Tampilkan postingan dengan label laut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label laut. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Agustus 2017

POTENSI PENGEMBANGAN BUDIDAYA AIR LAUT DI WILAYAH KABUPATEN BANGKA BARAT

Kabupaten Bangka Barat merupakan Kabupaten pesisir di pulau utama (mainland) yaitu Pulau Bangka yang terletak pada 105°-107° Bujur Timur dan 01°20’-03°07’ Lintang Selatan, dengan luas wilayah daratan sekitar 2.820,61 Km2 didukung perairan laut seluas 1.690,28 Kmdan pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitarnya.


Kondisi ini menjadikan Kabupaten Bangka Barat memiliki potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang cukup besar utamanya untuk budidaya air laut, air payau dan air tawar dan merupakan usaha strategis dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Bangka Barat. Namun pemanfaatannya belumlah optimal karena keterbatasan sumberdaya manusia yang berkualitas, teknologi, dan permodalan. Kabupaten Bangka Barat terdiri dari 6 Kecamatan yang meliputi 60 Desa dan 4 Kelurahan. Di antara desa-desa tersebut terdapat 32 desa yang merupakan desa-desa yang mempunyai wilayah laut atau bersinggungan/ berdekatan dengan laut/ pantai dan sungai.
Pemanfaatan potensi kelautan dan perikanan tersebut khususnya terhadap potensi kelautan sudah berkembang, yaitu dengan aktifitas penangkapan ikan di laut oleh nelayan. Sedangkan budidaya air laut sampai saat ini belum termanfaatkan. Pemanfaatan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang masih rendah ini disebabkan oleh keterbatasan sarana prasarana yang dimiliki, kemampuan nelayan yang masih rendah, teknologi yang digunakan masih sederhana serta belum adanya pelaku bidang kelautan dan perikanan memanfaatkan teknologi penunjang dalam aktifitasnya.
Sub sektor perikanan khususnya perikanan laut sangat dominan di Kabupaten Bangka Barat mengingat Pulau Bangka dikelilingi oleh lautan yang memiliki sumberdaya laut yang relatif besar untuk dikembangkan. Komoditi yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi seperti ikan kerapu, kakap merah, udang, cumi-cumi, sirip ikan dan lain-lain.
Potensi budidaya air laut sebesar 51.290.2 ha, sementara pemanfaatannya sama sekali belum tersentuh. Adapun yang menjadi kendala selama ini adalah keterbatasan sarana penunjang produksi, penerapan teknologi dan permodalan. Sedangkan dari hasil analisis parameter kualitas lingkungan baik yang dianalisis secara in situ maupun uji laboratorium sebagai faktor pertimbangan dalam menyusun kelayakan budidaya air laut, payau dan air tawar, maka dapat disimpulkan seperti di bawah ini:
Parameter Fisika:
Suhu Perairan: berdasarkan hasil pengukuran suhu secara in situ di kawasan Kabupaten Bangka Barat kisaran suhu yang diperoleh berkisar antara 27–32°C dengan rerata 29°C.
Salinitas: hasil pengukuran in situ salinitas untuk stasiun di laut dan perairan payau berkisar antara 17–32 ppt dengan rerata 26 ppt. Untuk salinitas perairan di Indonesia berkisar antara 30–35 ppt, sedangkan daerah pesisir salinitasnya berkisar antara 32–34 ppt.
Substrat: hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa ada beberapa tipe substrat yang terdapat di Kabupaten Bangka barat adalah berpasir, pasir berliat, pasir berlumpur, pasir berlumpur berliat, liat berlumpur. Substrat dengan tipe pasir berliat sangat baik digunakan untuk kegiatan budidaya ikan dengan wadah budidaya kolam ataupun tambak. Hal ini disebabkan substrat pasir memiliki rongga udara, sehingga pasokan oksigen dari kolom perairan menjadi lancar dan ketersediaan oksigen cukup tinggi.
Parameter Kimia
Derajad Keasaman (pH): dari hasil pengukuran pH didapatkan hasil pH yang masih sesuai dengan pH yang ada di perairan yang normal, yaitu berkisar antara 6–7.
Oksigen Terlarut: pengukuran kadar oksigen terlarut berkisar antara 1.6–7.8 ppm dengan rerata 5.7 ppm. Hasil pengamatan di seluruh stasiun memiliki DO yang cukup baik.
Nitrat (NO3) dan nitrit (NO2): hasil pengukuran nitrat (NO3-N) berkisar antara 0.01–11.14 ppm, sedangkan untuk nitrit (NO2) berkisar antara 0.01-0.75 ppm dengan rerata hasil pengukuran 0.16 ppm. Hasil ini menunjukkan kadar nitrat di perairan Kabupaten Bangka Barat tergolong jauh lebih tinggi dari kadar normal di perairan (perairan normal berkisar antara 0.01–0.05 ppm).
Parameter kimia lainnya
Hasil pengukuran amonia menunjukkan kandungan yang terlalu tinggi, berkisar antara 0.3-2.09 ppm dengan rerata hasil pengukuran 0.45 ppm.  Tingginya kadar amonia di salah satu stasiun pengukuran diduga disebabkan oleh sisa hasil tambang serta kotoran rumah tangga yang dibuang langsung ke perairan tersebut.
Hasil pengukuran nilai fosfat (PO4) berkisar antara 0.01-2.99 ppm dengan rerata 0.23 ppm. Kadar fosfat yang agak tinggi ini disebabkan letak stasiun pengamatan yang berdekatan dengan pantai yang berasosiasi dengan hutan mangrove atau tumbuhan lain di hutan.
Untuk Alkalinitas berkisar antara 11.83-102.28 ppm dengan rerata 62.84 ppm. Pada umumnya lingkungan mediaa yang baik untuk kehidupan ikan adalah dengan nilai alkalinitas di atas 20 ppm. Sedangkan alkalinitas optimal dalam budidaya ikan intensif adalah 100-150 ppm.
Kecerahan perairan memiliki kisaran antara 0.3-1.2 m dengan rerata 0.7 m. Dengan nilai kecerahan yang cukup besar, dapat meningkatkan kesuburan perairan tersebut. Sedangkan hasil pengukuran mercuri (Hg) menunjukkan konsentrasi yang cukup rendah, yaitu di bawah 0.001 ppm.
Parameter Biologi: hasil identifikasi plankton menunjukkan terdapat sekitar 53 jenis plankton dengan jumlah total 2.270 individu.
Potensi Budidaya Perikanan Laut di Kabupaten Bangka Barat
Potensi Budidaya Perikanan
Desa/ Dusun
Lokasi
Peruntukan
Budidaya
Teknis Budidaya
Perkiraan Luas
(Ha)
Laut 51.290.2 Hektar



Muntok
Tanjung
Pantai tanjung besayap
Kerapu dan Kakap
Karamb jaring apung (KJA)
30.661,4
Tanjung Ular
Pantai tanjung ular
Kerapu dan Kakap
KJA
Selindung
Pantai Bendul
Kerapu dan Kakap
KJA
Belo Laut
Pantai Pait
Kerang Darah
Bagan Tancap
Sukal
Muara Sukal
Kerang Darah
Bagan Tancap
Tanjung
Punai
Pantai Tanjung
Punai
Kerang Darah
Bagan Tancap
Air Limau
Pantai Air Mas
Rajungan
Karamba jaring
Simpang
Teritip
Kundi
Pantai Tanjung
Tadah
Kerang Darah
Bagan Tancap

Air Nyatoh
Pantai Teritip
Rajungan
Karamba, jaring
Simpang Gong
Pantai tungau
Rajungan
Karamba, jaring
Parittiga
Bakit
Pantai Tanjung Ru
Rajungan
Karamba, Jaring
9.396,6
Pulau Nanas
Rumput laut
Tali Panjang
Kelabat
Jebu Laut
Kerapu dan Kakap
KJA
Laut Teluk
Kelabat
Kerapu danKakap
KJA
Cupat
Pantai Cupat
Kerapu dan Kakap
KJA
Teripang
Kurung tancap
Jebus
Teluk Limau
Pantai Pala
Kerapu dan kakap
KJA
6.288,1
Penganak
Pulau Perut
Kerapu dan Kakap
KJA
Ketap
Pulau kemuja
Kerapu dan Kakap
KJA
Sungai Buluh
Pantai Bembang
Rumput laut
Tali Panjang
Rajungan
Karamba, jaring
Kelapa
Pusuk
Teluk Kelabat
Kerang Darah
Bagan Tancap
2.148,1
Teripang
Kurung Tancap
Tempilang
Tanjung Niur
Pantai Tanjung
Niur
Kerang Darah
Bagan Tancap
2.796
Rajungan
Karamba, jaring
Rumput Laut
Tali Panjang
Benteng Kota
Pulau Semubung
Rumput laut
Tali Panjang
Kerapu dan Kakap
KJA
Sinar Surya
Pantai Basun
Kerapu dan Kakap
KJA
Rajungan
Karamba, jaring
(Sumber: Studi Kelayakan Pengembangan Budidaya Air Laut, Payau dan Air Tawar di Kabupaten Bangka Barat, 2011)

