Tampilkan postingan dengan label budidaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budidaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Agustus 2017

POTENSI PENGEMBANGAN BUDIDAYA AIR LAUT DI WILAYAH KABUPATEN BANGKA BARAT

Kabupaten Bangka Barat merupakan Kabupaten pesisir di pulau utama (mainland) yaitu Pulau Bangka yang terletak pada 105°-107° Bujur Timur dan 01°20’-03°07’ Lintang Selatan, dengan luas wilayah daratan sekitar 2.820,61 Km2 didukung perairan laut seluas 1.690,28 Kmdan pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitarnya.


Kondisi ini menjadikan Kabupaten Bangka Barat memiliki potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang cukup besar utamanya untuk budidaya air laut, air payau dan air tawar dan merupakan usaha strategis dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Bangka Barat. Namun pemanfaatannya belumlah optimal karena keterbatasan sumberdaya manusia yang berkualitas, teknologi, dan permodalan. Kabupaten Bangka Barat terdiri dari 6 Kecamatan yang meliputi 60 Desa dan 4 Kelurahan. Di antara desa-desa tersebut terdapat 32 desa yang merupakan desa-desa yang mempunyai wilayah laut atau bersinggungan/ berdekatan dengan laut/ pantai dan sungai.
Pemanfaatan potensi kelautan dan perikanan tersebut khususnya terhadap potensi kelautan sudah berkembang, yaitu dengan aktifitas penangkapan ikan di laut oleh nelayan. Sedangkan budidaya air laut sampai saat ini belum termanfaatkan. Pemanfaatan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang masih rendah ini disebabkan oleh keterbatasan sarana prasarana yang dimiliki, kemampuan nelayan yang masih rendah, teknologi yang digunakan masih sederhana serta belum adanya pelaku bidang kelautan dan perikanan memanfaatkan teknologi penunjang dalam aktifitasnya.
Sub sektor perikanan khususnya perikanan laut sangat dominan di Kabupaten Bangka Barat mengingat Pulau Bangka dikelilingi oleh lautan yang memiliki sumberdaya laut yang relatif besar untuk dikembangkan. Komoditi yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi seperti ikan kerapu, kakap merah, udang, cumi-cumi, sirip ikan dan lain-lain.
Potensi budidaya air laut sebesar 51.290.2 ha, sementara pemanfaatannya sama sekali belum tersentuh. Adapun yang menjadi kendala selama ini adalah keterbatasan sarana penunjang produksi, penerapan teknologi dan permodalan. Sedangkan dari hasil analisis parameter kualitas lingkungan baik yang dianalisis secara in situ maupun uji laboratorium sebagai faktor pertimbangan dalam menyusun kelayakan budidaya air laut, payau dan air tawar, maka dapat disimpulkan seperti di bawah ini:
Parameter Fisika:
Suhu Perairan: berdasarkan hasil pengukuran suhu secara in situ di kawasan Kabupaten Bangka Barat kisaran suhu yang diperoleh berkisar antara 27–32°C dengan rerata 29°C.
Salinitas: hasil pengukuran in situ salinitas untuk stasiun di laut dan perairan payau berkisar antara 17–32 ppt dengan rerata 26 ppt. Untuk salinitas perairan di Indonesia berkisar antara 30–35 ppt, sedangkan daerah pesisir salinitasnya berkisar antara 32–34 ppt.
Substrat: hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa ada beberapa tipe substrat yang terdapat di Kabupaten Bangka barat adalah berpasir, pasir berliat, pasir berlumpur, pasir berlumpur berliat, liat berlumpur. Substrat dengan tipe pasir berliat sangat baik digunakan untuk kegiatan budidaya ikan dengan wadah budidaya kolam ataupun tambak. Hal ini disebabkan substrat pasir memiliki rongga udara, sehingga pasokan oksigen dari kolom perairan menjadi lancar dan ketersediaan oksigen cukup tinggi.
Parameter Kimia
Derajad Keasaman (pH): dari hasil pengukuran pH didapatkan hasil pH yang masih sesuai dengan pH yang ada di perairan yang normal, yaitu berkisar antara 6–7.
Oksigen Terlarut: pengukuran kadar oksigen terlarut berkisar antara 1.6–7.8 ppm dengan rerata 5.7 ppm. Hasil pengamatan di seluruh stasiun memiliki DO yang cukup baik.
Nitrat (NO3) dan nitrit (NO2): hasil pengukuran nitrat (NO3-N) berkisar antara 0.01–11.14 ppm, sedangkan untuk nitrit (NO2) berkisar antara 0.01-0.75 ppm dengan rerata hasil pengukuran 0.16 ppm. Hasil ini menunjukkan kadar nitrat di perairan Kabupaten Bangka Barat tergolong jauh lebih tinggi dari kadar normal di perairan (perairan normal berkisar antara 0.01–0.05 ppm).
Parameter kimia lainnya
Hasil pengukuran amonia menunjukkan kandungan yang terlalu tinggi, berkisar antara 0.3-2.09 ppm dengan rerata hasil pengukuran 0.45 ppm.  Tingginya kadar amonia di salah satu stasiun pengukuran diduga disebabkan oleh sisa hasil tambang serta kotoran rumah tangga yang dibuang langsung ke perairan tersebut.
Hasil pengukuran nilai fosfat (PO4) berkisar antara 0.01-2.99 ppm dengan rerata 0.23 ppm. Kadar fosfat yang agak tinggi ini disebabkan letak stasiun pengamatan yang berdekatan dengan pantai yang berasosiasi dengan hutan mangrove atau tumbuhan lain di hutan.
Untuk Alkalinitas berkisar antara 11.83-102.28 ppm dengan rerata 62.84 ppm. Pada umumnya lingkungan mediaa yang baik untuk kehidupan ikan adalah dengan nilai alkalinitas di atas 20 ppm. Sedangkan alkalinitas optimal dalam budidaya ikan intensif adalah 100-150 ppm.
Kecerahan perairan memiliki kisaran antara 0.3-1.2 m dengan rerata 0.7 m. Dengan nilai kecerahan yang cukup besar, dapat meningkatkan kesuburan perairan tersebut. Sedangkan hasil pengukuran mercuri (Hg) menunjukkan konsentrasi yang cukup rendah, yaitu di bawah 0.001 ppm.
Parameter Biologi: hasil identifikasi plankton menunjukkan terdapat sekitar 53 jenis plankton dengan jumlah total 2.270 individu.
Potensi Budidaya Perikanan Laut di Kabupaten Bangka Barat
Potensi Budidaya Perikanan
Desa/ Dusun
Lokasi
Peruntukan
Budidaya
Teknis Budidaya
Perkiraan Luas
(Ha)
Laut 51.290.2 Hektar



