Kamis, 15 Mei 2014

DKP Ikuti Bangka Barat Fair 2014

Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung menggelar pameran pembangunan atau Bangka Barat Fair 2014 yang diproyeksikan mampu menjadi ajang promosi berbagai potensi yang dimiliki daerah, terutama di wilayah Kabupaten Bangka Barat. Pameran dimulai hari Minggu malam tanggal 11 Mei 2014 dan berakhir pada Kamis malam tanggal 15 Mei 2014.



Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Stand DKP menyediakan informasi mengenai potensi Kelautan dan Perikanan di wilayah Kabupaten Bangka Barat, serta adanya UKM Perikanan yang menjual hasil dari kelautan dan perikanan seperti: udang, ikan segar, ikan olahan, cumi-cumi, kerang, lokan, hasil kerajinan dan sebagainya.



Selain itu Dinas Kelautan dan Perikanan Bangka Barat juga mengadakan Lomba Foto dengan tema "Potret Kehidupan Nelayan". Ada juga Lomba Mewarnai bagi anak tingkat TK. Lomba mewarnai ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 14 Mei 2014. Pada hari Rabu ini juga dilaksanakan lomba menggambar untuk tingkat SMU/SMK Se-Bangka Barat dan Lomba memasak serba ikan.


lomba mewarnai

lomba menggmbar tingkat SMU/SMK
lomba memasak serba ikan


Dengan adanya "Bangka Barat Fair 2014" diharapkan berbagai potensi daerah bisa tergambarkan/terekspos, diketahui dan mampu dipahami yang kemudian akan menjadi inspirasi sehingga dikembangkan masyarakat untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraannya.


stand stand di BBF 2014


Pameran Pembangunan atau "Bangka Barat Fair 2014" (BBF 2014) digelar/ dibuka dua hari sebelum pembukaan Musabaqah Tillawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Babel di Masjid Agung Muntok yang terletak di kompleks perkantoran Pemkab Bangka Barat. Sedangkan pembukaan MTQ tingkat Provinsi Babel dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 13 Mei 2014, diharapkan para peserta dan pengunjung dari luar daerah juga bisa melihat potensi dan hasil pembangunan daerah yang disajikan melaui pameran pembangunan yang digelar tidak jauh dari kompleks Masjid Agung Muntok.


masjid agung Muntok

lokasi yang berdekatan dilangsungkannya dua kegiatan besar itu diharapkan mampu mempromosikan potensi dan berbagai produk usaha kecil dan menengah (UKM) yang berkembang agar lebih dikenal luas sehingga ke depan bisa ikut berperan dalam menunjang ekonomi daerah.

Melalui BBF 2014 disajikan berbagai potensi yang dimiliki di Kabupaten Bangka Barat mulai dari potensi pertambangan, pertanian, perkebunan, perikanan kelautan, pariwisata maupun wisata kulinernya. sejumlah UKM yang mengolah potensi unggulan, seperti pengolahan hasil laut, hasil perkebunan, pertanian, pertambangan, kerajinan juga ikut berpartisipasi di BBF 2014.

Semoga ke depannya Kabupaten Bangka Barat lebih bisa dikenal oleh masyarakat luas dan diharapkan akan ada produk-produk unggulan dan potensi yang muncul dan menjadi kebanggaan dari daerah Kabupaten Bangka Barat.

salam perikanan ^_^

sumber: foto dari koleksi pribadi

Selasa, 06 Mei 2014

100 Negara Hadiri Konferensi Terumbu karang Global

Pertemuan global pertama di dunia terkait pengelolaan terumbu karang,  yaitu World Coral Reef Conference (WCRC) 2014 akan dihadiri setidaknya 200 peserta dari 100 negara yang mewakili unsur pemerintah, organisasi regional dan internasional, NGO, serta para ilmuwan dan akademisi. Presiden Republik Indonesia diagendakan akan membuka konferensi tersebut pada tanggal 16 Mei 2014 di Grand Kawanua International City (GKIC) Manado. Penyelenggaraan konferensi ini merupakan respon atas rusaknya terumbu karang secara global, yang menarik perhatian para pemimpin dunia untuk berperan serta dalam penanganannya. Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo selaku Pengarah Panitia Nasional WCRC 2014 di Jakarta, Selasa (6/5).


