perikanan Tahun 2016 baik Sertifikasi Profesi maupun Sertifikasi Teknis Perikanan. Kegiatan sosialisasi juga dimaksudkan untuk meminimalisir permasalahan-permasalahan yang dihadapi pada Sertifikasi Penyuluh Perikanan tahun 2015. Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan sertifikasi penyuluh perikanan tahun 2015 diantaranya :
a.     data peserta kurang akurat khususnya dalam hal jenjang jabatan penyuluh perkanan. Data ini diperlukan untuk menentukan level sertifikasi profesi sesuai dengan jenjang jabatannya. Solusinya yaitu dengan melakukan validasi dan updating data SIMLUH KP secara berkala oleh petugas/admin SIMLUH KP kab/kota, provinsi dan pusat;
b.    berkas portofolio tidak lengkap. Sebagian besar penyuluh tidak mengerjakan yang apa yang dicatat dan tidak mencat apa yang dikerjakan, sehingga mengakibatkan berkas portofolio tidak lengkap. Solusinya yaitu dengan membangun kesadaran kepada para penyuluh perikanan agar dapat mencatat/mendokumentasikan setiap kegiatan untuk keperluan pengusulan DUPAK dan portofolio Sertifikasi Penyuluh Perikanan
c.     rendahnya pemahaman terhadap MUK, dikarenakan sebagaian penyuluh perikanan tidak membaca secara keseluruhan pedoman sertifikasi, dan yang terakhir
d. informasi kegiatan tidak sampai kepada penyuluh, dikarenakan berbagai faktor seperti : tidak ada akses internet, tidak ada fax dan tidak ada signal/jaringan telpon,  serta tidak  menguasai akses internet. Solusinya Pusluhdaya melakukan Sosialisasi melalui media online maupun tatap muka langsung.



Kegiatan sosialisasi penyuluh perikanan ini berlangsung selama 3 hari, dimulai hari Kamis,10 Desember dan  ditutup oleh Kepala Pusat Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat KP pada tanggal 12 Desember 2015.


Jumat, 04 Desember 2015

Prrospek Budidaya Ikan Sidat

Kalau dilihat Ikan sidat ini bentuknya sekilas mirip dengan belut namun sebenarnya Sidat ini berbeda dengan belut, sidat memiliki sirip dada, sirip punggung, dan Sirip dubur yang sempurna, sehingga orang menduga sirip itu adalah “daun bertelinga‟ sehingga dinamakan pula „belut bertelinga‟.

Sidat tumbuh besar di perairan tawar, setelah dewasa kembali ke laut untuk berpijah. Dalam siklus hidupnya, setelah tumbuh dan berkembang dalam waktu yang panjang di perairan tawar, sidat dewasa yang lebih dikenal dengan yellow eel berkembang menjadisilver eel (matang gonad) yang akan bermigrasi ke laut untuk memijah. Setelah memijah, induk akan mati.