Muntok
Tanjung
Pantai tanjung besayap
Kerapu dan Kakap
Karamb jaring apung (KJA)
30.661,4
Tanjung Ular
Pantai tanjung ular
Kerapu dan Kakap
KJA
Selindung
Pantai Bendul
Kerapu dan Kakap
KJA
Belo Laut
Pantai Pait
Kerang Darah
Bagan Tancap
Sukal
Muara Sukal
Kerang Darah
Bagan Tancap
Tanjung
Punai
Pantai Tanjung
Punai
Kerang Darah
Bagan Tancap
Air Limau
Pantai Air Mas
Rajungan
Karamba jaring
Simpang
Teritip
Kundi
Pantai Tanjung
Tadah
Kerang Darah
Bagan Tancap

Air Nyatoh
Pantai Teritip
Rajungan
Karamba, jaring
Simpang Gong
Pantai tungau
Rajungan
Karamba, jaring
Parittiga
Bakit
Pantai Tanjung Ru
Rajungan
Karamba, Jaring
9.396,6
Pulau Nanas
Rumput laut
Tali Panjang
Kelabat
Jebu Laut
Kerapu dan Kakap
KJA
Laut Teluk
Kelabat
Kerapu danKakap
KJA
Cupat
Pantai Cupat
Kerapu dan Kakap
KJA
Teripang
Kurung tancap
Jebus
Teluk Limau
Pantai Pala
Kerapu dan kakap
KJA
6.288,1
Penganak
Pulau Perut
Kerapu dan Kakap
KJA
Ketap
Pulau kemuja
Kerapu dan Kakap
KJA
Sungai Buluh
Pantai Bembang
Rumput laut
Tali Panjang
Rajungan
Karamba, jaring
Kelapa
Pusuk
Teluk Kelabat
Kerang Darah
Bagan Tancap
2.148,1
Teripang
Kurung Tancap
Tempilang
Tanjung Niur
Pantai Tanjung
Niur
Kerang Darah
Bagan Tancap
2.796
Rajungan
Karamba, jaring
Rumput Laut
Tali Panjang
Benteng Kota
Pulau Semubung
Rumput laut
Tali Panjang
Kerapu dan Kakap
KJA
Sinar Surya
Pantai Basun
Kerapu dan Kakap
KJA
Rajungan
Karamba, jaring
(Sumber: Studi Kelayakan Pengembangan Budidaya Air Laut, Payau dan Air Tawar di Kabupaten Bangka Barat, 2011)