Kawasan perairan laut di Kabupaten Bangka Barat memiliki beberapa lokasi yang potensial dikembangkan untuk budidaya laut, terutama pengembangan karamba jaring apung, budidaya rumput laut, budidaya pembesaran kerang darah serta rajungan. Beberapa kawasan berupa teluk dan pulau-pulau kecil merupakan kawasan terlindung yang menjadi syarat utama pemilihan lokasi budidaya, seperti teluk Kelabat, pulau Nanas, Pusuk dan sekitar Muara Sukal. Muara sungai Sukal merupakan tempat yang sangat berpotensi untuk menjadi wilayah budidaya kerang darah, dengan kondisi perairan dan substrat yang baik bagi kerang darah menjadi sebuah daya dukung untuk keberlangsungan kegiatan budidaya.
Pulau Nanas yang terletak di perairan teluk kelabat secara visual sangat cocok menjadi tempat budidaya laut, wilayahnya yang cenderung tertutup dari laut lepas membuat perairan di sekitar pulau Nanas menjadi relatif tenang. Dari pengujian parameter pendukung budidaya ikanpun menunjukkan hasil yang mendukung bahwa pulau Nanas dapat menjadi salah satu tempat untuk budidaya laut. Pulau Nanas cukup baik untuk pengembangan usaha budidaya ikan kerapu ataupun kakap dengan menggunakan karamba jaring apung (KJA).
Potensi budidaya kelautan yang ditawarkan di Pulau Nanas diharapkan mampu mendukung sektor pariwisata di gugusan pulau kecil yang saat ini sedang diteliti potensinya untuk dikembangkan. Pulau nanas selain memiliki keindahan panorama pantai khas dengan pohon kelapa dan pasir putih lembutnya juga airnya masih bening karena tidak ada aktivitas penambangan di daerah itu. Keindahan alamnya masih alami dan asri dimana sangat cocok untuk pariwisata dan budidaya laut seperti pengembangan rumput laut, budidaya ikan dalam karamba, budidaya siput gunggung dan lainnya yang memiliki nilai ekonomi tinggi
Budidaya ikan laut seperti ikan kerapu atau kakap merupakan jenis ikan yang menjadi komoditas unggulan bagi perikanan laut. Budidaya kerapu dan kakap berkembang cukup pesat dalam upaya untuk memenuhi tingginya kebutuhan permintaan baik dalam dan luar negeri. Beberapa jenis ikan kerapu dan kakap yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi antra lain:
  • Kerapu tikus atau kerapu bebek dengan nama komersil grace Kelly (Cromileptis altivellis) merupakan primadona dalam budidaya kerapu, harganya di pasar domestik ditingkat pengecer bisa mencapai 200–300 ribu rupiah perkilogram, sedangkan di pasar mancanegara mencapai U$ 40–50.
  • Kerapu macan (Epinephelus fuscogutatus) dan kerapu lumpur (Epinephelus tauvina), Kerapu jenis ini juga menjadi komoditas yang cukup menjanjikan dimana di pasar domestik saja harga kerapu jenis ini dapat mencapai 90–100 ribu rupiah per kilogram.
  • Kakap putih (Lates calcarifer), jenis ikan kakap ini cukup mudah dibudidayakan dan menjadi komoditas yang cukup menjanjikan.
  • Kakap merah (Epinephelus sp), merupakan jenis ikan laut yang tetap menjadi primadona di masyarakat lokal Indonesia dengan harga yang relatif stabil.
Pembudidaya ikan laut dapat menggunakan budidaya dengan sistem karamba jaring apung (KJA) ataupun membudidayakan ikan laut di tambak. Dimana kedua sistem budidaya tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Untuk menekan biaya, biasanya pembudidaya memilih sistem karamba jaring apung (KJA), karena biaya pembuatan KJA lebih murah dan mudah dibandingkan dengan pembuatan tambak.  Akan tetapi, konsekuensinya, jika menggunakan budidaya sistem KJA, maka pembudidaya melakukan pembersihan karamba secara periodik dari kotoran-kotoran yang biasanya menempel di sekitar karamba. Budidaya laut dengan sistem tidak KJA (tambak) membutuhkan modal dan biaya yang cukup besar. Sehingga sangat dibutuhkan kerjasama dengan investor atau pihak lain untuk mengembangkan sektor budidaya laut ini.
Dengan demikian, Kabupaten Bangka Barat yang memiliki karakteristik wilayah dengan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang cukup besar dimana pemanfaatannya belum optimal, sehingga perlu pengembangan dan pengelolaan yang lebih baik. Para pelaku budidaya yang ada bisa mengembangkan usaha budidaya laut ini secara mandiri, berkelompok ataupun bekerjasama dengan pihak ketiga (investor), agar ke depannya budidaya laut di wilayah ini semakin berkembang dengan optimal dengan tetap memperhatikan kelestarian ekosistem perairan yang ada agar tetap terjaga dengan baik keberadaannya dan termanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan bersama.

Tulisan saya di atas juga di muat di website PusluhKKP:

Kamis, 06 April 2017

Hari Nelayan 6 April Yang Terlupakan


 "Nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudra, menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa." Itulah sepenggal lagu anak-anak dengan judul "Nenek Moyangku Orang Pelaut" yang sering kita dengarkan ketika masih bocah. 
Tidak begitu populer dan mungkin tidak semua Warga Negara Indonesia tahu jika tanggal 6 April termasuk di antara hari besar nasional yang ditetapkan di Indonesia. Berdasarkan tahun, maka tepat pada tanggal 6 April 2017 ini adalah peringatan Hari Nelayan Nasional Indonesia yang ke-57.

(foto: dokumentasi pribadi, nelayan di tanjung punai - belo laut)

Nelayan merupakan salah satu mata pencaharian yang mempunyai kontribusi besar kaitannya dalam mata rantai rangkaian ekonomi masyarakat banyak. Sebagai penghargaan atas jasa nelayan, Pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 6 April sebagai Hari Nelayan Nasional. Tetapi, peringatan Hari Nelayan jarang dirayakan secara masif layaknya hari besar nasional lainnya semisal Hari Buruh.

(sumber foto: dokumentasi pribadi, dermaga di Sukal - Belo Laut)

Minimnya pengetahuan masyarakat akan adanya Hari Nelayan Nasional disinyalir menjadi salah satu sebab mengapa hal itu bisa terjadi. Bahkan para nelayan sendiri sebagian besar masih awam dengan Hari Nelayan Nasional. Peringatan Hari Nelayan kini lebih dimaknai pada aspek historisnya, ketimbang keberlanjutan eksistensinya sebagai pemasok protein atau hasil laut serta sumber tumbuh-kembangnya pengetahuan kebaharian.

(sumber foto: dokumentasi pribadi, nelayan di pantai teluk limau sungailiat)

Hari Nelayan Indonesia yang diperingati hari ini, 6 April, bagai menguak riwayat ”urat nadi” negeri bahari ini. Belenggu kemiskinan dan keterbelakangan hingga kini belum beranjak dari kehidupan nelayan. Ketidakpastian penghidupan membuat sebagian nelayan kecil beralih profesi ke sektor informal. Keterbatasan bahan bakar minyak, jeratan utang ke tengkulak, permainan harga jual ikan, dan terbatasnya daya serap industri pengolahan ikan menjadi persoalan klasik yang mendera nelayan hingga hari ini. Kasus penangkapan ikan ilegal di perairan Indonesia oleh nelayan asing, penangkapan ikan dengan alat tangkap yang merusak lingkungan, dan penangkapan ikan yang tidak dilaporkan adalah lingkaran setan yang menggerogoti daya saing nelayan kecil dan tradisional.