Indonesia paling sedikit memiliki enam jenis ikan sidat yakni: Anguilla marmorata, Anguilla celebensis, Anguilla ancentralis, Anguilla borneensis, Anguilla bicolor bicolor dan Anguilla bicolor pacifica. Di Jepang, laboratorium penelitian sidat, berusaha untuk menemukan teknik pemijahan secara buatan seperti halnya kita memijahkan ikan mas, lele dan udang.
Ikan sidat yang ditangkap dari alam khususnya Anguilla bicolor termasuk ikan berlemak rendah dan sedang dengan kadar protein yang tinggi. Salah satu penelitian menghasilkan protein berkisar 17,5- 21,5%, air 71,5-75,9%, lemak 3,3-9,5% dan abu 1,0-1,6%.
Ikan sidat, Anguilla spp merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki prospek karena sangat laku di pasar internasional seperti: Jepang, Hongkong, Belanda, Jerman, Italia dan beberapa negara lain; dengan demikian ikan sidat ini memiliki potensi sebagai komoditas ekspor. Di Indonesia, sidat banyak ditemukan di daerah-daerah yang berbatasan dengan laut dalam seperti pantai selatan Pulau Jawa, pantai barat Sumatera, pantai timur Kalimantan, pantai Sulawesi, pantai kepulauan Maluku dan Irian Barat. 
Berbeda halnya di negara lain seperti (Jepang, dan negara negara Eropa), di Indonesia sumberdaya sidat belum begitu banyak dimanfaatkan, padahal ikan liar ini baik dalam ukuran benih maupun ukuran konsumsi jumlahnya cukup melimpah.
Tingkat pemanfaatan sidat secara lokal (dalam negeri) masih sangat rendah, akibat belum banyak dikenalnya ikan ini, sehingga kebanyakan penduduk Indonesia belum familiar untuk mengkonsumsi sidat. Demikian pula pemanfaatan sidat untuk tujuan ekspor masih sangat terbatas. Agar sumberdaya sidat yang keberadaannya cukup melimpah ini dapat dimanfaatkan secara optimal, maka perlu dilakukan langkah-langkah strategis yang diawali dengan mengenali daerah disekitar kita yang memiliki potensi sumberdaya sidat mulai dari benih dan ukuran konsumsi yang kemudian dilanjutkan dengan upaya pemanfaatannya baik untuk konsumsi lokal maupun untuk tujuan ekspor.
Berkaitan dengan Program kementerian kelautan dan Perikanan dalam usaha  terhadap target peningkatan produksi perikanan sebesar 353% pada tahun 2014 dimana sebanyak 16,89 juta ton berasal dari perikanan budidaya, yang akan menjadikan Indonesia sebagai negara produsen perikanan terbesar di dunia pada tahun 2015 menjadi isu terdepan yang harus dipikirkan langkah-langkah strategis pencapaiannya. Salah satunya dengan adanya program minapolitan yang bertujuan menggenjot produksi perikanan daerah, serta dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi untuk perikanan komoditas unggulan. Buktinya terlihat dari salah satu spesies ikan kegemaran warga Jepang, yaitu ikan sidat atau unagi, yang banyak hidup di perairan Indonesia. Selain digemari karena kandungan gizi yang tinggi, harga sidat sangatlah fantastis.
A. KARAKTERISTIK SIDAT
Dalam ilmu taksonomi hewan, menurut Nelson (1994) ikan sidat diklasifikasikan sebagai berikut:
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Subkelas : Neopterygii
Division : Teleostei (Ikan bertulang belakang)
Ordo : Anguilliformes (Sidat)
Famili : Anguillidae
Genus : Anguilla
Species : Anguilla spp.
Tubuh sidat bersisik kecil-kecil membujur, berkumpul dalam kumpulan-kumpulan kecil yang masing-masing kumpulan-kumpulan terletak miring pada sudut siku terhadap kumpulan-kumpulan di sampingnya. Bentuk tubuh yang memanjang seperti ular memudahkan bagi sidat untuk berenang diantara celah-celah sempit dan lubang di dasar perairan seperti ular. Warna tubuh abu-abu gelap di punggung, di bagian dada/perut berwarna keputihan.
Panjang tubuh ikan sidat bervariasi tergantung jenisnya yaitu antara 50-125 cm. Ketiga siripnya yang meliputi sirip punggung, sirip dubur dan sirip ekor menyatu. Selain itu terdapat sisik sangat kecil yang terletak di bawah kulit pada sisi lateral. Perbedaan diantara jenis ikan sidat dapat dilihat antara lain dari perbandingan antara panjang preanal (sebelum sirip dubur) dan predorsal (sebelum sirip punggung), struktur gigi pada rahang atas, bentuk kepala dan jumlah tulang belakang.
Sidat termasuk ikan karnivora (pemakan daging). Sama halnya dengan belut sawah (Monoterus albus/Fluta alba), lele (Clarias batracus), dan gabus (Ophiocephalus striatus). Di alam aslinya, sidat memangsa ikan, kodok, udang, dan juga sesama sidat (kanibalisme).
Kanibalisme akan terjadi apabila populasi sidat dalam satu koloni sangat besar, tetapi volume pakan kurang.
B. SIKLUS HIDUP SIDAT
Pada stadium larva, sidat hidup di laut. Bentuknya seperti daun lebar, tembus cahaya, dan dikenal dengan sebutan leptocephalus. Larva ini hidup terapung-apung di tengah samudera. Leptocephalus hidup sebagai plankton terbawa arus samudera mendekati daerah pantai. Pada stadium elver, sidat banyak ditemukan di pantai atau muara sungai.
Panjang tubuh 5-7 cm, tembus cahaya. Burayak (anak ikan/impun) akan hidup di air payau sampai umur satu tahun. Ketika itulah sidat akan berenang melawan arus menuju hulu sungai. Setelah bertemu dengan perairan yang dalam dan luas, misalnya lubuk, bendungan, rawa atau danau, sidat akan menetap dan tumbuh menjadi ikan buas dan liar. Impun dewasa inilah yang selanjutnya dikenal sebagai sidat. Ketika itulah dia akan kembali ke laut lepas untuk kawin dan berkembang biak. Setelah berpijah, induk akan mati. Pola hidup sidat bertolak belakang dengan ikan salmon (Salmonidae). Salmon justru hidup di laut, tetapi kawin dan berkembang biak di air tawar di pedalaman. Perilaku catadromous, tidak hanya terjadi pada sidat, melainkan juga udang galah.

