Minggu, 10 Januari 2016

PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN LELE DUMBO


Lele dumbo merupakan jenis ikan tidak besisik sehingga lendir merupakan salahsatu pelindung dari gangguan lingkungan. Akibatnya  bila terluka dengan sangat mudah terjadi pengeluaran lendir yang berlebihan dari tubuhnya. Lendir ini dapat dijadikan media hidup bakteri, dan dengan menempelnya bakteri pada lendir, maka dengan segera kuman penyakit masuk hingga kedalam tubuh lele dumbo. Terjadinya luka inilah yang menjadikan ketahanan tubuh lele dumbo menurun dan menyebabkan sakit.  Namun kebanyakan patogen yang terlibat biasanya bersifat fakultatif yaitu organisme yang hanya menimbulkan penyakit dalam kondisi tertentu saja. Organisme semacam ini secara normal memang hidup dan berada pada berbagai jenis perairan, dan hanya menyebabkan terjadinya penyakit bila daya tahan tubuh lele dumbo menurun atau kelimpahan mahluk tersebut kelewat tinggi. Daya tahan tubuh lele dumbo  biasanya berkurang bila ada dalam kondisi stress yang diakibatkan berbagai faktor terutama lingkungan yang meliputi faktor fisik, kimiawi maupun biologis. Dengan demikian terjadinya wabah sebetulnya merupakan akibat interaksi yang tidak seimbang antara ikan sebagai subyek patogen, patogen itu sendiri serta kondisi lingkungan. Sebenarnya, semua jenis ikan mempunyai kekebalan terhadap penyakit selama ikan tersebut hidup dalam kondisi lingkungan yang baik dan tidak ada faktor yang memperlemah badannya. Penyakit ikan dapat berkembang akibat bermacam macam faktor antara lain trauma pengangkutan, kekurangan pakan, perubahan sifat fisika dan kimia air serta epidemi dari suatu penyakit. Untuk mencegah dan mengobati suatu penyakit maka perlu diketahui hal- hal yang berkaitan dengan timbulnya penyakit, cara cara dan dosispengobatan yang tepat agar diperoleh hasil yang baik.

UPAYA PENCEGAHAN
         Tindakan pencegahan terutama ditujukan untuk mencegah masuknya wabah penyakit kedalam tempat budidaya ikan,  atau mencegah meluasnya wilayah yang terkena serangan penyakit dalam upaya mengurangi kerugian produksi akibat timbulnya wabah penyakit.
Beberapa tindakan upaya pencegahan antara lain melalui sanitasi kolam, alat-alat, ikan yang akan dipelihara serta lingkungan tempat budidaya.

a.  Sanitasi kolam
     Sanitasi kolam dilaksanakan melalui pengeringan, pemjemuran dan pengapuran dengan kapur tohor atau kapur pertanian sebanyak 50-100 gram/m yang ditebar secara merata dipermukaan tanah dasar kolam dan sekeliling pematang kolam. Setelah dikapur biarkan dalam keadaan kering selama 3-5 hari, baru kemudian kolam dipupuk dan diairi. Bahan lain yang bisa digunakan untuk sanitasi kolam diantaranya kalium permanganat (PK) yang ditebarkan pada kolam yang telah diairi sebanyak 10-20 gram/mair dan dibiarkan selama 2 jam, baru kemudian dimasukan air baru dan ditebari ikan setelah kondisi air normal kembali.

b.  Sanitasi perlengkapan dan peralatan.
Perlengkapan dan peralatan kerja sebaiknya selalu dalam keadaaan suci hama, dengan cara merendamnya dalam larutan PK atau larutan kaporit selam 30-60 menit. Pengunjung dari luarpun sebaiknya tidak sembarangan memegang dan atau mencelupkan bagian tubuh kedalam media air pemeliharaan sebelum disuci hamakan.

c.  Sanitasi Ikan tebaran
Lele dumbo yang akan ditebarkan sebaiknya selalu diperiksa dahulu. Bila menunjukan gejala kelainan atau sakit maka lele tersebut harus dikarantinakan terlebih dahulu untuk diobati. Namun lele dumbo yang akan ditebar dan dianggap sehat pun, sebelum ditebar sebaiknya direndam dahulu dalam larutan PK dengan dosisi 20 gr/m3 air, atau dalam larutan methylin blue 20 ppm, atau dengan formalin 1cc/10 liter air, masing – masing selama 10 -15 menit. Bila sanitasi ikan tebaran akan menggunakan obat-obatan alami dapat dilakukan dengan cara merendam lele dumbo yang akan di tebar dalam ektrak cair sambiloto dengan dosis 25 ppm, atau dalam ektrak cair rimpang kunyit dengan dosis 15 ppm atau dapat juga menggunkan ektrak cair daun dewa dengan dosis 25 ppm, perendaman masing masing selama 30 -60 menit. 

d. Menjaga lingkungan tempat budidaya
     Upaya perlindungan gangguan dari penyakit lele dumbo adalah dengan menjaga kondisi lingkungan atau kondisi ekologis perairan dengan cara setiap kolam /bak pemeliharaan lele dumbo diusahakan mendapat air yang baru dan masih segar, telah melalui sistem filtrasi dan diusahakan agar bahan- bahan organik seperti sampah yag memungkinkan masuk kedalam kolam sedapat mungkin dihindari.

UPAYA PENGOBATAN
Gejala –gejala klinis
         Manifestasi klinis dari proses penyakit, baik yang infektif maupun non infektif dalam suatu populasi sering menunjukan tanda-tanda/petunjuk pertama terhadap suatu masalah penyakit walaupun ikan jarang atau hampir tidak pernah memperlihatkan tanda-tanda yang menciri (Pathogonomonic) oleh karena itu diagnosa yang tepat berdasarkan gejala klinis membutuhkan pengalaman dan keterampilan mengobservasi berbagai perubahan klinis. Beberapa perubahan atau tanda-tanda klinis yang perlu diamati antara lain tingkah laku, sikap, keseimbanga warna reflex, pergerakan, pernapasan, kerusakan / luka-luka pada kulit luar dll.
a.    Tingkah laku
         Lele dumbo yang sakit biasanya memperlhatkan tingkah laku menyimpang, misalnya sering menggosok-gosokan badannya pada benda- benda yang ada didalam kolam seperti batu, tanaman air atau kepinggiran kolam/ pematang. Pada kasus lain, ikan lele kehilangan keseimbangan tubuh sehingga gerakannya seprti tidak terkontrol, dan pada ahirnya ikan lele diam didasar kolam dengan sirip dada terbuka atau sekali-kali muncul kepermukaan air seperti menggantung. Ada pula lele sakit yang membuka kedua tutup insangnya lebih lebar dari biasanya, prekuensi pernafasannya meningkat dan tampak terengah-engah. Selain itu ada yang menunjukan gejal mogok makan akibat  kehilangan nafsu makan.

b.   Kelainan warna tubuh
         Jika tubuh lele dumbo mulai terlihat pucat maka harus dicurigai karena kemungkinan sudah mulai ditempeli parasit tertentu. Namun perubahan warna tubuh bisa juga disebabkan stress akibat terjadinya intesitas cahaya gelap keterang. Jika hal ini terjadi biasanya warna lele dumbo kembali normal  dalam waktu yang tidak terlalu lama. Perubahan warna juga sering terjadi jika lele dumbo dalam keadaan takut atau sesaat setelah atau sebelum memijah. Dengan demikian berdasarkan kejadian tersebut, maka perubahan warna pada lele dumbo dapat dianggap sebagai gejala dari suatu penyakit bila tidak ada penyebab lain seperti takut, stress atau setelah dan sebelum memijah. Perubahan warna yang disebabkan oleh penyakit biasanya belangsung lama atau bersifat permanen.

c.    Produksi Lendir
         Lele dumbo yang sakit seringkali memproduksi lendir yang berlebihan. Hal ini cukup terlihat jelas karena lele dumbo berwarna gelap. Produksi lendir yang berlebihan biasanya disebabkan oleh parasit yang menyerang bagian kulit. Banyaknya lendir tersebut tergantung pada intensitas serangan penyakit.


d.   Kelainan bentuk organ tubuh.
13
 
         Serangan tertentu dapat juga menimbulkan kelainan pada organ –organ tubuh tertentu, misalnya terdapat bintik –bintik putih atau merah pada bagian sirip, sisik atau bagian tubuh lainnya. Kelainan bentuk juga dapat terjadi bila serangan sangat hebat dan terjadi infeksi yang parah sehingga mengakibatkan tonjolan – tonjolan   semacam tumor pada insang, mata dan bagian kepala.  