(foto: dokumentasi pribadi, dermaga tanjungpura di bangka tengah)

Sungguh ironis, padahal Indonesia merupakan negara maritim yang mana dua per tiga dari seluruh wilayahnya dipenuhi hamparan laut yang begitu luas. Harapannya Pemerintah lebih memperhatikan nasib nelayan untuk ke depannya. Jangan sampai bangsa Indonesia yang lautnya kaya sumber daya alam suatu ketika nanti mengimpor ikan dari negara lain hanya karena sudah tidak ada lagi warga negaranya yang berminat menjadi nelayan.
Upaya nyata menolong nelayan dari jerat kemiskinan adalah membenahi sektor tangkap dari hulu ke hilir. Upaya itu mulai dari perlindungan wilayah tangkap nelayan tradisional agar tidak disusupi nelayan besar yang mengeruk ikan di wilayah tangkapan nelayan kecil. Selain itu, dibutuhkan pembenahan pendataan hasil tangkapan ikan. Hal ini bertujuan agar ikan tidak diselundupkan dan ada jaminan pasokan bahan baku ke industri pengolahan. Di sisi lain, pemerintah perlu mendorong pertumbuhan industri pengolahan di sentra-sentra produksi. Usaha pengolahan tidak hanya di skala kecil menengah berupa ikan bakar dan asap, melainkan juga skala industri besar dengan produk olahan yang lebih bervariasi. Kebijakan penghapusan retribusi perikanan yang memberatkan nelayan harus diwujudkan. Jangan sampai kebijakan itu hanya menjadi wacana di tingkat pemerintah pusat, tetapi minim implementasi di tingkat daerah. Segala keberpihakan pada nelayan itu dibutuhkan jika pemerintah serius menolong nelayan terbebas dari jerat ketertinggalan.
Disisi lain, nelayan memiliki aset berupa tanah, namun tidak mempunyai sertipikat sebagai bukti kepemilikan yang sah. Hal ini mengakibatkan tidak adanya kepastian hukum atas kepemilikan tanah dan letak batas tanah yang jelas, sehingga tanah tersebut tidak mempunyai nilai ekonomi.
Berangkat dari hal tersebut, pemerintah hadir memberikan solusi melalui KKP dengan program Sertipikasi Hak Atas Tanah Nelayan (SeHAT) yang menjamin aset nelayan dapat didayagunakan untuk kebutuhan permodalan bila diperlukan.
Program SeHAT diberikan secara gratis untuk membantu nelayan agar aset tanah yang selama ini tidak dimiliki nelayan mendapat kepastian hukum atas kepemilikan, mempunyai letak batas yang jelas, dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Sehingga, memiliki fungsi untuk peningkatan minat (kepuasan) kepercayaan lembaga keuangan atau perbankan sebagai agunan untuk modal usaha. Bantuan SeHAT merupakan kerjasama dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan KKP, dimana dengan bantuan SeHAT dapat meningkatkan akses nelayan dalam memperoleh modal dari lembaga keuangan atau perbankan.
Nelayan tidak mengalami kesulitan lagi untuk mendapatkan modal usaha. Dengan adanya SeHAT menjadi jaminan agunan untuk meminjam modal di bank. Tahun 2016 kami menargetkan bantu sertipikasi sebanyak 20.000 bidang tanah nelayan. Target sampai dengan tahun 2019 direncanakan sebanyak 90.000 bidang tanah nelayan akan tersertipikasi.
Syarat penerima bantuan SeHAT harus melengkapi beberapa syarat sebagai berikut: (i) Perorangan, Warga Negara Indonesia (WNI), memiliki pekerjaan sebagai nelayan dan/atau istri nelayan; (ii) Memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) sesuai dengan domisili tetap, diprioritaskan yang memiliki Kartu Nelayan (KN), apabila calon peserta belum memliki Kartu Nelayan maka wajib mengajukan permohonan kartu Nelayan; (iii) Memiliki tanah yang belum bersertifikat; (iv) Menunjukkan asli atas hak (bukti kepemilikan tanah) dan menyerahkan fotokopinya; (v) Memiliki bukti pembayaran SPPT / PBB tahun berjalan yang sudah lunas. (vi) Melengkapi dokumen/keterangan tertulis di atas kertas bermeterai cukup, tentang riwayat perolehan tanah dari desa/kelurahan; (vii) Menunjukkan batas-batas bidang tanah yang akan disertifikatkan; (viii) Berdomisili di kecamatan atau berbatasan dengan kecamatan letak tanah pertanian yang akan disertifikatkan; dan (ix) Sanggup membayar Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).
SAM_3007
Program pemerirntah melalui KKP yang lainnya adalah Asuransi nelayan dimana sangat diperlukan karena risiko tinggi pekerjaan nelayan yang mempertaruhkan nyawa setiap mencari nafkah di laut. Gelombang tinggi laut dan cuaca buruk merupakan risiko bahaya yang sehari-hari dihadapi oleh nelayan.
Asuransi nelayan merupakan program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia sesuai dengan diterbitkannya UU No 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan Pembudi Daya Ikan dan Petambak Garam. Dengan mengikuti program asuransi, maka nelayan akan terlindungi dengan memperoleh santunan jika terjadi kecelakaan dan meninggal dunia.
Pemerintah sedang terus berupaya menggejot program asuransi nelayan dengan mengalokasikan dana sebesar 175 miliar rupiah, diperuntukkan kepada para nelayan kecil yang memiliki kapal berkapasitas 5 hingga 10 gros ton (gt). Asuransi nelayan tidak ditujukan buat anak buah kapal (ABK), karena ABK menjadi tanggung jawab perusahaan atau pemilik kapal.
Tahun 2016 silam KKP targetkan memberikan premi asuransi untuk 1 juta nelayan. Namun, pada realisasinya hingga saat ini baru 500.000 nelayan yang mendapatkan asuransi.
KKP telah menjalin mitra kerja sama dengan PT Asuransi Jasindo untuk program Asuransi Nelayan. Premi yang harus dibayar oleh nelayan adalah 175 ribu rupiah per orang per tahun. Biaya premi ini tidak dibebankan kepada nelayan, melainkan ditanggung oleh negara. Jadi, nelayan gratis dalam membuat asuransi nelayan. Untuk mendapatkan asuransi nelayan diperlukan persyaratan sebagai berikut :
  • Memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Suami/Istri, Kartu Keluarga (KK).
  • Mempunyai Kartu Nelayan yang sudah masuk dalam database Direktorat Kenelayanan.
  • Nelayan yang belum pernah mendapatkan bantuan asuransi.
  • Nelayan berusia 17-65 tahun.
  • Memiliki tabungan yang masih aktif.
Adapun jaminan yang ditanggung yaitu, nelayan yang mengalami kecelakaan dan memerlukan biaya pengobatan, mengalami cacat tetap, meninggal dunia karena kecelakaan dalam bekerja, dan nelayan meninggal dunia secara alami.
 Nelayan yang mengalami kecelakaan akibat melakukan aktivitas penangkapan ikan hingga mengakibatkan kematian akan diberikan santunan sebesar 200 juta rupiah, cacat tetap 100 juta dan biaya pengobatan sebesar 20 juta.
 Sedangkan santuan akibat selain melakukan aktivitas penangkapan ikan, kalau terjadi kematian akan diberikan santunan sebesar 160 juta rupiah, cacat tetap 100 juta dan biaya pengobatan 20 juta.
 Klaim asuransi nelayan tanpa waktu lama, diselesaikan tidak lebih dari 2 minggu. Diharapkan santunan yang diterima bisa bermanfaat, digunakan dengan sebaik-baiknya untuk keluarga yang ditinggalkan. Seperti untuk pendidikan anak, memulai usaha maupun hal lainnya yang produktif.
Semua program pemerintah tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejateran nelayan Indonesia dan sudah sepatutnya kita mendukung program tersebut.
Semoga nasib nelayan lebih baik, maju dan sejahtera ke depannya…
Jalesveva Jayamahe…
Selamat Hari Nelayan Nasional

Minggu, 12 Oktober 2014

Pelestarian Terumbu Karang Untuk Keseimbangan Ekosistem Laut

Tulisan saya di bawah ini juga telah dimuat di Koran Bangka Pos kolom Opini Edisi hari Sabtu, 11 Oktober 2014:
Indonesia adalah negara yang mempunyai potensi terumbu karang terbesar di dunia, dimana luas terumbu karangnya diperkirakan mencapai sekitar 60.000 km2. Hal ini menjadikan negara kita memiliki daya tarik yang tinggi bagi penikmat surganya bawah laut dan sebagai negara pengekspor terumbu karang terbesar di dunia.
Terumbu karang adalah ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis-jenis molusca, crustasea, echinodermata, polichaeta dan porifera serta biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya termasuk plankton dan nekton.