Gambar Larva sidat dan tingkat pertumbuhannya

Keterangan: perkembangan larva sidat dari leptocephalus sampai menjadi impun, yang banyak ditangkap di tepi pantai

C. JENIS-JENIS SIDAT
Sidat (eels) adalah ikan dari famili Anguillidae. Ada sekitar 16 sd. 20 spesies sidat, yang kesemuanya merupakan genus Anguilla. Di antaranya adalah Sidat Eropa (Anguilla anguilla); Sidat Jepang (Anguilla japonica), Sidat Amerika (Anguilla rostrata); Sidat sirip pendek (Anguilla australis), Sidat putih (Anguilla marmorata), Sidat loreng (Anguilla nebulosa), Sidat loreng India (Anguilla bengalensis bengalensis), Sidat loreng Afrika (Anguilla bengalensis labiata), Sidat sirip pendek.
Indonesia (Anguilla bicolor bicolor), sidat sirip pendek india (Anguilla bicolor pacifica), sidat sirip panjang Indonesia (Anguilla malgumora), sidat sirip panjang Sulawesi (Anguilla celebensis), sidat sirip panjang Selandia Baru (Anguilla dieffenbachii), sidat sirip panjang dataran tinggi (Anguilla interioris), sidat sirip panjang Polynesia (Anguilla megastoma), sidat sirip panjang Afrika (Anguilla mossambica), sidat sirip pendek pasifik atau sidat pasifik selatan (Anguilla obscura), sidat bintik sirip panjang atau sidat sirip panjang Australia (Anguilla reinhardtii).
 Siklus hidup sidat

Sidat merupakan ikan catadromous. Yakni ikan yang hidupnya di perairan air tawar di pedalaman. Baik berupa sungai besar, danau, waduk atau rawa, tetapi berkembangbiak di laut. Indonesia paling sedikit memiliki enam jenis ikan sidat yakni: Anguilla marmorata, Anguilla celebensis, Anguilla ancentralis, Anguilla borneensis, Anguilla bicolor bicolor dan Anguilla bicolor pacifica. Jenis-jenis ikan tersebut menyebar di daerah-daerah yang berbatasan dengan laut dalam. Di perairan daratan (inland water) ikan sidat hidup di perairan estuaria (laguna) dan perairan tawar (sungai, rawa dan danau) dataran rendah hingga dataran tinggi.
]enis sidat yang sering ditangkap nelayan hanya dua yaitu sidat kembang (Anguilla mauritiana) dan sidat anjing (Anguilla bicolon). Kedua jenis ini berdiam dalam lubang pada cadas-cadas atau diantara sela-sela batu, dan yang disukai masyarakat adalah sidat kembang. Sidat anjing kurang disukai, bahkan ditolak untuk menyantap dagingnya karena namanya yang diembel-embel "anjing".
Sidat Indonesia Anguilla bicolor bicolor, Anguilla marmorata, maupun Anguilla celebensis, populasinya sangat mengkhawatirkan. Sidat Sulawesi, Anguilla celebensis yang terdapat di danau Poso, Sulawesi Tengah, malahan sudah sangat kritis keadaannya. Sebab sidat ini hanya endemik di pulau Sulawesi. Beda dengan Anguilla bicolor bicolor dan Anguilla marmorata yang meskipun diberi nama Indonesia, sebaran habitatnya mulai dari Madagaskar sampai ke Pasifik. Meskipun populasi Anguilla bicolor bicolor, dan Anguilla marmorata masih tidak sekritis Anguilla celebensis, namun penelitian untuk budidaya secara intensif sudah sangat mendesak.Budidaya ikan sidat, bukan sekadar usaha peternakan, melainkan sebuah matarantai agroindustri yang satu sama lain saling terikat.