Cara dan teknik mengobati ikan sakit
Tindakan penanggulangan penyakit ikan melalui pengobatan diupayakan agar lele dumbo sembuh tanpa membahayakan keselamatannya karena keracunan obat. Untuk itu perlu diketahui gejala – gejala umum yang timbul kemudian dilakukan diagnosis  untuk menemukan faktor penyebabnya. Setelah itu barulah ditentukan cara pengobatannya. Setelah secara pasti faktor penyebabnya diketahui kemudian ditentukan pula jenis obat yang akan digunakan serta dosisnya yang tepat sehingga tercapai efesiensi penggunaan obat dan efektifitas pemberantasannya. Beberapa teknik pengobatan yang dianjurkan dan biasa diterapkan dalam mengobati ikan terinfeksi suatu penyakit antara lain
a. Pencelupan
         Pencelupan adalah cara pengobatan menggunakan obat obatan alami atau bahan kimia  pada konsentrasi tinggi ( ratus atau ribuan ppm) dan waktu pengobatan sangat pendek. ( 30 detik ) Pengobatan dengan cara pencelupan biasanya menggunakan larutan obat dengan konsentrasi tinggi ( daya racun tinggi ). Bila kondisi ikan sudah terlalu lemah sedang daya racun obat sangat tinggi. Maka ikan bisa mati.Untuk pengobatan cara ini,  lele dumbo yang terinfeksi ditangkap menggunakan serok kemudian lele bersama serokannya dicelupkan kedalam larutan obat yang telah disiapkan selama 30 - 60 detik.  Lele dumbo yang telah diobati dipindahkan ketempat penampungan sambil diberi airasi dan air mengalir.
b.  Perendaman
Pengobatan ini adalah dengan cara memandikan ikan – ikan yang sakit dalam suatu larutan obat tertentu dengan konsentrasi tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah dalam waktu antara 15 -60 menit. Teknis pengobatan dengan cara peandian yaitu ikan – ikan yang terinfeksi di kumpulkan dan secara langsung dimasukan/dilepaskan kedalam larutan obat yang telah disediakan setelah mencapai batas waktu yang telah ditentukan ikan ditangkap kemudian dipindah ketempat penampungan sementara dengan aliran air bersih.
c. Perendaman
         Pengobatan melalui perendaman biasanya menggunakan larutan obat tertentu pada konsentrasi relatif rendah, waktu yang digunakan untuk perendaman cukup panjang yaitu sampai 24 jam. Pengobatan dengan teknik perendaman ini dilakukan 3-5 kali berturut-turut selama 3-5 hari. Setiap kali selesai mengobati, ikan dipindahkan ketempat yang berisi air bersih sambil diberi pakan.
d.  Usapan / Olesan.
         Pengobatan ini biasanya hanya dilakukan pada lele dumbo yang luka. Lele dumbo yang luka diolesi obat tepat pada bagian yang luka, selanjutnya dipindahkan ketempat berair mengalir agar sisa obat yang beracun bagi ikan cepat tercuci.
e.  Pemberian pakan.
         Pengobatan ini terutama ditujukan bagi lele dumbo yang terinfeksi bakteri pada organ tubuh bagian dalam. Obat yang akan digunakan dicampur kedalam pakan ikan sesuai dosis yang dianjurkan. Pakan yang telah dicampuri obat diberikan kepada lele dumbo yang akan diobati sebanyak 2-3% biomas, diberikan 3 kali perhari.

JENIS-JENIS OBAT
A. OBAT ALAMI/TRADISIONAL
1.    Kunyit  (Curcuma longa Linn)
*      Nama daerah: Kunyir, Koneng, Kunyit, Alawahu, Nikwai Pagidon.
*      Sifat kimiawi dan efek farmakologis : Bau khas aromatik, rasa agak pahit, sedikit pedas, tidak beracun. Berkhasiat sebagai anti radang ( anti inflamasi) dan anti bakteri.
*      Kandungan kimia : Rimpang mengandung minyak atsiri 3-5 %, turmeron, zingberene, sesquiterpen, alkohol pati , tanin dan damar.
*      Cara pemakaian : Perendaman dan oles.

2.    Lengkuas (Alpinia galanga L willd)
*      Nama daerah : Langkueh, halawas, lengkuas, lawas, laja, langkuwasa.
*      Sifat kimiawi dan efek farmakologis: Rasanya pedas dan hangat. Berkhasiat untuk, menetralkan racun, Meningatkan napsu makan( stomakik) dan sebagai obat jamur kulit.
*      Kandungan kimia: Rimpang mengandung minyak atsiri 1% metilsinamat, kamfer, galangin dan eugenol. Sedangkan buah mengandung, methyl ether, kaemferide, galangin dan dimethoxyflavone.
*      Cara pemakaian : melalui perendaman dan dioles.

3.    Daun Dewa ( Gynura pseudochina DC.)
*      Nama daerah : Beluntas cina, Daun dewa.
*      Sifat kimiawi dan efek farmakologis Daunnya dapat dikonsumsi dengan cara dilalap atau dijus. Berkhasiat sebagai anti radang, Penghilang nyeri (analgesik), obat luka bakar, luka bekas gigitan hewan berbisa, anti kanker dan peradangan pada jaringan tubuh.
*      Kandungan kimia: Batang, daun dan umbinya mengandung minyakatsiri, saponin , teranoid, tanin dan tekalora.
*      Cara pemakaian : melalui perendaman dan dioles.

4.    Mahkota dewa (phaleria macrocarpa)
*      Sifat kimiawi dan efek farmakologis : Jika dikonsumsi manusia dalam keadaan segar bisa menyebabkan keracunan. Berkhasiat untuk mengobati kanker, anti oksidan, bersifat analgesik, antipiretik, dan anti radang.
*      Kandungan kimia: Daging buah dan cangkang biji mahkota dewa mengandung alkaloid, flavonoid, senyawa politenol dan tanin.
*      Cara pemakaian : melalui perendaman dan dioles.
*     
19
 
Berhasiat sebagai penambah napsu makan, menetralisir racun ( anti toksik), menghilangkan gumpalan darah dan mengobati cacing ( Vermifuge ).
*      Kandungan Kimia : Batang dan daun mengandung : Minyak atsiri, tanin, lemak, phytosterol dan calcium oxalate.
*      Cara pemakaian :  melalui perendaman atau dioles

6.      Jarak Ulung ( Jatropha gossipifolia L )
*      Nama daerah  : Jarak kosta merah, Jarak cina, jarak ulung.
*      Sifat kimiawi dan efek farmakologi : Getahnya bersabun, biji mengandung minyak. Bagian yang bisa dipakai adalah daun dan biji. Berkhasiat untuk meningkatkan napsu makan, mengobati pembengkakan dan penyakit kulit.
*      Kandungan kimia. : Akar mengandung  alkaloid. Daun dan batang mengandung  tanin, calcium oxalate, dan sulfur.
*      Cara pemakaian : Perendaman dan oles
17
 
 