Segitiga Terumbu Karang Dunia adalah kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati laut paling kaya di dunia, meliputi laut-laut dari 6 negara di Asia Pasifik, yakni Filipina, Indonesia, Kepulauan Solomon, Malaysia, Papua Nugini, dan Timor Leste. Meskipun demikian, kawasan ini berada dalam ancaman serius dari eksploitasi berlebihan dan kerusakan lingkungan hidup.
Secara umum terumbu karang hanya tumbuh di daerah tropis dan subtropis, oleh karena itu karang memerlukan kondisi tertentu untuk dapat tumbuh dengan baik seperti air yang jernih, dengan suhu antara 23-32 derajat celcius, dengan kedalaman karang hingga 40m. Salinitas yang optimum untuk pertumbuhan karang antara 32 – 36 % dengan pH 7,5 – 8,5.
Terumbu karang sangat sensitif terhadap pengaruh lingkungan baik bersifat fisik maupun kimia. Pengaruh itu dapat mengubah komunitas karang dan menghambat perkembangannya secara keseluruhan.
Hal ini menyebabkan kehidupan dan pertumbuhan terumbu karang sangat dipengaruhi oleh kualitas lingkungan dan perairan yang ada di sekitarnya. Apabila kualitas perairannya baik maka terumbu karang dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, begitupun sebaliknya jika lingkungan sekitarnya mengalami perubahan dan gangguan maka terumbu karang akan mengalami kerusakan.

Manfaat terumbu karang
Secara alami terumbu karang merupakan habitat bagi banyak spesies laut untuk melakukan pemijahan, peneluran, pembesaran anak dan mencari makan terutama bagi sejumlah spesies yang memiliki nilai ekonomis penting. Banyaknya spesies makhluk hidup laut yang dapat ditemukan di terumbu karang menjadikan ekosistem ini sebagai gudang keanekaragaman hayati laut.
Terumbu karang merupakan sumberdaya laut yang sangat penting di Indonesia, yaitu sebagai salah satu sumber pendapatan dan bagian dari hidup nelayan. Sedangkan secara fisik karang melindungl pantal dari degradasi dan abrasi (hempasan ombak).
Manfaat terumbu karang di bidang perikanan adalah sebagai sebagai tempat memijah, mencari makanan, daerah asuhan dari berbagai biota laut dan sebagai sumber plasma nutfah. Sebagai sumber ikan dan makanan laut lainnya yang mengandung protein tinggi. Hasil tangkapan ikan di sekitar terumbu karang menjadi sumber penghasilan bagi nelayan.
Wilayah terumbu karang juga dapat dimanfaatkan untuk tempat wisata bahari seperti memancing, menyelam (snorkeling) yang akan menambah devisa negara. Terumbu karang dengan segala keindahannya dapat dijadikan sarana rekreasi keluarga.


Habitat terumbu karang dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium alam untuk pendidikan dan penelitian. Terumbu karang dapat menjadi sarana yang ideal bagi kegiatan pendidikan untuk mengenal ekosistem pesisir, tumbuhan dan hewan laut. 
Pengelolaan terumbu karang secara lestari sangat penting dalam arti sebagai ekosistem yang sangat produktif sehingga dapat mendukung kehidupan nelayan setempat. Oleh karena itu dilihat dari nilai pentingnya terumbu karang tersebut, maka perlu adanya konservasi dan pengelolaan untuk menjaga dan memelihara ekosistem tersebut dan habitat yang berasosiasi di sekitarnya agar berada dalam kondisi yang baik.

Permasalahan di sekitar terumbu karang
Dewasa ini kerusakan terumbu karang yang terjadi di Indonesia meningkat secara pesat. Kerusakan ini menyebabkan meluasnya tekanan pada ekosistem alami di perairan laut. Pengamatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di 1.135 stasiun hingga tahun 2013 menemukan 30,4% dari 2,5 juta hektar luas karang Indonesia berada dalam kondisi rusak.
Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita ada tindakan yang secara langsung ataupun tidak langsung ikut mencemari air laut yang berdampak pada kehidupan terumbu karang, seperti membuang sampah ke laut dan pantai, membawa pulang atau menyentuh terumbu karang saat menyelam, membuang jangkar pada pesisir pantai secara tidak sengaja akan merusak terumbu karang yang berada di bawahnya, reklamasi pantai, penangkapan ikan dengan cara yang salah seperti pemakaian bom ikan, potas atau racun.
Sektor pertambangan dan perkebunan yang kemudian sangat berpotensi untuk mengancam ekosistem terumbu karang, mangrove dan padang lamun. Penggunaan pupuk dan pestisida buatan di bidang perkebunan yang pada akhirnya terbuang ke laut, kiriman-kiriman sedimentasi akibat pembukaan lahan perkebunan dan pertambangan melalui sungai-sungai dan bermuara ke laut. Lumpur-lumpur sedimentasi membuat air laut menjadi keruh, mengurangi kebutuhan cahaya bagi terumbu karang, mempengaruhi biota yang hidup di ekosistem mangrove dan padang lamun sehingga menjadi terancam kehidupannya.
Kerusakan terumbu karang pada dasarnya dapat disebabkan oleh faktor fisik, biologi dan karena aktivitas manusia. Faktor fisik umumnya bersifat alami seperti perubahan suhu, dan adanya badai. Faktor biologis seperti adanya pemangsaan oleh biota yang berasosiasi dengan terumbu karang seperti Bulu Seribu (Acanthaster olanci). Sedangkan aktivitas manusia dapat berupa sedimentasi yang berasal dari penebangan hutan, aktifitas perkebunan dan pertambangan, penangkapan ikan berlebihan, pembangunan fasilitas di sekitar pantai, reklamasi, buangan minyak, limbah rumah tangga maupun limbah industri di sekitar pantai.

Mari sayangilah terumbu karang mulai dari sekarang
Hal itulah yang mendasari pemerintah melaui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sangat antusias menyambut dan berperan serta pada pertemuan global pertama di dunia terkait pengelolaan terumbu karang, World Coral Reef Conference (WCRC) pada tanggal 14–17 Mei 2014 di Manado.
Pertemuan WCRC dihadiri 200 peserta dari 100 negara yang mewakili unsur pemerintah, organisasi regional dan internasional, NGO serta akademisi. Hadir pula pada pertemuan itu yaitu Dewan Menteri Segitiga Terumbu Karang (CT-COM) yaitu Indonesia, Malaysia, Papua New Guinea, Filipina, Kepulauan Solomon dan Timor Leste.
Ke-enam negara ini adalah anggota Coral Triangle Initiative on Coral Reefss, Fisheries and Food Security (CTI-CFF) atau Prakarsa Segitiga Terumbu Karang untuk Terumbu Karang, Perikanan dan Ketahanan Pangan, yaitu sebuah kerjasama multilateral yang dibentuk pada tahun 2009 untuk menanggulangi ancaman terhadap sumberdaya pesisir dan laut di wilayah yang dianggap sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Diharapkan dari pertemuan tersebut akan didapatkan kerjasama yang nyata dari negara-negara tersebut dalam mengatasi dan menjaga kelestarian terumbu karang.
Pengelolaan terumbu karang sebagai sebuah lingkungan hidup atau ekosistem diatur dalam Undang-Undang Lingkungan Hidup No. 23 Tahun 1997 ditetapkan bahwa setiap orang secara pasif wajib mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan; dan secara aktif wajib memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup.
Undang-Undang ini mengarahkan agar semua kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh setiap orang agar selalu mengacu pada fungsi lingkungan yaitu daya dukung dan daya tampung lingkungan, serta tidak melampauinya. Sebagai contoh kegiatan penangkapan ikan seharusnya tidak menyebabkan populasi ikan menjadi turun dan tidak mencukupi untuk kehidupan di masa datang.  Batas-batas fungsi lingkungan itu mengacu kemudian pada baku mutu lingkungan. Untuk biota di terumbu karang misalnya ada Baku Mutu Air laut untuk biota laut dan Kriteria Baku suatu terumbu karang dikategorikan rusak.
            Undang-Undang Perikanan No.31 Tahun 2004 telah menetapkan berbagai upaya dalam menjaga keberlanjutan sumberdaya perikanan. Terumbu karang adalah salah satu sumberdaya perikanan di Indonesia. Undang-Undang ini menetapkan bahwa setiap orang memiliki kewajiban untuk mencegah terjadinya pencemaran dan atau pengrusakkan terhadap sumberdaya perikanan serta lingkungannya.
Agar terlaksana upaya tersebut di atas, diterapkan sanksi apabila terjadi pelanggaran. Misalnya bila secara sengaja melakukan penangkapan ikan menggunakan bahan peledak, bahan kimia, bahan biologis atau dengan cara-cara yang merusak. Penegakan hukum secara tegas harus diterapkan terhadap perusak terumbu karang.
Oleh karena Undang-Undang Perikanan tidak secara khusus mengatur tentang pengelolaan terumbu karang, maka diterbitkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 38/Men/2004 tentang Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu Karang. Dengan berpegang pada pedoman ini diharapkan pengelolaan terumbu karang dilakukan secara seimbang antara pemanfaatan dan pelestarian.
Beberapa upaya yang telah dilakukan oleh berbagai pihak dalam melestarian maupun merehabilitasi terumbu karang seperti, pembentukan taman nasional laut sebagai kawasan konservasi, untuk mengatur pemanfaatan sumberdaya alam yang ada.  Contohnya Taman Nasional Laut Bunaken, Taman Nasional Laut Wakatobi, dan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu.
Upaya rehabilitasi terumbu karang melalui perlindungan area terumbu karang yang rusak untuk upaya pemulihan.  Suatu area terumbu karang yang mengalami kerusakan namun masih berpotensi untuk dipulihkan, maka dilakukan upaya perlindungan dengan menutup area itu sementara dari aktivitas perikanan agar pulih kembali.
Kegiatan pendidikan, pelatihan, kampanye, maupun penyadaran kepada berbagai pihak tentang pentingnya melestarikan ekosistem pesisir, juga menjadi bagian dari upaya pelestarian terumbu karang.