D. KANDUNGAN GIZI SIDAT
Komposisi kimia hasil perikanan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam diantaranya adalah penyakit dan keturunan (jenis/gen). Sedangkan faktor luar dipengaruhi oleh kondisi lingkungan baik biotik maupun abiotik. Stadia fisiologis juga akan mempengaruhi komposisi. Pada stadia juvenile, remaja, matang gonad, dan pascamemijah komposisi kimia akan disesuaikan dengan kebutuhan fisiologis dari hasil perikanan. ]enis makanan yang tersedia juga mempengaruhi komposisi kimia ikan, sebagai contoh hasil penelitian yang memberikan perlakuan pakan tambahan dengan karbohidrat pada ikan Anguilla anguilla memperoleh komposisi sebagai berikut: air 57,21%, protein 15,89%, lemak 25,61%, dan abu 2,12%. 
Sebaliknya hasil penelitian terhadap ikan sidat (Anguilla bicolor) yang diberi pakan protein dengan kadar bervariasi yang berkisar antara 40,25-55,21 % menghasilkan protein 18,04-20,32%; air 67,79-70,73%; lemak 7,23-8,01 %; abu 2,69- 3,20% dan serat kasar 0,73-0,77%. Semakin tinggi kadar protein pakan yang diberikan semakin tinggi pula kadar protein daging ikan yang terukur. Komposisi kimia beberapa jenis ikan sidat dapat dilihat  dibawah ini (Sidat Dewasa)
Ikan sidat yang ditangkap dari alam khususnya Anguilla bicolor termasuk ikan berlemak rendah dan sedang dengan kadar protein yang tinggi. Penelitian Saleh (1993) menghasilkan protein berkisar 17,5- 21,5%, air 71,5-75,9%, lemak 3,3-9,5% dan abu 1,0 - 1,6%.
Tabel dibawah ini Komposisi kimia beberapa jenis ikan sidat dewasa dalam 100 gram bahan segar (%)
Komponen
Anguilla japonica'
Anguilla bicolor'
Anguilla bicolor pacifica'
Protein
16,8
18,70-20,32
17,5-21,5
Lemak
12,4
7,23-8,11
3,3-9,5
Air
69,6
67,79-70,73
71,5-75,9
Abu
1,2
2,69-3,20
1,0-1,6
Serat
-
0,73-0,77
-

Sumber: FAO (1972), Rahman (1997), Saleh (1993)
Beberapa tahun belakangan ini ditemukan bahwa ikan sidat mengandung berbagai asam lemak tak jenuh yang tinggi yang tak ada pada hewan lainnya, sehingga dapat merupakan makanan utama yang memenuhi nafsu makan manusia, tanpa perlu kuatir badan akan menjadi gemuk. Tabel atas dan dibawah menunjukkan bahwa komposisi kimia ikan sidat baik dalam satu jenis maupun jenis yang berbeda kadarnya juga berbeda. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor yang sangat besar pengaruhnya adalah jenis makanan yang tersedia, sebagaimana terlihat pada Tabel dibawah ini dengan pemberian protein yang semakin tinggi akan diikuti pula oleh kadar protein daging yang tinggi dan kadar air yang semakin rendah. Pakan dengan kadar protein 40,25% menghasilkan ikan dengan protein terendah dibanding pakan yang kadar protein 55,22%.
Tabel dibawah ini merupakan Komposisi asam amino ikan sidat (Anguilla bicolor) dengan perlakuan pakan (protein) yang berbeda (gram/100 gram protein) 
Jenis asam amino
40,25%
45,28%
50,31%
55,22%
Esensial