Cara membuat obat alami/tradisional.
a.      Ekstrak.
         Ekstrak adalah obat alami dalam bentuk kering, kental atau cair yang dibuat dengan cara mengambil sari simplisia (bahan obat ) menurut cara yang cocok tanpa pengaruh cahaya matahari langsung. Wadah untuk menyari, merendam atau merebus simplisia bisa berupa panci stainlees atau toples kaca dan pengaduk dari kayu. Sedangkan simplisia yang digunakan berupa daun, buah, batang maupun rempang yang masih segar atau simplisia yang telah dikeringkan dan telah diawetkan sebelumnya.
         Salah satu cara ekstraksi yang biasa dilakukan adalah dengan cara memasak air sampai mendidih, kemudian simplisia direbus selama sekitar 30 menit. Selanjutnya bahan rebusan tersebut disaring dengan kain atau kawat kasa. Setelah itu air rebusan di panaskan lagi sampai mengental, dan didinginkan.
            Ekstrak ini merupakan bahan dasar untuk pembuatan obat dalam bentuk serbuk atau dalam bentuk salep/krim atau dapat juga digunakan langsung untuk pengobatan dengan cara perendaman, pemandian maupun pengusapan/oles dengan cara mencampur dengan air bersih sesuai dosis yang dianjurkan.
b.      Obat serbuk     
         Obat serbuk dibuat dengan cara mencampur ekstrak kental dengan saccarum lactis ( gula susu), sedikit demi sedikit sampai terbentuk adonan yang dapat dibentuk lempengan. Selanjutnya lempengan tersebut di jemur sampai kering lalu digiling dan hasil gilingannya disaring dengan kawat kasa sehingga didapatkan serbuk halus yang berukuran seragam.
         Obat serbuk ini dapat digunakan untuk pengobatan dengan cara perendaman, pemandian, pengolesan dan pengobatan melalui pakan.

c.       Obat oles ( krim/ Lulur )
         Obat oles biasanya berupa salep yang merupakan campuran minyak tumbuhan dengan bahan-bahan yang telah berbentuk ekstrak. Minyak tumbuhan yang digunakan untuk mencampur adalah minyak kelapa atau minyak zaitun dicampur bahan pengemulsi(emulgator) seperti gom arab, acacia dan tragacanth. Pembuatannya dilakukan dengan cara mencampur, minyak, ektrak kental dan emulgator dengan perbandingan 2 : 4 : 1 diaduk dengan cepat hingga menjadi bentuk krim emulsi. Pembuatan obat oles ini tidak boleh dipanaskan karena dapat memisahkan minyak dan air yang telah bercampur. Krim atau lulur ini dapat digunakan untuk pengobatan luka atau borok yang terinfeksi bakteri atau parasit. Dengan cara dioleskan tepat pada bagian yang luka.
d.      Ramuan
          Ramuan adalah campuran berbagai macam bahan obat-obatan segar atau yang telah diawetkan untuk mengobati penyakit tertentu, sehingga perbandingan jumlah bahannya disesuaikan dengan kebutuhan kandungan bahan kimia dalam bahan yang akan digunakan. Cara pembuatanya, semua bahan dirajang kecil-kecil kemudian direbus hingga air rebusan tersisa separuhnya. Air rebusan tersebut selanjutnya digunakan untuk pengobatan.

OBAT KIMIA
         Obat-obatan kimia yang lazim digunakan dalam pengobatan penyakit ikan banyak sekali jenisnya. Ada yang berbentuk serbuk ada pula yang berbentuk cairan. Semuanya merupakan bahan kimia. Berdasarkan sifatnya jenis-jenis obat obatan tersebut dapat dikelompkan menjadi  obat anti biotik, desinfektan , insektisida obat oles dan obat obat lain.
a.      Obat serbuk
         Umumnya obat antibiotik digunakan untuk penyakit bakterial yang diaflikasikan dengan cara perendaman, penyuntikan maupun pengobatan melalui pakan. Contoh obat antibiotik adalah Tetrasiklin. Kemisitin, oksitetracyclin hcl, streptomisin, sulfamerizin sulfanomid.
b.      Obat oles
         Obat oles yaitu obat- obatan yangdigunakan manusia terutama untuk mengobati luka luka. Obat ini berbentuk cairan, penggunaannya dalam pengobatan ikan harus diencerkan dahulu hinga sepuluh kali. Cara penggunaannya dioleskan dengan bantuan kapas tepat pada luka ditubuh ikan yang terinfeksi penyakit bakterial atau parasit lainnya yang bisa menyebabkan luka atau borok pada tubuh ikan. Contohnya adalah obat merah ( jodium tinktur, mercurochrome ) kecuali itu ada lagi bedak talk yang penggunaannya juga dioleskan, terutama untuk melepaskan jenis ektoparasites seperti argulus sp, yang menempel ketat pada tubuh ikan.

c.       Obat- obat lain
         Justru obat- obatan inilah yang paling sering dimanfaatkan dalam pengobatan lele dumbo, sebagian besar berbentuk serbuk, bersifat racun, dan harganya relatif mahal. Obat ini mudah diperoleh ditoko- toko kimia atau di afotik. Obat – obat dimaksud yang sudah dikenal luas adalah malchyt green, methyline blue, cooper sulfat, PK, rivanol, bromex, formalin, Hcl quinine, Chinine trifaplafin, garam amonia dan kalium bikromat.

JENIS  PENYAKIT LELE DUMBO
         Bila dilihat berdasarkan biotaksonominya, parasit penyebab penyakit pada lele dumbo, digolongkan dalam dua golongan yaitu zoo-parasites dan Phytoparasites.
Zoo parasites
         Parasit yang secara biotaksonomi tergolong dalam dunia hewan   ( animal kingdom) diantaranya sebagai berikut.
a.      Cyclochaeta ( Trichodina sp )
         Cyclochaeta atau lebih dikenal dengan Trichodina, berkembang biak dengan cara membelah diri dan selama hidupnya berada pada tubuh ikan. Bagian bawahnya terdapat mulut yang dilingkari suatu alat dari zat kitin berjumlah 20 – 30 buah, berfungsi sebagai alat untuk menempel pada tubuh atau insang, sekaligus sebagai alat pengisap. Parasit ini sering menempel pada lele yang telah terjangkit parasit lain. Bagian badan yang diserang  menjadi
pucat, terkadang disertai dengan pendarahan. Bagian tubuh yang terinfeksi banyak mengeluarkan lendir
*              Siklus hidup
         Berdasrkan siklus hidupnya ,cyclochaeta termasuk parasit onligat yaitu selama hidupnya berfungsi penuh sebagai parasit dan tidak pernah melepaskan diri dari inangnya ( ikan ) sehingga parasit ini tidak bisa hidup tanpa ikan. Penularannya akan terjadi apabila ada kontak langsung antara ikan yang terjangkit dengan ikan sehat
*              Gejala infeksi
         Tubuh lele dumbo bagian luar yang terkena infeksi menjadi pucat, banyak mengeluarkan lendir, serta kemerah merahan karena terjadi pendarahan. Warna tubuh pucat dan tingkah laku tidak normal   ( ikan menjadi lemah terjadi penurunan berat tubuh, terjadi iritasi pada kulit )
*              Pencegahan       : Memelihara kondisi lingkungan, Kolam didesinfekstan sebelum penebaran ikan. Kalau memungkinkan, copepoda harus dihambat agar tidak masuk kekolam. Populasi lele dumbo dijaga serendah mungkin, makanan harus tersedia dalam jumlah dan mutu yang cukup