Hal apa saja yang dapat kita lakukan untuk melestarikan terumbu karang, yaitu jangan membeli souvenir atau barang-barang yang terbuat dari karang atau makhluk laut lainnya seperti karang yang dikeringkan, ikan buntal yang diawetkan, kerang-kerang besar, dll. Jangan menyentuh dan berdiri di atas karang serta mengambil karang saat kita melakukan penyelaman (snorkeling), tidak membuang sampah yang dapat mencemari pantai/ laut, tidak memakai karang batu di dalam akuarium laut, mendukung kegiatan yang berkaitan dengan penyelamatan terumbu karang, melaporkan kepada pihak yang berwajib jika ada kegiatan/ aktifitas yang telah merusak lingkungan tempat hidup terumbu karang,  jika memungkinkan bergabung dengan kelompok yang bergerak di bidang lingkungan hidup.

Ternyata terumbu karang banyak sekali manfaatnya dan sudah sepatutnya kita  bangga menjadi warga negara Indonesia karena sebagian besar wilayahnya terdiri dari perairan yang pastinya terdapat kekayaan laut di dalamnya. Oleh karena itu sudah seharusnya peduli terhadap lingkungan dan melestarikan kekayaan yang dimiliki oleh negara kita. Maka dari itu sayangilah terumbu karang mulai dari sekarang, demi keseimbangan ekosistem perairan laut dan demi anak cucu kita nantinya.

Sabtu, 02 November 2013

Budidaya Udang Vanname

Pemilihan Lokasi

Salah  satu  factor  penentu  keberhasilan  budidaya  udang  adalah  pemilihan lokasi.  Lahan  budidaya  selanjutnya  akan  berpengaru  terhadap  tata  letak  dan konstruksi  kolam  yang  akan  dibuat.  Lokasi  untuk  mendirikan  lahan  budidaya  udang ditentukan setelah dilakukan studi dan analisis terhadap data atau informasi tentang topografi tanah, pengairan, ekosistem (hubungan antara flora dan fauna), dan iklim.


Usaha  budidaya  yang  ditunjang  dengan  data  tersebut  mememungkinkan  dibuat desain  dan  rekayasa  perkolaman yang  mengarah  kepola  pengelolaan  budidaya udang yang baik. Lokasi  tambak  budidaya  udang  vaname  yang  dipilih  mempunyai  persyaratan  antara lain:
  • Lahan  mendapatkan  air  pasang  surut  air  laut.  Tinggi  pasang  surut  yang  ideal adalah  1,5-2,5  meter. lokasi  yang  pasang  surutnya  rendah  dibawah  1  m, maka pengelolaan air menggunakan pompa.
  • Tersedianya air tawar. Pada musim kemarau salinitas dapat naik terus apalgi jika budidaya  udang  dilakukan  secara intensif  dengan  system  tertutup  sehingga  air tawar diperlukan untuk menurunkan salinitas.
  • Lokasi  yang  cocok  untuk  budidaya  udang  pada  pantai  dengan  tanah  yang mempunyai tanah bertekstur liat atau liat berpasir.
  • Lokasi  ideal  terdapat  jalur  hijau  (green  belt)  yang  ditumbuhi  hutan mangrove/bakau dengan panjang minimal 100 m dari garis pantai.
  • Keadaan  social  ekonomi  mendukung  untuk kegiatan  budidaya  udang,  seperti: keamanan  kondusif,  asset  jalan  cukup  baik,  lokasi  mudah  mendapatkan  sarana produksi seperti pakan, kapur, obat obatan dan lain-lain.
Pengolahan Lahan Tanah
  • Pengangkatan lumpur. Setiap budidaya pasti meninggalkan sisa budidaya yang berupa lumpur organik dari sisa pakan, kotoran udang dan dari udang yang mati. Kotoran tersebut harus dikeluarkan karena bersifat racun yang membahayakan  udang. Pengeluaran lumpur dapat dilakukan dengan cara mekanis menggunakan cangkul atau penyedotan dengan pompa air/alkon.
  • Pembalikan Tanah. Tanah di dasar tambak perlu dibalik dengan cara dibajak atau dicangkul untuk membebaskan gas-gas beracun (H2S dan Amoniak) yang terikat pada pertikel tanah, untuk menggemburkan tanah dan membunuh bibit panyakit karena terkena sinar matahari/ultra violet.
  • Pengapuran. Bertujuan untuk menetralkan keasaman tanah dan membunuh bibit-bibit penyakit. Dilakukan dengan kapur Zeolit dan Dolomit dengan dosis masing-masing 1 ton/ha. Pengeringan. Setelah tanah dikapur, biarkan hingga tanah menjadi kering dan pecah-pecah, untuk membunuh bibit penyakit.
  • Pemupukan. Pemupukan adalah proses pemberian nutrisi atau hara ke dalam petakan kolam untuk menumbuhkan pakan alami. Pupuk dapat dilakukan pada saat pengolahan lahan, yaitu dengan memberikan pupuk dasar dan dapat juga untuk pemupukan air.
  • Tujuan pengolahan tanah adalah: Mengoksidasi tanah dengan oksigen dari udara; Menghilangkan gas-gas beracun setelah pemeliharaan; Menambah suplai O2 pada bakteri aerob untuk merombak dan menguraikan bahan organic melaui proses nitrifikasi; Memutus siklus penyakit, dan Memperbaiki tekstur tanah.
Pengisian Air

Pengisian  air  dilakukan  dapat  dilakukan  menggunakan  pompa  atau  dengan menggunakan energi gravitasi (beda tinggi air di tandon dengan petakan tambak), air  yang  digunakan  adalah  air  yang  sudah  diendapkan  kurang  lebih  3-7  hari dipetakan  tandon,  sehingga  partikel  terlarut  sudah  mengendap  didasar  tandon dan tidak ikut masuk ke petakan tambak yang akan diisi air.

Jika  menggunakan  pompa  untuk  mengisi  air,  maka  letak  dasar  pompa diusahakan  tidak  menyentuh  dasar  tandon,  sehingga  partikel  yang  mengendap tidak  tersedot  pompa.  Bagian  ujung  paralon  diberi  saringgan  tiga  lapis,  pertama saringan  paralon  yang  berlubang  dengan  diameter  0,5  cm,  saringan lapis  kedua di buat dari waring dengan diameter 0.2 mm dan saringan lapis ketiga dibuat dari waring dengan diameter 0,1 mm, sehingga kotoran yang mungkin tersedot pompa dapat tersaring dan tidak masuk petakan tambak.

Jika  menggunakan  pompa  untuk  mengisi  air,  maka  letak  dasar  pompa diusahakan  tidak menyentuh  dasar  tandon,  sehingga  partikel  yang  mengendap  tidak  tersedot  pompa.  Bagian  ujung  paralon  diberi  saringgan  tiga  lapis,  pertama saringan  paralon  yang  berlubang  dengan  diameter  0,5  cm,  saringan lapis  kedua di buat dari waring dengan diameter 0.2 mm dan saringan lapis ketiga dibuat dari waring dengan diameter 0,1 mm, sehingga kotoran yang mungkin tersedot pompa dapat tersaring dan tidak masuk petakan tambak.

Penebaran Benur

Data jumlah  benur  yang  ditebar  dapat  diperoleh  dari  jumlah  benur  disetiap kantong  benur  dikalikan  jumlah  kantong  benur,  tetapi  data  ini  kurang  akurat  karena memungkinkan terjadinya kematian benur saat transportasi, sehingga perlu dilakukan perhitungan  kembali  setelah  benur  ditebar  ditambak,  sehingga  data  yang  diperoleh lebih akurat untuk acuan menentukan jumlah pakan.