Isoleusin
2,67
2,72
2,61
2,72
Leusin
4,49
4,86
4,36
4,19
Lisin
2,75
2,46
2,83
3,87
Metionin
1,71
1,58
1,59
3,87
Fenilalanin
2,39
2,44
2,35
2,26
Tirosin
3,88
3,93
3,90
3,44
Treonin
1,67
1,12
1,80
2,09
Valin
2,87
2,84
2,85
2,88
Non esensial




Asam aspartat
5,59
5,27
5,64
5,39
Asam glutamat
10,11
10,35
11,32
10,79
Serin
2,15
2,57
2,45
2,71
Histidin
1,41
1,18
0,59
1,02
Glisin
4,05
5,04
4,99
0,48
Arginin
7,76
8,45
8,95
8,92
Alanin
0,75
0,90
0,89
0,81
Kadar protein (%)
18,04
18,70
19,54
20,32
Kadar air (%)
70,73
69,38
68,38
67,79
Kadar lemak (%)
7,23
7,81
7,66
8,11
Kadar abu (%)
2,69
3,04
3,20
3,05
Serat kasar (%)
0,73
0,77
0,75
0,76

Selain kadar protein yang menentukan komposisi kimia ikan, kadar karbohidrat juga berpengaruh. Pemberian karbohidrat yang tinggi dapat menghasilkan ikan dengan kadar lemak tinggi sesuai hasil penelitian yang telah dilakukan. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa ikan sidat yang rakus dan bersifat karnivor ternyata dengan pakan yang kaya karbohidrat juga bisa menghasilkan lemak tinggi, tetapi kadar proteinnya relatif rendah. Lemaknya dapat mencapai 25,61 %, protein 15,89%, dan kadar air 57,21 %.
Berdasarkan jenis pakan yang diberikan sesungguhnya pengguna dapat memilih ikan yang diharapkan, apakah kaya protein atau kaya lemak serta teksur yang bagaimana. Komposisi kimia ikan ini tidak hanya ditentukan oleh pakan saja, tetapi juga ditentukan oleh fase fisiologis dari ikan tersebut. Namun untuk ikan sidat belum ada data akurat mengenai perbedaan komposisi yang disebabkan oleh fase fisiologis dari ikan.
Rasa ikan sidat harum dan enak, disebut sebagai “ginseng air”, fungsinya dalam memperpanjang umur dan melawan kelemahan dan penuaan tak ternilai. Sidat memiliki kandungan nutrisi protein, karbohidrat, serta omega 3 yang tinggi. Sehingga menguatkan fungsi otak dan memperlambat terjadinya kepikunan. Dibanding ikan salmon, sidat mengandung DHA (Decosahexaenoic acid, zat wajib untuk pertumbuhan anak) sebanyak 1.337 mg/100 gram sementara ikan salmon hanya 748 mg/100 gram. Kandungan EPA (Eicosapentaenoic acid) yang terdapat dalam ikan sidat sebesar 742 mg/100 gram sementara salmon hanya 492 mg/100 gram. Ikan sidat mempunyai kandungan asam lemak Omega 3 tinggi, yakni sekitar 10,9 gram per 100 gram. Omega 3 ini dipercaya mampu meningkatkan fungsi mental, memori, dan konsentrasi manusia. Zat yang banyak terdapat dalam lemak sidat ini juga terbukti mampu mengobati depresi, gejala penyakit kejiwaan atau schizophrenia. Mengkonsumsi ikan sidat dapat mengatur imunitas tubuh manusia, sebagai anti oksidan, menghilangkan racun tubuh, serta memperlambat penuaan.
Ikan sidat adalah sejenis ikan yang mempunyai nilai gizi sangat tinggi, kaya akan protein serta vitamin D dan E, serta mempunyai mucoprotein yang kaya, disebut sebagai asam amino lemak ganggang dan asam ribonukleat. Ikan sidat juga terbukti mengandung vitamin A dengan kadar 100 kali lebih banyak dibandingkan ikan-ikan yang lain. Untuk 100 gram daging sidat mengandung 5000 IU vitamin E. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ikan sidat adalah rajanya ikan untuk kandungan nutrisi yang ada didalam tubuhnya, ini berdasarkan penelitian kedokteran modern yang menemukan bahwa kandungan vitamin dan mikronutrien dalam ikan sidat sangat tinggi, di antaranya:
1). vitamin B1, 25 kali lipat susu sapi
2). vitamin B2, 5 kali lipat susu sapi
3). vitamin A, 45 kali lipat susu sapi,
4). kandungan zinc (emas otak) 9 kali lipat susu sapi.
Teknologi menemukan bahwa daya hidup ikan sidat yang ajaib bersumber dari tulang sum-sumnya yang besar dan kuat. Penelitian modern menunjukkan bahwa tulang sum-sum ikan sidat mengadung beratus-ratus jenis zat bergizi, gizi dan nilai farmakologinya yang istimewa telah mendapat perhatian yang luas dari para pakar.
Sudah banyak terbukti, mengkonsumsi ikan sidat secara teratur dapat mendorong terbentuknya lemak fosfat dan perkembangan otak besar, bermanfaat untuk meningkatkan daya ingat. Juga memperbaiki sirkulasi kapiler, mempertahankan tekanan darah normal, mengobati pembuluh darah otak.
Banyak orang merasakan manfaat mengkonsumsi ikan sidat untuk penyakit rabun jauh, rabun dekat, glukoma dan penyakit mata kering disebabkan karena mata terlalu lelah. Minyak ikan sidat dibuat dari ekstrak sum-sum ikan sidat segar, mengandung tiga jenis nutrient penting yaitu: asam lemak omega 3 (DHA & EPA), Phospholipids dan antioksidan Vitamin E.