b.      Bintik Putih (white spot)
         Parasit ini sering dijumpai pada lele dumbo dan terlihat seperti bintik- bintik putih sehingga disebut penyakit bintik putih ( White spot). Parasit tersebut menyerang lele dumbo secara berkelompok membentuk koloni yang bersarang pada lapisan lendir kulit, sirip hingga lapisan insang.
         Parasit yang dapat menyebabkan pendarahan ini termasuk protozoa yang sangat ganas, sesuai namanya ichtioptirius berarti penghancur ikan, yang mampu berkembang biak dalam waktu yang sangat singkat.
*              Siklus hidup
         Didaerah tropis siklus hidup nya lebih pendek dari pada didaerah sub tropis ( sedang) . Metabolismenya sangat cepat pada suhu yang hangat sehingga perkembang biakannya pun pesat sekali. Penyakit
Bintik putih agak sulit diberantas karena pada tahap parasiter hidup terbungkus selaput sel lendir ikan. Larutan obat tidak akan meresap mengenai parasit tanpa merusak selaput lendir ikan. Namun demikian cara memutuskan siklus hidupnya, parsit ini dapat diberantas secara efektif.
         Siklus hidup Ichtyoptihirius multifilis dibagi menjadi empat fase yaitu :
1.      Fase parasiter , ketika hidup pada ikan
1.             Fase pra kista : Setelah dewasa dan melepaskan diri dari tubuh ikan, tetapia belum membentuk kista
2.             Fase kista : Selama terjadi proses membelah diri, terbungkus dinding lendir  melekat padaa suatu benndda didalamair.
3.              Fase paskakista : Berupa benih- benih parasit yang baru keluar dari kista.
         Pada fase parasiter parasit ini melekat padad tubuh ikan selama lebih kurang 8 hari, setelah itu melepaskan diri dan hidup bersifat planktonis ( melayang-layang) didalam air untuk beberapa saat lamanya. ( fase prakista). Saat itulah kesempatan paling tepat untuk mengobati lele yang sakit sekaligus membunuh parasit. Kesempatan kedua terjadi pada saat parasit baru keluar dari kista dan masih berupa benih parasit ( fase paskakista)
*              Gejala Infeksi
         Bagian tubuh lele dumbo yang menjadi sasarannya adalah sel- sel pigmen, sel- sel darah, dan sel- sel lendir. Bila yang diserang bagian kepala, terutama permukaan insang, lele dumbo biasanya megap- megap seperti sesak nafas, lama kelamaan mati. Serangan yang ringan pada selaput lendir mengakibatkan lele gatal- gatal, jika serangan
menghebat tak jarang terjadi pendarahan. Sering juga terjadi lele dumbo yang diserang penyakit bintik putih banyak mengeluarkan lendir, tubuhnya pucat, serta pertumbuhannya lambat.Terjadi iritasi, lele menggosok gosokan tubuhnya ketepi kolam. Pada lele dumbo yang terinfeksi lebih lanjut, akan terlihat meloncat loncat kepermukaan air dan megap megap untuk mengambil udara, nafsu makan berkurang, terjadi perubahan warna, geraka nmenjadi lamban dan tidak responsip terhadap rangsangan.

Penyakit bakteri
a.      Aeromonas ( Bercak merah)
         Bakteri Aeromonas termasuk patogen terhadap ikan. Dari genus aeromonas terdapat 3 spesies yaitu Aeromonas punctata, Aeromonas Hydrophilla  dan Aeromonas liquifaciens.
29
 
         Terlepas dari adanya perbedaan dalam hal klasifikasi, yang jelas bakteri terdapat di dalam tanah maupun didalam alat pencernaan ikan. Habitatnya adalah air tawar terutama yang mengandung kadar bahan organik tinggi. Khusus bakteri Aeromonas hydrophillabiasanya merupakan
penyerang kedua setelah terinfeksi parasit lain ataujika ikan menderita stress.
*              Gejala Infeksi
         Ikan  lele yang terserang bakteri Aeromonas warna tubuhnya berubah menjadi gelap, kulitnya kesat karena kehilangan banyak lendir diikuti pendarahan dan luka/borok. Selain itu ikan berenang sangat lemah , napasnya megap- megap,sering timbul atau menggantung  dipermukaan air. Bila menyerang organ dalam biasanya ginjal dan limpanya bengkak atau terkadang terjadi pendarahan
Faktor penunjang : Kualitas air buruk, terutama bila bahan organik tinggi karena perubahan musim. Temperatur air berfluktuasi tinggi antara siang dan malam serta kadar oksigen sangat rendah.
*              Pencegahan      
 -       Sanitasi air dan wadah/kolam.
-           Desinfeksi peralatan
-           Karantina ikan yang baru

Phyto-parasites
         Phyto- parasites adalah parasit yang secara biotaksonomi tergolong dalam dunia tanaman ( plant kingdom ). Dari golongan phyto parasites terdapat dua genus jamur ( fungi) yang paling dikenal didunia perikanan yaitu jamur achliya dan saprolegnia.
         Kedu parasit ini memiliki bentuk yang hampir sama yaitu menyerupai benang- benang halus. Jamur achliya dan saprolegnia cukup berbahaya bagi benih dan telur ikan. Ikan dewasa yang badannya mengalami luka fisik juga akan mudah menjadi mangsa parasit ini.

*              Siklus hidup
         Meskipun siklus jamur ini belum diketahui secara pasti, tetapi wabah achliya dan saprolegnia umumnya terjadi pada kondisi lingkungan yang banyak mengandung bahan organik terutama bila sedang terjadi proses pembusukan. Dalam keadaan suhu relatif rendah, serangannya juga bisa menghebat. Ikan yang tubuhnya lemah atau menderita luka akibat  terkena serangan parasit lain akan cepat dijangkiti jamur ini sebagai infeksi kedua.
*              Gejala infeksi
         Ciri khas akibat serangan jamur pada badan lele dumbo terdapat benang – benang halus berwarna putih seperti kapas. Kalau tidak segera ditangani lama kelamaan lele dumbo menjadi kurus dan akhirnya mati karena jamur mampu menerobos kulit bagian dalam terus masuk keotot daging bahkan sampai ketulang. Sasaran penyakit jamur bukan saja benih atau ikan dewasa tetapi telur pun sangat mudah terinfeksi. Penyerangan terjadi terutama pada lele yang sebelumnya sudah terjangkit parasit lain atau mengalami luka fisik sehingga penyerangan jamur ini merupakan infeksi kedua. Mewabahnya penyakit ini sering terjadi pada kondisi lingkungan yang banyak mengandung bahan-bahan organik dan sedang terjadi pembusukan. Serangannya sangat menghebat bila terjadi penurunan suhu air.

PENGOBATAN/PENGENDALIAN PENYAKIT

NO
JENIS PENYAKIT
PENGOBATAN/PEMBERANTASN
ALAMI
KIMIA
1
Tricodina/
cyclochaeta
1. Perendaman dalam  20 gr serbuk sambiloto dalam 100 liter air bersih selama 12 jam. Sebanyak 3 kali berturut – turut selama 3 hari. 
1. Dimandikan dalam larutan garam dapur (NaCl) 2.5 % atau 2.5 gr Na CL dalam 100 ml Air bersih sebanyak 3 kali berturut – turut selama 3 hari


2. Perendaman dalam ramuan, buah mahkota dewa 20 gram, Rempang kunyit 30 gram dan daun miana 25 gram. Semua bahan direbus dalam 1 liter air sampai tersisa 500 cc. Air rebusan dicampur 100 liter air bersih untuk peren daman selama 24 jam. Pengobatan dilakkan 3 kali berturut-turut.
2. Perendaman dengan formalin konsentrasi 25 mg/l atau 2,5 gr formalin dalam 100 liter air bersih. Perendaman dilakukan selama 10 menit ditempat yang teduh. Pengobatan diulangi 2 -3 kali dalam jangka waktu 2-3 hari.
2
Bintik Putih  (white spot)
1Perendaman dengan serbuk kunyit 50 gram dalam air 100 liter, dengan suhu air 28-30oC selama 24 jam. Pengobatan dilakukan 3 kali berturut-turut. 
1.Perendaman dalam larutan metil biru 0.gr dalam 100 ml air bersih Masukan ikan yang sakit dan biarkan selama 24 jam



2. Perendaman dalam ramuan segar daun dewa 30 gram, daun sambiloto 25 gram, buah mahkota dewa 30 gram dan daun jarak ulung 25 gram. Semua bahan direjang kecil-kecil, direbus dalam air 1 liter sampai tersisa 500 cc. Air rebusan dicampur 100 liter air bersih dengan suhu 28-30oC. Untuk perendaman selama 24 jam. Pengobtan dilaku kan 3 kali berturut-turut.
2. Perendaman dalam larutan chinine tripaflavin dan vinanol, dosis nya 10 ppm ( 10 mg/l air ) selama tiga hari berturut turut. menit.