Kawasan perairan laut di Kabupaten Bangka Barat memiliki beberapa lokasi yang potensial dikembangkan untuk budidaya laut, terutama pengembangan karamba jaring apung, budidaya rumput laut, budidaya pembesaran kerang darah serta rajungan. Beberapa kawasan berupa teluk dan pulau-pulau kecil merupakan kawasan terlindung yang menjadi syarat utama pemilihan lokasi budidaya, seperti teluk Kelabat, pulau Nanas, Pusuk dan sekitar Muara Sukal. Muara sungai Sukal merupakan tempat yang sangat berpotensi untuk menjadi wilayah budidaya kerang darah, dengan kondisi perairan dan substrat yang baik bagi kerang darah menjadi sebuah daya dukung untuk keberlangsungan kegiatan budidaya.
Pulau Nanas yang terletak di perairan teluk kelabat secara visual sangat cocok menjadi tempat budidaya laut, wilayahnya yang cenderung tertutup dari laut lepas membuat perairan di sekitar pulau Nanas menjadi relatif tenang. Dari pengujian parameter pendukung budidaya ikanpun menunjukkan hasil yang mendukung bahwa pulau Nanas dapat menjadi salah satu tempat untuk budidaya laut. Pulau Nanas cukup baik untuk pengembangan usaha budidaya ikan kerapu ataupun kakap dengan menggunakan karamba jaring apung (KJA).
Potensi budidaya kelautan yang ditawarkan di Pulau Nanas diharapkan mampu mendukung sektor pariwisata di gugusan pulau kecil yang saat ini sedang diteliti potensinya untuk dikembangkan. Pulau nanas selain memiliki keindahan panorama pantai khas dengan pohon kelapa dan pasir putih lembutnya juga airnya masih bening karena tidak ada aktivitas penambangan di daerah itu. Keindahan alamnya masih alami dan asri dimana sangat cocok untuk pariwisata dan budidaya laut seperti pengembangan rumput laut, budidaya ikan dalam karamba, budidaya siput gunggung dan lainnya yang memiliki nilai ekonomi tinggi
Budidaya ikan laut seperti ikan kerapu atau kakap merupakan jenis ikan yang menjadi komoditas unggulan bagi perikanan laut. Budidaya kerapu dan kakap berkembang cukup pesat dalam upaya untuk memenuhi tingginya kebutuhan permintaan baik dalam dan luar negeri. Beberapa jenis ikan kerapu dan kakap yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi antra lain:
  • Kerapu tikus atau kerapu bebek dengan nama komersil grace Kelly (Cromileptis altivellis) merupakan primadona dalam budidaya kerapu, harganya di pasar domestik ditingkat pengecer bisa mencapai 200–300 ribu rupiah perkilogram, sedangkan di pasar mancanegara mencapai U$ 40–50.
  • Kerapu macan (Epinephelus fuscogutatus) dan kerapu lumpur (Epinephelus tauvina), Kerapu jenis ini juga menjadi komoditas yang cukup menjanjikan dimana di pasar domestik saja harga kerapu jenis ini dapat mencapai 90–100 ribu rupiah per kilogram.
  • Kakap putih (Lates calcarifer), jenis ikan kakap ini cukup mudah dibudidayakan dan menjadi komoditas yang cukup menjanjikan.
  • Kakap merah (Epinephelus sp), merupakan jenis ikan laut yang tetap menjadi primadona di masyarakat lokal Indonesia dengan harga yang relatif stabil.
Pembudidaya ikan laut dapat menggunakan budidaya dengan sistem karamba jaring apung (KJA) ataupun membudidayakan ikan laut di tambak. Dimana kedua sistem budidaya tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Untuk menekan biaya, biasanya pembudidaya memilih sistem karamba jaring apung (KJA), karena biaya pembuatan KJA lebih murah dan mudah dibandingkan dengan pembuatan tambak.  Akan tetapi, konsekuensinya, jika menggunakan budidaya sistem KJA, maka pembudidaya melakukan pembersihan karamba secara periodik dari kotoran-kotoran yang biasanya menempel di sekitar karamba. Budidaya laut dengan sistem tidak KJA (tambak) membutuhkan modal dan biaya yang cukup besar. Sehingga sangat dibutuhkan kerjasama dengan investor atau pihak lain untuk mengembangkan sektor budidaya laut ini.
Dengan demikian, Kabupaten Bangka Barat yang memiliki karakteristik wilayah dengan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang cukup besar dimana pemanfaatannya belum optimal, sehingga perlu pengembangan dan pengelolaan yang lebih baik. Para pelaku budidaya yang ada bisa mengembangkan usaha budidaya laut ini secara mandiri, berkelompok ataupun bekerjasama dengan pihak ketiga (investor), agar ke depannya budidaya laut di wilayah ini semakin berkembang dengan optimal dengan tetap memperhatikan kelestarian ekosistem perairan yang ada agar tetap terjaga dengan baik keberadaannya dan termanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan bersama.