Pengelolaan Pakan Dan  Air Media Pemeliharaan

1.  Pengelolaan Pakan

  a.  Menentukan kebutuhan pakan selama masa pemeliharaan. Langkah-langkah  menentukan  kebutuhan  pakan  selama  masa  pemeliharaan dapat diketahui dengan cara :
  • Menentukan Food Conversation Rate (FCR), FCR diupayakan antara 1 – 1.5
  • Menentukan size panen dan target biomasa
  • Menentuntukan Survival Rate (SR) panen 
Contoh perhitungan :
Jumlah tebar 100.000 ekor, Ditentukan FCR panen 1.3,  Perkiraan size udang ketika panen 60 ekor per kg, Perkiraan SR panen 87 %,   Setelah mempelajari materi IV penyuluhan ini pelaku utama dan atau pelaku usaha/penyuluh  perikanan  dapat  memahami  dan  menjelaskan    cara pengelolaan  pakan  dan  air  media  pemeliharaan  pada  budidaya  udang vaname dengan baik dan benar.
Maka diperoleh kebutuhan pakan sebagai berikut :

SR 87 %      = Jumlah tebar x 0.87 = 100.000 ekor x 0.87 = 87.000 ekor

Hasil panen  = SR panen (ekor) / Size udang   (ekor/kg)
                 = 87.000 (ekor) / 60 (ekor/kg)
                 = 1.450 kg

Jumlah pakan = Hasil panen x FCR
                   = 1.450 (kg) x 1.3
                   = 1.885 kg
Maka  diperoleh  jumlah  pakan  yang  diperlukan  selama  proses  budidaya  udang sebanyak 1.885 kg.

b.  Teknik pemberian pakan
Acuan  Pemberian  pakan  udang  adalah  memberikan  pakan  secara  cukup sesuai  kebutuhan  nutrisi udang  dan  jumlah  yang  dibutuhkan,  secara  garis  besar teknik penentuan dosis pakan yang diberikan dibagi menjadi dua metode penentuan dosis pakan. 
Blind feeding
Metode  blind  feeding  maksudnya  adalah  menentukan  dosis  pakan  udang  dengan memperkirakan  dosis  yang  diperlukan  tanpa  melakukan  sampling  berat  udang. Penentuan pakan yang dibutuhkan selama 1 bulan diperoleh dengan menghitung 5 – 9 % dari total pakan selama prose pemeliharaan, kemudian hasilnya menjadi acuan total pakan selama 1 bulan. 
Selain  dengan  menentukan  prosentase  5 –  9  %  dari  total  pakan,  dapat  juga mengunakan  metode  memperkirakan  berat  udang  yang  akan  dicapai  selama  masa pemeliharaan  1  bulan,  dikalikan  dengan  persentase Survival  Rate  selama  masa pemeliharaan  1  bulan,  dan  dikalikan FCR    di  bulan  pertama  (30  hari),  di  bulan pertama FCR nya masih 1.  Sehingga akan diketahui total kebutuhan pakan selama satu  bulan  dan  kemudian  jumlah  pakan  yang  diperolah  dijadikan  acuan  total  pakan selama 1 bulan. Setelah mengetahui total pakan selama 1 bulan berikutnya dilakukan pembagian  pakan  setiap  harinya (feed  per  day),  seiring  dengan  berjalannya  proses pemeliharaan udang,  juga  dilakukan  pemantauan  laju  pertumbuhan  udang  untuk mengetahui  tingkat  efektifitas jumlah  pakan yang  diberikan,  sehingga feed  per  hari dapat disesuaikan. 

Sampling Biomass

Sampling  untuk  mengetahui  biomassa  udang  dapat  dilakukan  ketika  udang  telah berumur 30 hari dengan frekuensi 7 hari sekali. alat yang disarankan untuk sampling adalah jala tebar dengan ukuranmess size disesuaikan dengan besar udang. Waktu Sampling  pada pagi atau sore hari, agar udang tidak mengalami tingkat stress yangtinggi,  penentuan  titik  sampling  disesuaikan  dengan  luasan  tambak, jumlah  titik sampling 2 – 4 titik, titik lokasi sampling berada di sekitar kincir dan di wilayah antar kincir. Lebih jelas dapat dilihat pada gambar berikut :

Langkah – langkah sampling jala antara lain :
  • Waktu sampling jala dilakukan pada pagi atau sore hari.
  • Sampling jala dilakukan sebelum jam pakan, agar sebaran udang merata.
  • Peralatan sampling yang digunakan harus disterilkan terlebih dahulu,
  • Selama sampling kincir dimatikan agar sebaran udang ditambak lebih merata.
  • Udang yang telah disampling tidak dikembalikan ke tambak.
  • Jika  akan  melakukan  sampling  ditambak  lain,  peralatan  sampling  terlebih  dahulu disterilkan, untuk mengantisipasi masuknya patoghen.
Contoh perhitungan sampling menggunakan jala tebar Di ketahui: 
Luasan tambak                          = 1000 m²
Jumlah tebar                             = 100.000 ekor (atau 100 ekor/ meter)
Luas jala                                  = 3 meter (rumus luas lingkaran µr²)
Rata-rata bukan jala                  = rata 75 %
Rata-rata  ditiap titik sampling     = 210 ekor
Berat rata-rata                         = 3 gram/ekor
Dosis pakan                              = 4 %    

Perhitungan :
1.  Mencari rata-rata luasan tebaran jala :
= Rata-rata bukaan jala x Luas jala 
= 0.75 x 3 m
= 2.25 m2

2.  Menghitung rata-rata padat tebar per meter :
= Rata-rata jumlah udang yang tertangkap ditiap titik sampling / bukaan jala (m)
= 210 ekor / 2.25 m²
= 93 ekor/ m²

3.  Menghitung Polulasi 
= Rata-rata per meter x luas tambak
= 93 ekor/ m² x 1000 m²
= 93.000 ekor

4.  Menghitung Survival  Rate
= Populasi/ jumlah tebar  x 100 %

= 93.000 ekor / 100.000 ekor x 100 %
= 93 %

5.  Menghitung Biomassa
= Rata-rata berat udang x Populasi sekarang
= 3 gram x 93.000 ekor
= 279.000 gram
= 279 kg

6.  Menentukan dosis pakan 
= Biomassa x dosis pakan
= 279 kg x 0.04
= 11.2 kg

Sehingga  diperoleh  jumlah  pakan  per  hari  yang  diberikan  selama  7  hari  kedepan sebanyak 11.2 kg.

c.  Penyimpanan Pakan 
Prinsip  dasar  penyimpanan  pakan  adalah  mampu  mempertahankan  kualitas
pakan selama proses budidaya berlangsung, pakan di tumpuk maksimal 6 tumpukan,
bagian  dasar  di  beri  alas  agar  sirkulasi  udara  lancar.  Gudang  pakan  diberi  fentilasi,
dan  penyusunan  tumpukan  pakan  disesuaikan  dengan  nomor  pakan  yang  terkecil
sehingga  tidak  merepotkan  dalam  pengambilan  pakan  atau  sering  menggunakan
istilah  “ FIFO” (First In First Out).
                                                   
 2.  Pengelolaan Air Media Pemeliharaan
a.  Aplikasi Probiotik
Latar  belakang  pemberian  probiotik  ditambak  udang  intensif  adalah  adanya keseimbangan lingkungan  yang  telah  terganggu,  ditimbulkan  karena  padat  tebar  yang tinggi  sehingga  feses yang  dihasilkan  meningkat,  banyaknya  sisa  pakan  dan  plankton yang  mati,  kondisi  ini menyebabkan  bakteri  pengurai  dari  alam  tidak  mampumenguraikan,  bila  kondisi  ini  dibiarkan  akan  merusak  kwalitas  air  serta  menyebabkan timbulnya penyakit.  
Probiotik  adalah  mikroorganisme  yang  dikembangkan  dan  diaplikasikan  melalui pakan  maupun  lingkungan  yang  bertujuan  memperkuat  daya  tahan  tubuh  udang  dan atau  memperbaiki  kualitas air  tambak.  Probiotik  ini  bersifat  non  patogenik  dan dikembangkan secara masal pada media kultur sesuai dengan tujuannya. Jenis mikroba ini  berkembang  dan  menghasilkan  endo  dan  ekto-enzyme yang  berfungsi  merombak senyawa  beracun  dan  bahan  organik.  Penggunaan  probiotik  bermutu  baik,  yang  diikuti dengan  cara  budidaya  yang  benar,  akan  dapat  membantu  penguraian  timbunan  bahan organik  di  dasar  tambak,  menstabilkan  kualitas  air  tambak,  menjaga  kesehatan  udang dan diharapkan hasil panen yang sesuai. 