3
Aeromonas (Bercak merah)
1. Perendaman dalam ekstrak cair lengkuas 25 ppm selama 24 jam. Perendaman dilakukan berulang-ulang sampai ikan sembuh.
1. Perendaman dalam nitrofuran 5-10 ppm selama 12-24 jam.



2. Perendaman dalam irisan buah mahkota dewa segar sebanyak 40 gram dalam air 100 liter selama 24. jam. Pengobatan dilakukan berulang-ulang.
2.Perendaman dalam PK 10 – 20 ppm selama 30-60 menit atau 3-5 ppm selama 12-24 jam



3. Ramuan serbuk daun dewa 15 gram, serbuk daun sambiloto 20 gr dan serbuk daun jalak ulung  15 gram dicampur dalam setiap  kilogram makanan. Diberikan selama 1-2 minggu sebanyak 3% biomas/hari.
3.Perendaman dengan oxytetra cyclin 5 ppm selama 24 jam, imequyl 5 ppm selama 24 jam, bytril 5-8 ml/m3 selama waktu tak terbatas.
4
Phyto-parasites/ jamur
Telur yang akan ditetaskan direndam terlebih dahulu dalam ekstrak cair sambiloto sebanyak 25 gram, atau ekstrak cair daun miana sebanyak 25 gram dalam air 100 liter selama 60 menit.
Telur yang akan ditetaskan sebaiknya direndam dahulu dlm larutan malachite green 0.15 ppm selama 30 -60 menit. Larutan tersebut dapat dibuat dari 150 mg malachyte green dicampur kedalam 1000 l air bersih


2. Untuk lele berukuran besar dapat diobati dengan olesan obat oles/krim daun dewa, atau krim sambiloto. Sebelum dioles, terlebih dahulu jamur dicabut atau dipotong dari tubuh ikan.
3.Olesan bisa dilakukan pada ikan berukuran besar dengan obat merah 2 % yang diencerkan 10 kali ( 1 bagian obat dicampur dengan 9 bagian air )

SKKNI Penyuluhan Perikanan



Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Kelautan dan Perikanan Bidang Penyuluhan Perikanan:

1. Merumuskan Keadaan Wilayah Perikanan (M.749090.001.02) > Fasilitator, Supervisor, Advisor
A. Mengumpulkan Data Primer dan Sekunder
a.  Menentukan metode pengumpulan data sesuai kaidah statistika deskriptif
b.  Menyiapkan instrumen pengumpulan data primer dan sekunder dalam bentuk kuesioner dan orang
c.   Melakukan pengumpulan data primer dan sekunder sesuai kaidah statistika deskriptif
B.  Menyajikan Data Primer dan Sekunder
a.   Menyiapkan instrumen penyajian data dalam bentuk tabel, gambar dan narasi
b.   Mengisi instrumen penyajian data sesuai dengan data sekunder dan data primer
c.   Melakukan penyajian data dalam bentuk tabel atau gambar dan narasi
C.  Mengolah Data Primer dan Data Sekunder
a.  Mengolah data primer dan sekunder dalam bentuk tabel atau gambar sesuai metode statistik menjadi data aktual dan data potensial
b.   Menetapkan data aktual dan data potensial dalam bentuk tabel
2. Menyusun Programa Penyuluhan Perikanan (M.749090.002.02) > Fasilitator, Supervisor, Advisor
A.  Menentukan Keadaan Wilayah Perikanan
a.    Menggunakan data aktual dan data potensial sesuai pedoman
b.   Menetapkan kesenjangan antara data aktual dan data potensial sesuai pedoman
B.  Menetapkan Masalah
a.   Mengidentifikasi masalah umum berdasarkan kesenjangan antara data aktual dan data potensial
b.    Menyusun masalah khusus berdasarkan masalah umum
c.    Menguji prioritas masalah khusus dengan  metode yang relevan
C.   Menetapkan Tujuan
a.    Menetapkan tujuan umum sesuai dengan masalah umum
b.    Menetapkan tujuan khusus sesuai dengan masalah khusus
D.   Menetapkan Cara Mencapai Tujuan
a.    Menyiapkan tabel cara mencapai tujuan sesuai pedoman cara mencapai tujuan
b.    Menyusun cara mencapai tujuan berdasarkan masalah dan tujuan
c.    Menetapkan cara mencapai tujuan sesuai pedoman
3. Menetapkan Metode Penyuluhan Perikanan (M.749090.003.02) > Fasilitator
A. Menentukan Sasaran Penyuluhan Perikanan
a. Mengidentifikasi jumlah dan kriteria sasaran berdasarkan karakteristik sasaran penyuluhan perikanan
b. Menetapkan sasaran Penyuluhan berdasarkan karakteristik sasaran penyuluhan perikanan
B. Memilih Metode Penyuluhan Perikanan Berdasarkan Jumlah dan Kriteria Sasaran
a.  Menganalisis metode penyuluhan perikanan sesuai kriteria pemilihan metode
b.  Menentukan metode penyuluhan perikanan sesuai kriteria pemilihan metode
C. Menyiapkan Bahan Materi Penyuluhan Perikanan sesuai Bentuk Media Penyuluhan
a.   Mengumpulkan bahan penyusunan materi penyuluhan perikanan sesuai kebutuhan
b.   Menentukan bahan penyusunan materi penyuluhan perikanan sesuai kebutuhan
D.  Menentukan Media Penyuluhan Perikanan
a.    Mengumpulkan media penyuluhan perikanan sesuai kebutuhan
b.    Memilih media penyuluhan perikanan sesuai kebutuhan
E. Menggunakan Metode Penyuluhan Perikanan sesuai dengan Media Penyuluhan
a.    Menentukan metode penyuluhan  sesuai dengan materi, media, sasaran, dan tujuan
b.    Mengaplikasikan metode penyuluhan sesuai dengan materi, media, sasaran dan tujuan
4.   Menumbuhkan Kelompok Pelaku Utama Perikanan (M.749090.006.02) > Fasilitator
A.    Menetapkan Kelompok Sasaran
a.   Menjelaskan pedoman dan referensi yang terkait dengan penumbuhan kelompok perikanan
b.    Mengidentifikasi sasaran kelompok perikanan
c.    Menentukan sasaran kelompok perikanan
B.    Membentuk Kelompok Pelaku Utama Perikanan
a.    Mengidentifikasi kondisi pelaku utama sesuai dengan pedoman penumbuhan kelompok
b.    Mensosialisasikan kriteria penumbuhan kelompok kepada pelaku utama
c.    Melakukan fasilitasi penyusunan AD/ART dan organisasi kelompok sesuai pedoman
d.    Memfasilitasi pembentukan kelompok pelaku utama sesuai dengan pedoman
e.    Melakukan fasilitasi pengukuhan kelompok pelaku utama perikanan sesuai pedoman
5. Memfasilitasi Pelaksanaan Usaha Perikanan (M.749090.010.02) > Fasilitator
A.    Menetapkan Kondisi Usaha Perikanan
a.    Menetapkan peluang pasar sesuai kebutuhan sasaran
b.    Mengidentifikasi kemampuan produksi sesuai dengan standar
c.    Mengidentifikasi kondisi sosial sesuai dengan kondisi sasaran
d.    Mengidentifikasi persyaratan mutu
e.    Mengidentifikasi pengelolaan sumberdaya perikanan yang berkelanjutan
B.  Menetapkan Materi Konsultasi Usaha Perikanan
a.  Memilih materi konsultasi sesuai aspek pasar, produksi, permodalan, sosial, persyaratan mutu dan Sumberdaya Perikanan yang berkelanjutan
b. Menyiapkan materi konsultasi sesuai aspek pasar, produksi, permodalan sosial, persyaratan mutu dan Sumberdaya Perikanan yang berkelanjutan
C.  Melaksanakan Pendampingan Usaha Perikanan
a. Melakukan pendampingan  sesuai aspek pasar, produksi, permodalan sosial, persyaratan mutu dan Sumberdaya Perikanan yang berkelanjutan
b. Melaporkan kegiatan pendampingan pengembangan usaha perikanan  sesuai prosedur
6.  Menyusun Materi Penyuluhan Perikanan (M.749090.004.02) > Supervisor
A.  Memilih Materi Dan Metode Penyuluhan Perikanan
a.  Menyiapkan materi untuk pembuatan media yang sesuai dengan kebutuhan sasaran
b.  Menganalisis materi dan metode penyuluhan sesuai dengan kebutuhan sasaran
c.  Menetapkan materi dan metode penyuluhan perikanan berdasarkan kebutuhan sasaran
B. Merumuskan Materi Dalam Bentuk Media Penyuluhan
a.  Menyiapkan materi untuk pembuatan media yang sesuai dengan kebutuhan sasaran
b. Membuat materi penyuluhan  dalam bentuk media penyuluhan sesuai kebutuhan sasaran
7. Mengembangkan Kemampuan Kelas Kelompok Pelaku Utama Perikanan  (M.749090.007.02) > Supervisor
A.  Merencanakan Pengembangan Kelas Kelompok Pelaku Utama Perikanan
a.  Menjelaskan pedoman dan referensi yang terkait dengan pengembangan kelas kelompok
b.  Membuat rencana pengembangan kelas kelompok sesuai dengan pedoman
B. Melaksanakan Pengembangan Kelas Kelompok Pelaku Utama Perikanan
a.  Melakukan monitoring dan evaluasi kelembagaan kelompok sesuai pedoman
b.  Melakukan penilaian pengembangan kelas kelompok sesuai pedoman
c.  Menetapkan hasil penilaian pengembangan kelas kelompok sesuai pedoman
d.  Melakukan fasilitasi pengukuhan pengembangan kelas kelompok sesuai pedoman
8. Memfasilitasi Perencanaan Usaha Perikanan (M.749090.011.02) > Supervisor
A.    Melakukan Analisa Peluang Pasar
a.    Mengidentifikasi permasalahan proses produksi berdasarkan prioritas masalah
b.    Memperhitungkan kelayakan harga berdasarkan hasil analisa usaha
B.    Mengidentifikasi Proses Produksi
a.    Menetapkan fasilitasi pengembangan modal sesuai kebutuhan
b.    Menentukan skala produksi sesuai kebutuhan pasar
c.    Mengidentifikasi sarana produksi sesuai dengan proses produksi
d.    Mengidentifikasi permasalahan proses produksi berdasarkan prioritas masalah
C.    Memfasilitasi Akses Permodalan
a.    Mengidentifikasi kemampuan keuangan usaha berdasarkan skala produksi
b.    Mengidentifikasi akses Permodalan sesuai kebutuhan skala usaha
c.    Menetapkan fasilitasi pengembangan modal sesuai kebutuhan
d.    Menyusun fasilitasi perencanaan usaha perikanan sesuai dengan skala usaha
9.    Mengevaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Perikanan (M.749090.013.02) > Supervisor, Advisor
A.    Merencanakan Kegiatan Evaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Perikanan
a.    Merumuskan tujuan evaluasi pelaksanaan penyuluhan perikanan sesuai prosedur
b. Menyiapkan instrumen evaluasi kegiatan penyuluhan perikanan sesuai kaidah penyusunan instrumen
c. Menentukan kegiatan penyuluhan perikanan yang akan dievaluasi sesuai dengan programa
d.  Memilih metode evaluasi pelaksanaan penyuluhan sesuai dengan tujuan
e.  Menetapkan sampel sesuai dengan tujuan evaluasi
B. Melakukan Kegiatan Evaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Perikanan
a.  Mengumpulkan sumber dan jenis data sesuai instrumen
b.  Mengumpulkan data yang telah direkapitulasi
c.  Menganalisis hasil rekapitulasi data sesuai dengan metode
d.  Menetapkan hasil evaluasi penyuluhan sesuai kebutuhan
C. Menyusun Laporan Hasil Evaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Perikanan
a.  Menentukan sistematika penulisan laporan sesuai dengan prosedur
b.  Membuat hasil evaluasi pelaksanaan penyuluhan perikanan dalam bentuk laporan
10.Mengevaluasi Dampak Penyuluhan Perikanan (M.749090.014.02) > Supervisor, Advisor
A.  Merencanakan Kegiatan Evaluasi Dampak Penyuluhan Perikanan
a.    Merumuskan tujuan evaluasi dampak penyuluhan perikanan sesuai dengan kebutuhan
b.    Menyiapkan instrumen evaluasi dampak penyuluhan Perikanan sesuai prosedur
c.    Memilih metode evaluasi dampak penyuluhan sesuai dengan tujuan
d.    Menetapkan sampel sesuai dengan tujuan evaluasi
B.  Melakukan Kegiatan Evaluasi Dampak Penyuluhan Perikanan
a.    Mengumpulkan sumber dan jenis data sesuai instrumen
b.    Merekapitulasi data sesuai dengan metode statistik
c.    Menetapkan hasil evaluasi dampak penyuluhan sesuai kebutuhan
C.  Menyusun Laporan Hasil Evaluasi Dampak Penyuluhan Perikanan
a.   Menentukan sistematika penulisan laporan sesuai kaidah
b.   Membuat laporan hasil evaluasi dampak pelaksanaan penyuluhan perikanan
11. Membuat  Karya Tulis Ilmiah Bidang Penyuluhan Perikanan (M.749090.015.02) > Supervisor
A.    Merencanakan Penulisan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Perikanan
a.    Menetapkan sistematika penulisan karya tulis di bidang perikanan sesuai dengan kaidah penulisan
b.    Mengidentifikasi masalah dalam pengembangan keprofesian penyuluh perikanan sesuai dengan tupoksi penyuluh
c.    Menentukan topik karya tulis di bidang perikanan sesuai pedoman
B.    Mengumpulkan Bahan  Karya Tulis di Bidang Perikanan
a.  Mengidentifikasi bahan dan referensi yang terkait dengan karya tulis di bidang perikanan sesuai dengan topik
b. Menentukan bahan dan referensi yang terkait dengan karya tulis di bidang perikanan sesuai topik
C.  Menulis Karya Tulis Ilmiah di Bidang Perikanan
a.  Menganalisis karya tulis ilmiah di bidang perikanan sesuai dengan topik
b. Menetapkan kerangka penulisan karya tulis ilmiah di bidang perikanan sesuai dengan topik
c.  Menyusun karya tulis ilmiah di bidang perikanan sesuai dengan kaidah
12. Mengembangkan Metode dan Materi Penyuluhan Perikanan (M.749090.005.02) > Advisor
A.    Menganalisis Hasil Evaluasi Metode dan Materi Penyuluhan Perikanan
a.   Mengidentifikasi metode dan materi penyuluhan hasil evaluasi sesuai kebutuhan sasaran
b.   Memilih metode dan materi penyuluhan hasil evaluasi sesuai kebutuhan sasaran
c.   Merumuskan metode dan materi penyuluhan sesuai kebutuhan sasaran
B.  Menetapkan Hasil Evaluasi Metode dan Materi Penyuluhan Perikanan
a. Merekomendasikan rumusan metode dan materi penyuluhan sesuai dengan prinsip-prinsip  penyuluhan
b.  Menyusun hasil evaluasi metode dan materi dalam bentuk laporan
C. Menyusun Rencana Pengembangan Metode dan Materi
a. Menyajikan pengembangan metode dan materi penyuluhan dalam bentuk media penyuluhan
b.   Melaporkan hasil rencana pengembangan metode dan materi
13.Mengembangkan Kewirausahaan Kelompok Pelaku Utama (M.749090.008.02) > Advisor
A.  Merencanakan Kegiatan Pengembangan Kewirausahaan
a.    Menjelaskan perencanaan kegiatan kewirausahaan
b.   Menjelaskan standar, indikator dan kriteria kegiatan kewirausahaan
c.   Menyusun rencana kegiatan pengembangan kewirausahaan dalam bentuk proposal
B. Melaksanakan Kegiatan Pengembangan Kewirausahaan
a.  Mengimplementasikan kegiatan pengembangan kewirausahaan sesuai dengan proposal yang telah disusun
b.   Menyusun laporan kegiatan pengembangan kewirausahaan sesuai standar laporan
C.  Mengevaluasi Kegiatan Pengembangan Kewirausahaan
a.   Menganalisis laporan kegiatan pengembangan kewirausahaan sesuai prosedur
b.   Merekomendasikan hasil analisis sesuai dengan kriteria yang berlaku
c.   Mengevaluasi kegiatan pengembangan kewirausahaan kelompok pelaku Utama
14.Menumbuhkan Jejaring Kerja antara Sumber Informasi dan Teknologi dengan Pengguna (M.749090.009.02) > Advisor
A. Mengidentifikasi Aspek-Aspek Jejaring Kerja antara Sumber Informasi dan Teknologi dengan Pengguna
a.    Menjelaskan aspek-aspek yang diperlukan dan mempengaruhi jejaring kerja
b.   Mengidentifikasi aspek-aspek yang diperlukan dan mempengaruhi jejaring kerja
B. Melaksanakan Penumbuhan Jejaring Kerja antara Sumber Informasi dan Teknologi dengan Pengguna
a.   Merumuskan tahapan penumbuhan jejaring kerja sesuai prosedur
b.   Melakukan tahapan penumbuhan jejaring kerja sesuai prosedur
C.  Melaporkan Hasil Penumbuhan Jejaring Kerja
a.   Melakukan evaluasi hasil penumbuhan jejaring kerja sesuai prosedur
b.   Melaporkan hasil evaluasi penumbuhan jejaring kerja sesuai prosedur
15.Memfasilitasi Pengembangan Usaha Perikanan (M.749090.012.02) > Advisor
A. Mengevaluasi Peluang Pasar
a.  Mengidentifikasi daya serap hasil produksi sesuai dengan permintaan pasar
b.  Mengidentifikasi kebutuhan konsumen sesuai dengan analisis pasar
B. Mengevaluasi Kapasitas Produksi Usaha
a.  Mengidentifikasi kemampuan sarana produksi sesuai dengan target produksi
b.  Mengidentifikasi kemampuan sumberdaya manusia sesuai dengan target produksi
c.  Menganalisa daya dukung lingkungan sesuai dengan standar
C. Mengevaluasi Kemampuan Permodalan
a.  Mengidentifikasi sumber permodalan sesuai dengan kebutuhan
b.  Menetapkan kebutuhan pengembangan permodalan sesuai dengan skala usaha
D. Menyusun Rencana Pengembangan Usaha Perikanan
a.  Merencanakan pengembangan usaha aspek pemasaran sesuai dengan analisa pasar
b.  Merencanakan pengembangan usaha aspek produksi sesuai dengan permintaan pasar
c.  Merencanakan pengembangan usaha aspek sosial sesuai dengan kondisi lingkungan
d.  Merencanakan kemitraan strategis antara pelaku utama dan pelaku usaha
16.Melaksanakan Pengkajian Bidang Penyuluhan Perikanan (M.749090.016.02) > Advisor
A.  Merencanakan Kegiatan Pengkajian
a.  Merumuskan tujuan pengkajian penyuluhan perikanan sesuai kebutuhan
b.  Memilih metode pengkajian penyuluhan sesuai dengan tujuan
c.  Menetapkan sampel sesuai dengan tujuan pengkajian
d.  Merancang kegiatan pengkajian penyuluhan perikanan sesuai dengan tujuan
B.  Menetapkan Hasil Pengkajian
a.  Menganalisis data sesuai tujuan pengkajian
b.  Merumuskan rekomendasi hasil analisis kajian penyuluhan sesuai kebijakan
C.  Menyusun Laporan Hasil Pengkajian
a.  Menjelaskan sistematika penulisan laporan
b.  Membuat laporan hasil pengkajian penyuluhan Perikanan