Menurut Sharif, penyelenggaraan WCRC akan menghasilkan Komunike Manado (Manado Comunique) berupa kesepakatan untuk menuju pengelolaan terumbu karang yang berkelanjutan. Selain itu diharapkan dapat menghasilkan suatu rencana aksi negara pantai dalam penyelamatan ekosistem terumbu karang, serta langkah-langkah aksi menuju konvensi pengelolaan terumbu karang berkelanjutan. “Acara ini akan diselenggarakan melalui koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah yang dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap kondisi terumbu karang dunia yang semakin terdegradasi”, jelas Sharif.


Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K) Sudirman Saad selaku Ketua Pelaksana Panitia Nasional WCRC tahun 2014 menjelaskan bahwa WCRC ini diselenggarakan dengan beberapa tujuan.  Pertama, untuk merumuskan upaya-upaya pemerintah dalam mengelola terumbu karang dunia secara berkelanjutan. Kedua, sebagai wadah untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam pengelolaan ekosistem terumbu karang lokal. 


Kemudian, untuk mengkaji kondisi terumbu karang dunia dan kaitannya dengan peran laut dalam perubahan iklim global serta pengelolaannya yang terkini dan dampaknya bagi kelangsungan usaha perikanan. Keempat, menghimpun dan merumuskan nilai-nilai kebersamaan, menyamakan persepsi dan tujuan dalam pelestarian dan pemeliharaan ekosistem terumbu karang oleh masyarakat. “Konferensi ini juga bertujuan untuk menginventarisasi, kompilasi, sinkronisasi dan menetapkan kebijakan serta tindakan nyata dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya terumbu karang”, jelas Sudirman.


Sudirman menambahkan, sebagai rangkaian acara WCRC, diselenggarakan pula International Blue Carbon Symposium (IBCS), World Ocean Business Forum (WOBF), serta Extra Ordinary Senior Official Meeting (SOM) CTI-CFF dan CTI – CFF Ministerial Meeting (MM). IBCS bertujuan untuk menjembatani pertemuan antara peneliti dan pemangku kebijakan perihal blue carbon dalam lingkup coral triangle region. WOBF bertujuan untuk mempromosikan potensi dan peluang bisnis serta investasi kelautan dan perikanan Indonesia di forum Internasional, serta tukar informasi pengelolaan bisnis yang ramah terhadap lingkungan pesisir dan laut. “SedangkanSOM dan MM CTI-CFF merupakan agenda kegiatan dari Prakarsa Segitiga Karang (Coral Triangle Initiative/CTI)”, tambah Sudirman.

            Negara-negara di kawasan segitiga karang berinisiatif membentuk Coral Triangle Iniative on Coral Reef, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF) pada tahun 2007 dan telah diselenggarakannya CTI-CFF Summit dan World Ocean Conference (WOC) pada tahun 2009 yang mana telah diupayakan kerjasama global dalam pengelolaan ekosistem terumbu karang berkelanjutan, termasuk di dalamnya peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat. “Para ilmuwan dalam Coral Reef Symposiumpada tahun 2012 menyatakan bahwa terumbu karang telah mengalami penurunan kondisi baik secara kuantitatif maupun kualitatif. “Peran ekologi, ekonomi dan sosial terumbu karang telah terancam terutama akibat aktivitas manusia  yang mengakibatkan sedimentasi dan polusi, pengrusakan habitat, serta overfishing. Salah satu rekomendai pertemuan tersebut yaitu menghimbau pemerintah agar berbuat sesuatu terkait pengelolaan terumbu karang berkelanjutan”, tutup Sudirman.
sumber: kkp.go.id