Tulisan saya di atas juga di muat di website PusluhKKP:

Minggu, 13 Agustus 2017

Budidaya Lele Dengan Kombinasi Sistem Tertutup dan Bioflock

Untuk efisiensi biaya dalam budidaya lele, telah dicoba dengan solusi budidaya dengan kombinasi sistem tertutup dan bioflok. Budidaya lele dengan sistem air tertutup dan adopsi sistem bioflok sederhana tak hanya mampu menekan biaya pakan, tetapi juga meningkatkan kepadatan tebar dan menurunkan biaya produksi benih.



Menurut Dwi Purnomo, Technical Service Area Banyumas PT Suri Tani Pemuka, kunci dari keberhasilan sistem ini adalah kestabilan pH(keasaman) dan eksistensi bakteri pengurai bahan organik yang sekaligus membentuk flok. “Kalau memilih sistem bakteri, maka tidak lagi boleh ada plankton dalam air, juga sebaliknya. Sebab pembentukan flok akan terganggu dengan adanya plankton dalam air,” tuturnya.


Sayang, karena konstruksi kolam lele yang rata-rata tidak tertutup/tidak beratap maka pada musim hujan kemasukan air hujan sehingga terjadi perubahan komposisi kimiawi maupun biologi air, plankton biasanya akan tumbuh. “Walaupun begitu, sistem ini tetap efektif asal persiapan air pada awal periode pemeliharaan sudah benar,” tegasnya.


Tingkat keamanan close system dan flok pada budidaya lele ini, kata Dwi Purnomo, akan sempurna jika benih yang digunakan hasil pembenihan sendiri. Sebab benih merupakan faktor resiko terbesar pembawa penyakit ke dalam kolam selain air. “Bibit dari luar, apalagi dari pasar yang tidak jelas asal-usul dan riwayat manajemen pembenihannya berisiko besar membawa penyakit,”tandasnya.

Manajemen Air


Menurut Suminto, pelopor budidaya lele dumbo di Pokdakan dan UPR (Unit Perbenihan Rakyat) yang terletak di Mandiraja, Banjarnegara, Jawa Tengah, agar air baru memenuhi syarat untuk budidaya sistem tertutup, harus ditumbuhkan pakan alaminya.


“Pakan alami berupa daphnia. Selain itu juga harus tumbuh bakteri yang nantinya saat budidaya berjalan akan menghasilkan flok. Flok ini juga pakan alami,” terangnya. Flok pada lele ini, meskipun belum serumit dan sebagus pada budidaya udang, menurut pengalaman Suminto cukup untuk menurunkan FCR (konversi pakan) sebesar 0,2 bahkan lebih.
Untuk petakan kolam 3x5x0,5 m3 Suminto memasukkan 10 kg kompos dalam karung ke dalam air kolam. Setelah itu, air diberi larutan campuran probiotik 5 ml/m3 dan tetes tebu (molasses) 200 g/m3. Setelah itu air didiamkan minimal selama 1 pekan, sampai timbul kutu air (daphnia). Daphnia menjadi pakan alami benih yang akan ditebar. “Populasi daphnia biasanya mencapai puncaknya pada umur 15 hari setelah air diolah. Mereka muncul begitu saja,” jelas pembudidaya yang mengantongi banyak sertifikat pelatihan dari Kemnterian Kelautan dan Perinanan ini.