Jumat, 08 Januari 2016

Pembinaan Pada kelompok Bakit Sejahtera Pembudidaya Ikan Kerapu di KJA



  • Memberikan arahan ataupun berdiskusi dengan pelaku utama budidaya ikan kerapu cantik di KJA
  • Mensosialisasikan kepada pembudidaya akan pentingnya pemberrian pakan secara teratur
  • Mensosialisasikan kepada pembudidaya akan pentingnya secara periodik memandikan/ merendam ikan kerapu dengan air tawar dimana hal ini bertujuan agar ikan kerapu terhindar dari serangan penyakit
  • Mendapat keluhan/ masukan dari pelaku utama tentang kendala kekurangan benih ikan kerapu karena masih banyak KJA yang kosong belum terisi benih


Jumat, 18 Desember 2015

BUDIDAYA IKAN NILA METODE KARAMBA JARING TANCAP DI KOLONG BEKAS GALIAN TIMAH

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terdiri dari dua pulau utama, yaitu pulau Bangka dan pulau Belitung serta di kelilingi pulau-pulau kecil seperti pulau Lepar, pulau Selat Nasik, pulau Pongok dan pulau-pulau lainnya. Wilayah provinsi Kepulauan Bangka Belitung terbagi menjadi wilayah Daratan dan Wilayah Lautan dengan Total wilayah mencapai 81,725,14 km. Luas daratan lebih kurang 16,424,14 Km atau 20,10 persen dari total wilayah dan luas laut kurang lebih 65,301 Km atau 79,9 persen dari total wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Provinsi yang mulai dikenal banyak orang sejak difilmkannya “Laskar Pelangi” oleh Andrea Hirata ini merupakan daerah yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan diri pada hasil pertambangan, terutama pertambangan timah. Secara turun temurun masyarakat Bangka Belitung menjadikan tambang timah sebagai mata pencahariannya. Penambangan timah ini sudah ada sejak zaman dahulu dan semakin intensif terjadi disaat Indonesia dijajah oleh Belanda.

Penambangan timah yang terjadi di Bangka Belitung ada yang dilakukan secara intensif dengan teknologi yang modern utamanya oleh perusahaan besar, baik itu pemerintah ataupun swasta serta juga dilakukan oleh masyarakat dengan cara tradisional atau konvensional. Penambangan timah yang intensif di Pulau Bangka maupun Belitung telah menyisakan fenomena yang menarik, yaitu terbentuknya lubang bekas galian tambang yang berisi air menyerupai danau-danau kecil yaang disebut “kolong”.