Kamis, 13 Maret 2014

Perikanan Budidaya Dukung Ketahanan Pangan Melalui Nila Salina

Sinergi dan kerjasama untuk mengembangkan sector perikanan budidaya perlu dilakukan di semua lini dan bidang. Salah satunya seperti yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi(BPPT) dalam mengembangkan komoditas ikan Nila Salina (Saline Tilapia Indonesia). “Kerjasama yang dijalin antara DJPB dan BPPT ini sudah dilakukan sejak tahun 2007. Mulai dari Breeding Program Kerapu, Pembuatan Vaksin Kerapu sampai dengan sekarang ini yaitu Pengembangan Ikan Nila Salin. Disamping  itu, BPPT adalah pembina dari perekayasa-perekayasa yang berada di semua Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup DJPB, sehingga saya yakin kerjasama ini akan terus menghasilkan teknologi-teknologi terapan di bidang perikanan budidaya yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat”. Demikian disampaikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, dalam acara penandatanganan kerjasama antara DJPB-KKP dengan BPPT di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang.  


Saat ini, sector perikanan khususnya perikanan budidaya, terus di dorong untuk menjadi salah satu andalan dalam ketahanan pangan. Salah satu komoditas yang terkait dengan ketahanan pangan adalah Nila. “Ikan Nila adalah komoditas yang sudah lama dikenal oleh masyarakat luas, baik dari segi budidaya maupun rasanya. Melalui kerjasama teknologi dengan BPPT ini, kita mampu membudidayakan nila di kondisi air payau atau bahkan mendekati air laut yaitu antara 20 – 25 promil. Dengan komoditas ini kita akan bisa memanfaatkan lahan-lahan kosong di pinggir pantai untuk bisa lebih produktif dan menghasilkan. Tentunya ini akan mampu mendorong produksi, meningkatkan produktifitas, menyerap tenaga kerja, menambah pendapatan dan meningkatkan pendapatan masyarakat”, tambah Slamet. 

Slamet menambahkan bahwa berdasarkan data yang dihimpun oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/ FAO), produksi perikanan budidaya dunia telah mencapai 66 juta ton, jumlah itu telah mampu melebihi produksi daging sapi yang hanya 63 juta ton. Dan untuk produksi perikanan budidaya Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2012 produksinya 9,6 ton, 2013 targetnya 13 juta ton dan untuk tahun 20014 targetnya 16,9 juta naik 40% dari target tahun 2013.
 
“Tren target dari perikanan budidaya setiap tahun semakin meningkat, dan sejauh ini targetnya selalu terlampaui bahkan hasilnya lebih tinggi, apalagi masyarakat dunia sekarang lebih memilih mengkonsumsi ikan, dibandingkan dengan daging yang penuh dengan resiko maupun penyakit, dan ikan saat ini ikan menjadi pilihan makanan dunia,” kata Slamet

Lebih lanjut Slamet mengatakan bahwa perikanan nasional khususnya perikanan budidaya menjadi andalan ketahanan pangan nasional maupun dunia, memang benar adanya. Pasalnya adanya perubahan musim, cuaca yang tidak mendukung, sehingga menjadikan nelayan tidak dapat melaut sehingga menurunkan produktivitas perikanan tangkap. “Tapi tidak demikian dengan perikanan budidaya, karena bisa dikelola produktivitasnya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial. Bahkan bukan hanya menjadi andalan ketahanan pangan saja tapi bisa diekspor untuk cadangan devisa negara,” ungkap Slamet.


Kebijakan industrialisasi perikanan budidaya berbasis ekonomi biru yang digulirkan oleh KKP dan diikuti dengan program kebijakan lain seperti pola maupun skema budidaya yang lebih sistematis, diharapkan akan terus meningkatkan ketertarikan sektor perbankan maupun investor untuk membantu permodalan pembudidaya, belum lagi pengembangan teknologi yang terus menerus menjadikan produktivitas perikanan nasional semakin berkelas dan berkualitas tinggi. “Intinya adalah bahwa perikanan budidaya sudah siap menghadapi tantangan tahun 2014 dan tantangan pasar bebas ASEAN tahun 2015 nanti,” tegas Slamet
  