Untuk menjaga kesehatan udang perlu dilakukan tindakan sebagai berikut :
-  Mengurangi endapan organik secara cepat pada masa pemeliharaan.
-  Mengurangi gas beracun H2S, NH3, NO

sampai batas ambang yang diizinkan.
-  Mengatur pertumbuhan plankton yang diinginkan udang dengan menyediakan unsur
hara yang sesuai.  

b.  Jenis Bakteri 
Prinsip dasar pemilihan jenis bakteri yang dipakai untuk aplikasi di tambak adalah jenis  bakteri  pengurai  ammoniak,  antara  lain  : Bacillus  coagulans,  Bacillus  megateriun, Bacillus  plymyxsa,  Bacillus  flurenzi,    Pseudomona:s  aurogeunosa. Dan  Pengurai  Nitrit antara  lain: Nitrosomonas  sp.,  Nitrosobacter  sp.,  Nitrosococcus  sp., (H2S)  antara  lain: Desulfucoccus sp., Desulfotovibrio sp.
Beberapa jenis bakteri dapat hidup pada toleransi kisran pH yang berbeda, secara rinci
dapat dilihat pada table di bawah ini :
Table 4. berbagai jenis bakteri pengurai di tambak
Jenis bakteri   PH
B. subtilis   5,0 – 8,0
B. cereus   4,3 – 5,6
B. brevis  8,0 – 8,6
s. licheniformis   5,0 – 6,5
B. megaterium   4,5 – 6,8
B. polymyxsa  >5,5
B. maserans  5,0 – 6,0
B. sphaericus   >6,0
B. pasteurii  −
B. pumilis   5,0 – 8,0
B. stearothermofilus  4,8 – 5,8
B. coagulans   4,2 – 4,8

c.  Pergantian Air Media
Kualitas  air  tambak  sangat  menentukan  kesehatan  dan  pertumbuhan  udang, ketika  umur  udang  telah  mencapai  20  hari,  biasanya  mulai  adanya  plankton  mati  dan mengumpul disalah satu pojok tambak, dan ketika umur 40 hari kondisi air tambak telah jenuh  akibat  banyaknya  plankton  mati,  sisa  pakan  dan  bahan  organic,  sehinggamenyebabkan  kualitas  air  tambak  mulai  menurun  yang  mengakibatkan  udang  jarang melakukanm  pergantian  kulit (moulting)  akibatnya  pertumbuhan  udang  terhambat. Jumlah  air  yang  diganti  berkisar  antara  5 –  20  %  tergantung  tingkat  kejenuhan  air tambak.  Waktu  pergantian  dilakukan  pada  pagi  atau  sore  hari  ,  jika  pada  saat tersebut ada jadwal  pakan  maka  pergantian  air  dilakukan  satu  jam  setelah  pemberian  pakan, kegiatan  ini  untuk  menghindari  tingkat  stress  yang  tinggi.  Alat  yang  dipakai  untuk pergantian air dapat menggunakan pompa submersible atau dengan system manual. 


d.  Penyiphonan
Masa  pemeliharaan  setelah  mencapai  umur  45  hari,  biasanya  ditemukan endapan lumpur hitam dan berbau. Lokasi mengumpulnya endapan hitam ini tergantung pada  letak  kincir  karena  letak  kincir  menentukan  arus  air  tambak  yang  mempengaruhi letak mengumpulnya endapan. Jika kincir dipasang besilangan pada sudut uang berbedamaka biasanya endapan lumpur hitam akan mengumpul di bagiantengah tambak, sudut tambak yang berarus kecil, di belakang kincir. Lumpur hitam ini berasal dari sisa pakan yang tidak termakan oleh udang, akibat dari  plankton  mati  dan  hasil  buangan  udang.  Karena  kuantitas  yang  banyak  sehingga kemampuan  bakteri  pengurai  terbatas,  yang  mengakibatkan  lumpur  hitam  berbau menyengat,  keadaan  ini  sangat  membahayakan  udang,  karena  jika  teraduk  diperairan akan menyebabkan racun terhadap udang, sehingga keadaan ini harus dihindari dengan cara  membuang  endapan  lumpur  tersebut  dengan  melakukan  siphon,  alat  siphon  yang dapat digunakan antara lain dengan pompa alcon 2 inch, dengan pompa submersible 2 inch  atau  jika  kondisi  tambak  lebih  tinggi  dibanding  dengan  saluran  pembuangan  maka bisa dilakukan dengan teknik gravitasi. Penyiponan  pada  kolam  yang  berada  di  bawah  rata-rata  permukaan  laut  maka digunakan pompa alcon. Pompa alcon diletakan diatas pematang, kemudian bagian inletdisambung  dengan  selang  spiral,  sehingga  panjang  selang  spiral  disesuaikan  dengan lokasi mengumpulnya lumpur.

e.  Pembuangan Plankton Mati
Pembuangan plankton mati mulai ditemukan setelah udang berumur kurang lebih 20 hari, tetapi jumlahnya plankton yang mati masih relatif sedikit. Pada saat umur udang telah  mencapai  umur  30  hari merupakan  puncak  ditemukan  adanya  plankton  mati, disebabkan pertumbuhan plankton yang terus membaik karena ketersediaan unsur hara dari  pakan  sekaligus  menjadi  pupuk  bagi  plankton,  kondisi  banyaknya  plankton  mati dalam  jumlah  banyak  harus  dibuang  keluar  dari  tambak,  karena  akan  menyebabkan kualitas air tambak menurun. Solusi dari terjadinya plankton mati dapat melakukan pengenceran air di tambak dengan  menambahkan  air  tawar  tiap  tiga  hari  sekali,  jumlah  volume  air  yang ditambahkan  disesuaikan  dengan  kondisi  air  tambak,  biasanya  sekitar  15 – 20  m³, hingga  mencapai  umur  40  hari.  Kemudian  setelah  umur  40  hari  dapat  dilakukan pergantian  air  setiap  7  hari  sekali.  Solusi  pergantian  air  ini  ternyata  lebih  efektif  untuk mengurangi adanya plankton mati.


f.  Parameter Kualitas Air
Untuk  perkembangan  dan  tingkat  kelangsungan  hidup  (sintasan --- SR)  udang yang  dipelihara  parameter  kualitas  air  media  harus  berada  pada  kondisi  yang  optimal. Demikian  pula  pada kegiatan  ujicoba  ini  dilakukan  monitoring  dan  pengamatan parameter kualitas air media. Pengamatan parameter kualitas air yang dilakukan selamaujicoba  berlangsung  adalah  pH,  oksigen  terlarut,  nitrat,  ammonia,  bahan  organik,  suhu,
salinitas, dan nitrit

Suhu 
Salah  satu  faktor  pembatas  yang  cukup  nyata  dalam  kehidupan  udang  ditambak adalah suhu air media pemeliharaan. Seringkali  didapatkan  udang mengalami  stres dan  bahkan mati disebabkan oleh perubahan suhu  dengan rentang perbedaan yang tinggi.  Keadaan  seperti  ini  sering  terjadi  pada  tambak  dengan  kedalaman  kurangdari  satu meter. Sebagai contoh musim kemarau dan perbedaan suhu yang sangat mencolok  antara  siang  dan  malam  hari.  Berdasarkan  hasil  penelitian  para  ahli, terbukti  bahwa  pada  suhu  rendah  metabolisme  udang  menjadi  rendah  dan  secara  nyata berpengaruh  terhadap  nafsu  makan  udang  (Byod,  1989).  Sedangkan  nilaisuhu  optimal  bagi  pertumbuhan  dan  perkembangan  udang  vaname  berkisar  antara 28,0 – 31,5 oC Salinitas 

Salinitas  (kadar  garam)  air  media  pemeliharaan  pada  umumnya  berpengaruh tehadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup udang (Anonim, 1985). Udang  vaname  dapat tumbuh dan berkembang pada kisaran salinatas 15 – 25 ppt (Anonim, 1985 dan Ahmad, 1991), bahkan jenis udang windu mempunyai toleransi cukup luas yaitu  antara  0 – 50  ppt.  Namun  apabila  salinitas  di  bawah  5  ppt  dan  di  atas  30  ppt biasanya  pertumbuhan  udang  windu  relatif  lambat,  hal  ini  terkait  dengan  proses osmoregulasi dimana akan mengalami gangguan  terutama pada saat udang sedang
ganti kulit dan proses metabolisme. 

pH
Tingkat  kesaman  (pH)  tanah  banyak  dipengaruhi  oleh  beberapa  faktor pembentuknya,  antara  lain  bahan  organik  dan  berbagai  jenis  organisme  air  yang mengalami  pembusukan,  logam  berat  (besi,  timah  dan  bouksit,  dll).  Biasanya  pH  tanah  dasar  tambak  yang  rendah  diikuti  tingginya  kandungan  bahan  organik  tanah yang  terakumulasi  dan  tidak  terjadi  oksidasi  yang  sempurna  (Anonim,  1985).  pH tanah yang rendah cenderung dipengaruhi oleh kandungan logam berat seperti besi, timah dan logam lainnya. pH tanah yang optimal untuk kegiatan budidaya udang dan
ikan berkisar antara 6,5 – 8,0 (Boyd, 1992).