Menurut Suminto, air bekas kolam yang telah dipakai pada budidaya periode sebelumnya, harus melalui perlakuan yang hampir sama agar bisa dipergunakan kembali. Selain untuk menekan risiko akibat residu maupun patogen, juga untuk memulihkan nutrisi alami dan keseimbangan mikroorganisme yang ada didalam air itu. Bedanya, kata Suminto, pada air bekas ini tidak perlu diberi kompos lagi. Sedangkan dosis larutan probiotik dan molasses sama persis.


Suminto menyatakan, selain ditandai munculnya daphnia, air sudah ‘jadi’ dan siap ditebari benih jika air kolam warnanya hitam kecoklatan. Namun jika air diambil dengan gelas tetap terlihat jernih. Begitu ikan/benih ikan dimasukkan ke kolam akan muncul ‘kabluk’ (endapan halus) dari dasar kolam. Kabluk yang sebenarnya adalah tanda flok mulai terbentuk ini akan terus teraduk sesuai dengan pergerakan aktif ikan. “Maka kepadatan kolam dibuat lebih tinggi agar flok ini terus teraduk,” katanya.


Semakin bertambah umur penebaran air akan berubah menjadi coklat kekuningan, dan lama kelamaan akan menjadi kemerahan. “Itu tanda flok sudah jadi,”tegas Minto. Teknis perlakuan air ini bisa untuk pembesaran benih maupun pembesaran lele konsumsi.


Dwi Purnomo menyatakan, selanjutnya untuk menjaga populasi bakteri, dibuat tabung konservasi di dalam kolam. “Intinya supaya ada bagian dari kolam yang tidak terjamah ikan. Di situ akan jadi reservoir bakteri yang dibutuhkan oleh sistem ini,”terangnya. Tabung itu bisa dibuat dari gorong-gorong berdiameter 40 – 50 cm dengan panjang melebihi tinggi air kolam. Tabung diletakkan vertikal dan ujung lubang bagian atas yang berada di atas permukaan air ditutup.

Minggu, 19 Februari 2017

Pembentukan Kelompok Budidaya Pokdakan Bunga Padi di Kec. Muntok Kab. Babar

Penyuluh Perikanan Bantu (PPB) wilayah binaan Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat selama ini telah melakukan pembinaan pada pelaku utama budidaya di Kecamatan Muntok. Di tahun ini 2017 ditempatkan juga penyuluh perikanan PNS di Kecamatan Muntok, sehigga luhkan PNS dan PPB saling bersinergi dan bekerjasama dengan baik dilapangan dalam membina pelaku utama/ pelaku usaha bidang kelautan dan perikanan utamanya di wilbi kami ini.


Pada bulan ini telah terbentuk satu kelompok "Pokdakan" dengan nama Bunga Padi di kelurahan Tanjung Kecamatan Muntok. Semoga dengan adanya kelompok tersebut pelaku dapat saling bertukar informasi ilmu, belajar berorganisasi, saling bekerjasama untuk mengembangkan  dan memajukan usahanya secara bersama-sama agar ke depannya usahanya lebih maju, manfaat dan maslahat.




Setelah pembentukan berita acara pembentukan keelompok, luhkan melakukan monitoring dan pembinaan ke anggota kelompok Bunga Padi, hal ini dilakukan agar bisa diketahui kendala dan hambatan apa saja yang dihadapi pelaku utama budidaya, hasil produksi panen sesuai target atau tidak dan sebagainya. Hal ini menjadi masukan buat luhkan sebagai petuggas lapangan dan jika memungkinkan dapat memberikan masukan/ sharing ilmu kepada pelaku utama budidaya.