Pengembangan Teknologi
Dalam kesempatan yang sama, Kepala BPPT Marzan Al Iskandar mengatakan, potensi bisnis perikanan masing sangat besar dan terbuka lebar ke depan. Adanya kerjasama seperti ini merupakan merupakan langkah awal untuk terus mengembangkan kerjasamanya kedepan untuk peningkatan yang lebih baik lagi untuk perikanan budidaya. “Dengan potensi yang ada saya sangat optimism perikanan budidaya mampu sebagai penopang perekonomian nasional,” katanya.
Adanya kerjasama ini salah satu merefleksikan untuk dapat terus menggali potensi bisnis perikanan yang masih terbuka lebar dalam lingkup perikanan nasional untuk terus dikembangkan dengan inovasi yang terus tumbuh dan berkembang. “Adanya sinergi ini sangat penting guna pencapaian produktivitas perikanan budidaya nasional dimasa-masa mendatang,” tegasnya.
  
Kerjasama Hulu Hilir
Disamping penandatanganan kerjasama antara DJPT dan BPPT, juga dilakukan penandatanganan kerjasama antara BLUPPB Karawang dengan retailer seperti Hypermart dan D’Cost serta dengan PT. ADIB Global Food Supplies (AGFS). 
Direktur Utama PT AGFS, Budi Mulyono menyatakan bahwa perusahaannya berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan, dan sector perikanan budidaya dirasa cukup tepat untuk program ini karena mempunyai efek yang cukup besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Dan untuk menarik lebih banyak investor di bidang perikanan budidaya, perlu kita tingkatkan dan kita pikirkan bersama dalam hal meningkatkan system budidaya dari system tradisional ke system semi intensive atau intensive. Pemerintah telah memulai dengan program industrialisasi yang kami harapkan akan mampu menjaga kualitas dan kuantitas produk. Selain itu harus tetap meningkatkan budaya makan ikan, sehingga mampu meningkatkan konsumsi ikan”, katanya. 
Dari pihak retailer yaitu Hypermart yang diwakili oleh Manager Purchasing, Christine, menyatakan bahwa sampai saat ini permintaan fillet patin (Dorry) yang disuplly oleh PT AGFS dan bersumber dari BLUPPB Karawang sudah mencapai 10 ton perbulan. Dengan adanya nila salina ini diharapkan aka nada diversifikasi produk. “Karena nila cukup banyak digemari, sehingga ke depan akan banyak permintaan fillet nila”, ujarnya.
Sedangkan dari D’Cost yang diwakili oleh General Manager Purchasing, Utomo, mengatakan produk perikanan budidaya harus bisa memenuhi kebutuhan pasar dari segi ukuran. “sebagai contoh untuk nila harus ukuran satu kilo isi dua ekor. Apabila itu bisa dipenuhi, saya yakin permintaan nila akan meningkat karena rasa dan harganya yang pas dengan permintaan pelanggan”, ungkapnya.

Narasumber :
Dr. Ir. Slamet Soebjakto  
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya 
sumber: kkp.go.id

Sabtu, 01 Maret 2014

Nelayan Riwayatmu Kini

Tulisan saya di bawah ini juga telah dimuat di Bangka Pos edisi cetak kolom Opini hari Jum'at, tanggal 21 Februari 2014 dan di bangkapos.com :

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melarang penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi ke kapal nelayan dengan ukuran di atas 30 GT. pelarangan itu merupakan kado kesengsaraan bagi nelayan di tengah kondisi cuaca buruk yang membuat nelayan tidak bisa melaut.