Kolong umumnya mempunyai air yang bersifat asam tergantung dari tipe mineral dominan di area tambang tersebut, serta juga mengandung logam-logam terlarut yang tidak dapat dimanfaatkan dalam kurun waktu yang cukup panjang. Sumber air kolong bisa berasal dari mata air, air sungai maupun air hujan. Kolong bekas tambang merupakan habitat yang unik karena umumnya sempit dan dalam serta tanpa zona littoral yang dikelilingi oleh dinding batuan yang terjal/curam dan biasanya tidak terdapat aliran air masuk dan/atau air keluar.

Namun perairan kolong merupakan perairan yang memiliki kondisi berbeda dengan perairan umum lainnya seperti waduk, danau dan sungai. Hal ini menjadikan kolong membutuhkan perlakuan yang lebih special (spesifik). Kualitas air kolong yang tentunya berbeda dengan perairan umum lain dan setidaknya pernah mengalami kondisi terburuk saat penambangan timah. Logam berat dan tingkat keasaman menjadi kendala diantara kendala-kendala lainnya. Kondisi tersebut menjadikan kegiatan budidaya ikan lebih terfokus pada kolong-kolong tua yang memiliki kualitas air yang lebih baik dibandingkan dengan kolong-kolong yang berusia muda.


Masyarakat sekitar kolong ada yang memanfaatkan areal pinggiran kolong yang landai dan tidak terlalu dalam untuk budidaya ikan, salah satunya dengan menggunakan karamba jaring tancap (KJT). ikan yang di budidayakan bisa berupa ikan lele, ikan nila, ikan mujair, ikan mas, ikan gurame dan ikan air tawar lainnya.
Keramba Jaring Tancap (KJT) merupakan jaring kantong berbentuk persegi yang dipasang pada kerangka bambu atau kayu yang ditancap pada dasar perairan. Pasangan kayu/ bambu ditancap rapat, seperti pagar, atau hanya dipasang di bagian sudut kantong jaring. Ikan yang dapat dibudidayakan dengan teknik karamba jaring tancap yaitu ikan mas, nila, patin, lele, bawal, betutu dan jenis ikan air tawar lainnya.

Keunggulan Metode Keramba Jaring Apung
1.    Design lebih mudah dan efisien dalam pembuatannya
2.   Dana yang diperlukan untuk membuat keramba juga tidak terlalu besar karena tidak memerlukan pemberat ataupun pengapung yang biayanya mahal
3.    Pengoperasiannya mudah
4.    Produktivitas lebih tinggi
5.    Tidak memerlukan kedalaman air yang terlalu dalam seperti KJA


Teknik Budidaya Keramba Jaring Tancap
1.  Perhatikan Aspek teknis seperti kondisi perairan (kolong) dan kualitas air sangat berperan penting bagi pertumbuhan ikan yang akan dipelihara.
2.   Peletakan jaring tancap sebaiknya didaerah yang berarus kecil dan dalam. Peletakan di daerah tersebut untuk memudahkan dalam pembuatan, pengoperasionalan serta pemeliharaan karamba jaring tancap tersebut. Oleh karenanya karamba jarring tancap sebaiknya diletakkan pada kedalaman idealnya, yaitu 60-70 cm.
3. Penebaran benih ikan sebaiknya pada pagi hari sebelum matahari terbit hal ini dikarenakan pada pagi hari suhu air hampir setiap daerah sama. Sebelum ikan ditebarkan perlu dilakukan aklimatisasi atau penyesuaian kondisi lingkungan sekitar. Padat tebar pada keramba jaring tancap idealnya adalah 100-150 ekor/m2 nya.
4. Selain pakan berupa pelet, pakan tambahan lainnya dapat juga diberikan seperti tanaman air dan daun-daunan. Pakan diberikan tiga kali sehari, yaitu pada pagi, siang dan sore hari.
5.  Pemenenan ikan dilakukan dengan cara mempersempit ruang gerak ikan di dalam kantong keramba.
6. Diberi biofilter di sekitar keramba agar zat-zat racun dan amoniak pada air dapat berkurang, pemberian biofilter dapat berupa eceng gondok.
7.  Dilakukan monitoring kualitas air 1 minggu sekali serta melakukan sampling untuk mengetahui kesehatan ikan. Sehingga apabila dalam monitoring dan sampling diketahui ada penyakit dan kuaitas air yang dapat membahayakan ikan yang dibudidayakan dapat dicegah.

salam perikanan

Senin, 14 Desember 2015

Fotonews: Ira Poenya Cerita dari Batam hingga Aceh






at masjid Baiturrahman Aceh

pusat oleh-oleh Aceh di samping masjid Baiturrahman

with kawan penyuluh perikanan

 
at Bandara Sultan Iskandar Muda in Aceh

at Golden View Hotel in Batam

Sabtu, 12 Desember 2015

Foto News: Mengikuti Sosialisasi Uji Sertifikasi Penyuluh Perikanan di Aceh

Foto-foto saat mengikuti Sosialisasi Uji Sertifikasi Penyuluh Perikanan yang diadaakan oleh Pusluh KKP di Hotel Oasis Aceh









Mengikuti Sosialisasi Sertifikasi Penyuluh Perikanan di Aceh

Bertempat di Hotel Oasis Aceh Jl. Tengku Imum No.115 Kota Banda Aceh, Pusat Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat Kelautan dan Perikanan menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Sertifikasi Penyuluh Perikanan.  Kegiatan yang akan berlangsung selama 3 hari (10-12 Desember 2015) diikuti oleh 55 orang Penyuluh Perikanan dari kabupaten/kota perwakilan provinsi Aceh, Sumut, Sumbar, Jambi Riau, Kepri, Kep. Babel, Lampung, Kalbar, Kalsel, Sulsel, Maluku dan dibuka oleh Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan, serta dihadiri oleh Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi  Kelautan dan Perikanan (LSP-KP).


Kegiatan ini diselenggarakan agar para Penyuluh Perikanan yang belum mengikuti kegiatan Sertifikasi tahun 2015, dapat memahami dan mempersiapkan diri  dalam mengikuti Sertifikasi Penyuluh Perikanan Tahun 2016 baik Sertifikasi Profesi maupun Sertifikasi Teknis Perikanan. Kegiatan sosialisasi juga dimaksudkan untuk meminimalisir permasalahan-permasalahan yang dihadapi pada Sertifikasi Penyuluh Perikanan tahun 2015. Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan sertifikasi penyuluh perikanan tahun 2015 diantaranya :
a.     data peserta kurang akurat khususnya dalam hal jenjang jabatan penyuluh perkanan. Data ini diperlukan untuk menentukan level sertifikasi profesi sesuai dengan jenjang jabatannya. Solusinya yaitu dengan melakukan validasi dan updating data SIMLUH KP secara berkala oleh petugas/admin SIMLUH KP kab/kota, provinsi dan pusat;
b.    berkas portofolio tidak lengkap. Sebagian besar penyuluh tidak mengerjakan yang apa yang dicatat dan tidak mencat apa yang dikerjakan, sehingga mengakibatkan berkas portofolio tidak lengkap. Solusinya yaitu dengan membangun kesadaran kepada para penyuluh perikanan agar dapat mencatat/mendokumentasikan setiap kegiatan untuk keperluan pengusulan DUPAK dan portofolio Sertifikasi Penyuluh Perikanan
c.     rendahnya pemahaman terhadap MUK, dikarenakan sebagaian penyuluh perikanan tidak membaca secara keseluruhan pedoman sertifikasi, dan yang terakhir
d. informasi kegiatan tidak sampai kepada penyuluh, dikarenakan berbagai faktor seperti : tidak ada akses internet, tidak ada fax dan tidak ada signal/jaringan telpon,  serta tidak  menguasai akses internet. Solusinya Pusluhdaya melakukan Sosialisasi melalui media online maupun tatap muka langsung.



Kegiatan sosialisasi penyuluh perikanan ini berlangsung selama 3 hari, dimulai hari Kamis,10 Desember dan  ditutup oleh Kepala Pusat Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat KP pada tanggal 12 Desember 2015.