  






Rabu, 15 Februari 2017

Pembekalan Akses IPTEK dan Informasi Bagi Penyuluh Perikanan


Pada hari Senin-Selasa, 13-14 Februari 2017 diadakan pembekalan Akses IPTEK dan Informasi bagi Penyuluh Perikanan di Loka Pemeriksaan Penyakit Ikan dan Lingkungan (LP2IL) di Serang Banten. Kegiatan ini diselenggarakan oleh KKP bidang Pusat Pelatihan dan Penyuluhan KP.
Salah satu upaya dalam pemberdayaan masyaraka pelaku utama/ usaha Kelautan dan Perikanan (KP) dilakukan melalui kemudahan akses terhadap inovasi KP yang dihasilkan unit kerja KKP UPT KKP sumber inovasi KP tersebar diberbagai wilayah di Indonesia.
Salah satu kendala yang sering dihadapi pembudidaya ikan/udang yaitu serangan penyakit yang mengurangi keuntungan usaha bahkan sangat merugikan. Penyuluh perikanan berperan penting membantu pelaku utama/usaha dalam identifikasi penyakit, pencegahan dan bahkan penanggulangan penyakit ikan/udang di wilaya kerja masing-masing. Ragam penyakit ikan/udang, pemeriksaan, cara pencegahan dan teknik penanggulangannya serta kesehatan lingkungan perlu dikuasai penyuluh perikanan.


Pemerintah pada tahun 2017 mengalokasikan 110 triliun untuk pemerataan ekonomi dalam bentuk Kredit Usaha Rakat (KUR). Plafon KUR sektor KP sebesar 6 triliun perlu didukung oleh penyuluh perikanan untuk membantu memfasilitasi akses pembiayaan bagi pelaku utama/usaha KP.



Guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan wawasan penyuluh perikanan terhadap upaya pencegahan dan penanggulangan terhadap penyakit ikan/udang dan akses pembiayaan usaha KP, BPSDM KP menginisiasi kegiatan Pembekalan Akses IPTEK dan Informasi agi Penyuluh Perikanan. Selain itu akan disampaikan juga informasi akses pembiayaan usaha KP.



Untuk lebih menyebarluaskan materi pembekalan akses IPTEK dan informasi kepada penyuluh perikanan dan masyarakat KP, pada kegiatan ini akan disiarkan langsung melalui video conference dan fasilitas video streaming dari lokasi kegiatan.


Materi Kegiatan Pembekalan Akses IPTEK dan Informasi Pembiayaan Usaha KP Bagi Penyuluh Perikanan adalah:
-       Anatomi dan Fisiologi Ikan dan Udang
-       Manajemen Kesehatan Ikan dan Lingkungan budidaya
-       Hama Penyakit Ikan dan Udang
-       Diagnosa Klinis dan Pemeriksaan Penyakit secara Sederhana
-       Informasi Akses Pembiayaan Usaha KP
-       Pengambilan Sampel dan Pengukuran Fisik Kualitas Air
-       Pengambilan dan Pengawetan Sampel Ikan yang Sakit
-       Pemeriksaan Mikroskopis Sederhana



Narasumber Kegiatan bimbingan teknis pendampingan kelompok dalam rangka mendukung peningkatan produksi kelautan di Batam tahun 2016 adalah:
-       Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan
-       Kepala Bidang Pemberrdayaan Masyarakat
-       Perekayasa Loka Pemeriksa Penyakit Ikan dan Lingkungan

Rabu, 03 Agustus 2016

PENYULUH PERIKANAN PNS, PPB DAN SWADAYA DI KABUPATEN BANGKA BARAT MENGIKUTI BIMTEK PAKAN PELLET BERBAHAN BAKU LOKAL

Pada Hari Rabu, 3 Agustus 2016 bertempat di Balai Benih Ikan (BBI) Kelapa Kabupaten Bangka Barat diadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) pembuatan pakan mandiri berbahan baku lokal dengan narasumber Bapak Herry, S.Si, M.Si. dari Pokja Pakan BBPBAT Sukabumi yang diselengggarakan oleh DKP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan difasilitasi oleh DKP Kabupaten Bangka Barat.


Adapun peserta yang mengikuti kegiatan bimtek yang mengusung tema “Proses Produksi Pellet Berbahan Baku Lokal” adalah semua penyuluh perikanan PNS, PPB dan swadaya yang ada di wilayah Kabupaten Bangka Barat.


Ketergantungan pembudidaya pada pakan pellet pabrikan yang tinggi serta mengingat harga pakan yang kian hari kian melambung, membuat pakan ikan buatan sendiri merupakan alternatif dan solusi terbaik bai pembudidaya ikan dan hal ini sering menjadi perrtanyaan bagi para pembudidaya ikan yang ada di wilayah kerja para penyuluh perikanan. Sehinga sangat diperlukan sekali pemberian bekal materi mengenai bimtek pembuatan pakan berbahan baku lokal bagi para penyuluh perikanan yang merupakan agen perubahan dan garda pembangunan kelautan dan perikanan.