E. PROSPEK PERDAGANGAN
Usaha bisnis Sidat sebenarnya sangat cocok untuk dikembangkan mengingat peluang yang ada saat ini cukup menggembirakan, Khususnya Masyarakat Jepang yang saat ini merupakan konsumen ikan sidat terbesar dunia, dimana setiap tahunnya membutuhkan 150 ribu ton dari 250 ribu ton kebutuhan dunia. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, populasi sidat populer dunia seperti Anguilla Japonica, Anguilla anguilla dan Anguilla rostrata mulai menurun drastis karena konsumsi berlebihan, ditambah siklus hidup yang rumit menyebabkan stok benih budidaya ikan ini masih mengandalkan hasil tangkapan alam.
Menurunnya produksi sidat membuat dunia mulai melirik ke spesies sidat tropik di Indonesia yang ternyata merupakan pusat sidat dan memiliki 12 spesies dari 18 spesies yang ada di dunia. Indonesia yang memiliki sidat dengan jenis yang cukup beragam belum dimanfaatkan secara optimal. Kebanyakan sidat yang dipasarkan merupakan hasil tangkapan dari alam. Sampai saat ini jumlah pembudidaya sidat masih sangat terbatas, padahal potensi benih sidat (glass eel) di Indonesia cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa antara jumlah produksi benih yang dihasilkan dari alam belum sepadan dengan pemanfaatannya untuk pembesaran. Dengan demikian perlu dicermati mengingat kenyataan di lapangan permintaan ekspor terhadap benih sidat (glass eel) semakin meningkat, misalnya dengan dalih untuk penelitian.
Demikian dulu sampai disini, semoga menambah wawasan dan pengetahuan
Salam sukses selalu,  semoga keberhasilan tetap bersama anda
Sumber referensi:
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Badan Pengembangan sumberdaya manusia Kelautan dan Perikanan BPSDMKP

Pusat Penyuluhan Perikanan