Oksigen terlarut
Jumlah kandungan oksigen (O2) yang terkandung dalam air disebut oksigen terlarut. Satuan  kadar  oksigen  terlarut  adalah  ppm (part  per  million).  Kelarutan  oksigen dipengaruhi  oleh  beberapa faktor diantaranya  temperatur,  salinitas,  pH  dan  bahan organik.  Salinitas  semakin  tinggi,  kelarutan  oksigen  semakin  rendah.  Kelarutan oksigen  untuk  kebutuhan  minimal  pada  air  media  pemeliharaan  udang  adalah  >  3 ppm. 


Ammonia (NH3)
Kandungan  ammonia  dalam  air  media  pemeliharaan  merupakan  hasil  perombakan dari senyawasenyawa nitrogen organik oleh bakteri atau dampak dari penambahan pupuk  yang  berlebihan. Senyawa  ini  sangat  beracun  bagi  organisme perairan walaupun dalam  konsentrasi yang rendah. Konsentrasi amonia yang mampu ditolerir untuk  kehidupan  udang  dewasa  <  0,3  ppm  (Ahmad,  1991 dan  Boyd,  1989),  dan ukuran benih < 0,1 ppm. 

Nitrit 
Kandungan  nitrit  yang  tinggi  didalam  perairan  sangat  berbahaya  bagi  udang  dan ikan,  karena  nitrit  dalam  darah  mengoksidasi  haemoglobin  menjadi  meta-haemoglobin  yang  tidak  mampu mengedarkan  oksigen,  kandungan  nitrit  sebaiknya lebih kecil dari 0,3 ppm. Kadar oksigen terlarut dalam air merupakan faktor pembatas dan sangat berpengaruh terhadap berlangsungnya proses nitrifikasi. Pada salinitas di atas 20 ppt, batas ambang aman nitrit adalah < .2 ppm

C.  Rangkuman 
Pakan  merupakan  komponen  penting  karena  mempengaruhi  pertumbuhan udang  dan  lingkungan  budidaya  serta  memiliki  dampak  fisiologis  dan  ekonomis. Kelebihan penggunaan pakan akan mengakibatkan bahan organic yang mengendap terlalu  banyak  sehingga  menurunkan  kualitas  air,  demikian  juga  kekurangan  pakan akan  berdampak  pada  pertumbuhan  udang  yang  tidak  maksimal  dan  dapat menyebabkan  kanibal,  daya  tahan  tubuh  turun  dan  daya  tahan  terhadap  penyakit menurun.
Langkah-langkah  menentukan  kebutuhan  pakan  selama  masa  pemeliharaan
dapat diketahui dengan cara :
-  Menentukan Food Conversation Rate (FCR), FCR diupayakan antara 1 – 1.5 
-  Menentukan size panen dan target biomasa
-  Menentuntukan Survival Rate (SR) panen
Metode  blind  feeding  maksudnya  adalah  menentukan  dosis  pakan  udang
dengan  memperkirakan  dosis  yang  diperlukan  tanpa  melakukan  sampling  berat udang.  Sampling untuk  mengetahui  biomassa  udang  dapat  dilakukan  ketika  udang telah  berumur  30  hari  dengan frekuensi  7  hari  sekali.  alat  yang  disarankan  untuk sampling  adalah  jala  tebar  dengan  ukuran mess  size  disesuaikan  dengan  besar udang.  Waktu  Sampling  pada  pagi  atau  sore  hari,  agar udang  tidak  mengalami tingkat  stress  yang  tinggi,  penentuan  titik  sampling  disesuaikan  dengan  luasan tambak,  jumlah  titik  sampling  2 – 4  titik,  titik  lokasi  sampling  berada  di  sekitar  kincir
dan di wilayah antar kincir.
Probiotik  adalah  mikroorganisme  yang  dikembangkan  dan  diaplikasikan melalui  pakan  maupun  lingkungan  yang  bertujuan  memperkuat  daya  tahan  tubuh udang dan atau memperbaiki kualitas air tambak. Probiotik ini bersifat non patogenik dan dikembangkan secara masal pada media kultur sesuai dengan tujuannya.  Untuk menjaga kesehatan udang perlu dilakukan tindakan sebagai berikut :
-  Mengurangi endapan organik secara cepat pada masa pemeliharaan.
-  Mengurangi gas beracun H2S, NH3, NO2 sampai batas ambang yang diizinkan.
-  Mengatur  pertumbuhan  plankton  yang  diinginkan  udang  dengan  menyediakan unsur hara yang sesuai. 


1.  Penentuan waktu panen
Pemeliharaan udang vaname pada pertumbuhan normal akan mencapai berat sekitar  17-20  gram  setelah  berumur  120  hari.  Perhitungan  saat  panen  yang  tepat adalah  dengan  memperhitungkan  biaya  operasional  kususnya  pakan  yang dibutuhkan harus lebih kecil dibandingkan dengan pertumbuhan udang Perencanaan  waktu  panen  sudah  ditentukan  ketika    diawal  perencanaan
kegiatan budidaya, karena terkait dengan kebutuhan pakan dan disesuaikan dengan kondisi  pertumbuhan  udang,  jika  udang  yang  dipelihara  pertumbuhannya  normal, maka waktu panen dapat sesuai dengan perencanaan awal dan disesuiakan dengan harga  dipasar,  tetapi  jika  laju  pertumbuhan  udang  sangat  terlambat,  dan  jika diteruskan hanya menambah biaya pakan, maka lebih baik segera dilakukan panen.
Jika  pertumbuhan  udang  sesuai  dengan  yang  diharapkan,  maka  perlu
dilakukan perencanaan antara lain :
-  Antisipasi  banyaknya  udang  yang  mengalami  ganti  kulit (Moulting),  dengan
meminimalkan  perubahan-perubahan  yang  ekstrim  di  air  tambak,  terkait  dengan
kualitas air.
-  Satu minggu sebelum jadwal panen, dilakukan pengapuran setiap 2 hari sekali ,
dengan dosis 5-10 ppm tujuannya adalah untuk menjaga kebutuhan kalsium yang
diperlukan udang
-  Panen dimulai pada malam hari, untuk menjaga kualitas udang, sehingga di pagi
hari biasa dilakukan penimbangan.
-  Telah disiapkan air bersih, untuk mencuci udang sebelum dimasukan ke air dingin
-  Telah dipersiapkan air dingin, untuk menjaga kesegaran dan  kualitas udang tidak
menurun.

2.  Teknik panen
Panen dapat dilakukan secara total maupun selektif, tergantung permintaan pasar.
Setelah  mempelajari  materi pokok  V penyuluhan  ini  pelaku  utama  dan  atau
pelaku  usaha/penyuluh  perikanan  dapat  memahami  dan  menjelaskan    cara
pemanenan udang vaname dengan baik dan benar.


-  Panen selektif.
Panen  selektif  dilakukan  apabila  hanya  sebagian  saja  yang  dipanen.  Pada penjualan dalam bnetuk hidup, jumlah yang dibutuhkan terbatas. Apabila secara perhitungan  ekonomi  telah  menguntungkan  maka  dapat  dilakukan  panen.Penangkapan  dilakukan  dengan  menggunakan  jala  tebar.  Hasil  panen dikumpulkan dalam bak dengan volume minimal 500 liter dan diberi aerasi serta kondisi  air  adalah  dingi  dengan  suhu  25oC.  Selanjutnya  udang  ditimbang  dan dimasukan dalam container mobil yang telah didesain dengan unit aerasi.
-  Panen total
Panen  total  adalah  panen  secara  keseluruhan  biomassa  di  tambak.  Alat  yang digunakan  berupa  jarring  kantong  yang  dipasang  dipintu  pengeluaran  atau  jala tebar.  Untuk  tambak  yang menggunakan  plastic  dan  tidak  mempunyai  pintu pengeluaran  maka  digunakan  jarring  kantong.  Pada  tahap  pertama  petakan dikeringkan  secara  perlahan-lahan.  Setelah  mencapai  kedalaman  20  cm selanjutnya  udang  dapat  mulai  ditangkap.  Untuk  menjaga  udang  agar  tetap segar,  maka  selama  pengangkutan  ditempatkan  dalam  wadah bak  yang  telah diberi es.