Pakan ikan yang diproduksi dari bahan baku lokal, biasanya akan menghasilkan kualitas produk yang lebih bagus dibandingkan pakan dengan bahan baku impor. Bahan baku lokal yang dapat digunakan untuk pembuatan pakan ikan antara lain singkong, jagung, tepung ikan, nanas, dedak padi atau gandum, bungkil kedelai, minyak ikan, minyak sawit, cangkang kerang, ikan runcah, mineral serta asam amino. Yang terpenting bahan tersebut mengandung protein, bernutrisi tinggi, mudah diolah dan dihaluskan, tidak mengandung racun, serta mudah diperoleh di daerah tersebut.


Bahan baku lokal seperti singkong, nanas, dedak, ikan runcah, nanas, cangkang kerang sangat mudah didapatkan di daerah Bangka Belitung utamanya di Kabupaten Bangka Barat di desa Sukal Kecamatan Muntok banyak pembudidaya kerang darah yang otomatis menhasilkan cangkang.



Diharapkan dengan diadakannya bimtek tentang pembuatan pakan pellet berbahan baku lokal ini penyuluh perikanan dapat mentransferkan ilmu tersebut kepada pembudidaya-pembudidaya ikan yang ada di wilayah binaannya. Jika pembudidaya dapat membuat pakan mandiri dengan berbahan baku yang ada di sekitarnya dengan tetap memperhatikan formulasi pakannya maka dapat meminimalisir ketergantungan akan pakan impor atau pakan pabrikan yang secara langsung akan mengurangi biaya produksi dalam budidaya ikan serta dapat dikontrol kualitas pakannya yang akhirnya berimbas pada peningkatan hasil produksi.

Minggu, 29 Mei 2016

Sukses Pilot Project Kerapu Cantik di Desa Bakit Kecamatan Parittiga

Ketergantungan masyarakat di Kepulauan Bangka Belitung pada potensi perikanan tangkap yang memiliki keterbatasan dan potensi penambangan timah yang tidak terbarukan, diupayakan untuk diminimalisir dengan pengembangan sektor-sektor lain yang dapat menunjang perekonomian. Salah satu sektor perikanan yang mulai dikembangkan sebagai alternatif  sumber pencaharian masyarakat di kabupaten Bangka Barat adalah budidaya perikanan laut.


Setelah sukses dengan budidaya kerang darah di kecamatan Muntok, Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Bangka Barat menginisiasi pengembangan budidaya perikanan laut berbasis teknologi karamba jaring apung HDPE dengan sistem demplot untuk budidaya ikan kerapu cantik.

Kelompok Bakit Sejahtera di desa Bakit Kecamatan Parittiga menjadi pilot project pengembangan budidaya ikan kerapu cantik di kabupaten Bangka Barat. Pada hari Sabtu, 28 Mei 2016 lalu, kelompok ini telah  berhasil mencapai langkah sukses pertamanya dengan melaksanakan panen partial.Benih ikan kerapu cantik sebanyak 2500 ekor yang ditebar untuk 10 unit KJA pada bulan November 2015 ini mencapai ukuran 400-500 gram per ekor sebanyak 350 kg atau ± 700 ekor ikan kerapu cantik. Panen yang dilakukan oleh kelompok Bakit Sejahtera dengan disaksikan oleh Pejabat Dinas Kelautan Perikanan Kabupaten Bangka Barat dan Karantina ikan serta Perangkat Desa setempat ini langsung di ekspor melalui eksportir di Kijang, Kepulauan Riau.


Keberhasilan ini menciptakan harapan baru pengembangan potensi laut di Bangka Barat. Beberapa kelompok serupa bermunculan untuk ikut serta mengembangkan potensi budidaya laut yang terabaikan selama ini. Pengembangan perikanan budidaya di laut diharapkan memberikan dampak positif pada meningkatnya kepedulian terhadap perairan laut dan menjadi barier pada eksploitasi tambang yang kurang ramah lingkungan. Semoga langkah cemerlang ini menjadi awal yang baik untuk kesejahteraan masyarakat perikanan di masa mendatang.