Sangat disayangkan disaat kondisi cuaca buruk seperti saat ini yang mengakibatkan nelayan tidak bisa melaut, pemerintah justru menambah berat beban nelayan melalui pencabutan BBM subsidi bagi nelayan dengan kapal 30 GT ke atas.
Bahkan akibat kebijakan tersebut, para nelayan berencana melakukan aksi unjuk rasa yang akan dilakukan di Jakarta pada pertengahan minggu ini. Ribuan nelayan dari Indramayu, Cirebon, Tegal, Batang dan seluruh nelayan Pantura yang tergabung dalam Front Nelayan Bersatu (FNB), akan melakukan aksi ke kantor ESDM dan Istana Negara.
Pencabutan subsidi BBM itu telah diumumkan melalui surat yang dikeluarkan BPH Migas yang ditandatangani Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Someng Nomor 29/07/Ka.BPH/2014 Tanggal 15 Januari 2014.
Dalam surat tersebut dikeluarkan perintah kepada Pertamina, AKR dan Surya Parna Niaga agar tidak menyalurkan dan tidak melayani penyaluran jenis BBM tertentu (BBM Bersubsidi)  kepada konsumen pengguna usaha perikanan dengan ukuran Kapal di atas 30 gross ton (GT).
Surat tersebut ditujukan kepada Pertamina,  AKR Corporindo dan Surya Parna Niaga dengan tembusan antara lain kepada Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Keuangan Chatib Basri,  Menteri ESDM Jero Wacik  dan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutarjo.
Keputusan itu didasari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 15 Tahun 2012 tentang Harga Jual Eceran dan Konsumen Pengguna Jenis BBM tertentu, yang membatasi subsidi BBM untuk kapal di atas bobot mati 30 ton.             Perpres 15/2012 tentang Harga Jual Eceran dan Konsumen Pengguna Jenis BBM Tertentu tertanggal 7 Februari 2012 menyebutkan, hanya kapal dengan bobot maksimum 30 "gross" ton (GT) yang boleh menggunakan BBM bersubsidi.
Aturan tersebut disusul Peraturan Menteri ESDM Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Perpres 15/2012 tertanggal 24 Februari 2012 yang mengatur kapal di bawah 30 GT hanya boleh mengonsumsi BBM subsidi maksimal 25 kiloliter per bulan.
Ditambah lagi dengan adanya Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 18/2013 tentang Harga Jual Eceran Jenis BBM Tertentu untuk Konsumen Pengguna Tertentu, konsumsi solar bagi nelayan paling banyak 25 kiloliter per bulan. Selain itu juga ada surat Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Nomor 29/07/Ka.BPH/2014 yang mengatur penyaluran subsidi BBM oleh Pertamina.
Akibat kebijakan itu, nelayan yang biasanya membeli solar seharga Rp 5.500 per liter, kini menjadi Rp 13.500 per liter. Saat ini, harga solar industri telah mencapai sekitar Rp12.924 perliter. Sementara kebutuhan kapal terhadap BBM sekitar 25 ribu kilo liter (KL) perkapal untuk sekali melaut. Kondisi inilah yang diharapkan oleh nelayan untuk kembali dipertimbangkan sebelum dilakukannya pemberlakuan kebijakan tersebut. Dengan pencabutan subsidi itu, dipastikan nelayan tidak bisa lagi menjangkau harga BBM non-subsidi. 
Terlebih lagi menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan, dari sekitar 500.000 kapal perikanan, terdapat 95 persen berukuran di bawah 30 GT. Bisa dibayangkan berapa banyak nelayan yang kapalnya hanya menumpuk di dermaga dan tidak melaut karena harga BBM yang tinggi.

Sangat ironis sekali, sebelumnya juga ada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 30 Tahun 2012 tentang Usaha Perikanan Tangkap yang memberikan perlakuan khusus bagi kapal ikan asing berbobot lebih dari 1.000 GT (grosston) untuk melakukan transhipment (pengalihan muatan ikan ke kapal lain di laut). Hal tersebut dapat memberi celah bagi legalisasi pencurian ikan (illegal fishing). Dapat dibayangkan jumlah kapal nelayan Indonesia yang berbobot lebih dari 1.000 GT hanya sedikit, dan yang memiliki kapal dengan ukuran besar adalah kapal asing.


Nelayan kecil semakin terpuruk
Keterpurukan dan ketidakberdayaan nelayan semakin diperparah dengan kenaikan harga dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), keterbatasan peralatan dan modal, bunga pinjaman yang tinggi ,cuaca ekstrem, serta ketidakpastian hasil tangkapan dan harga penjualan. Hal ini sangat memberatkan nelayan karena 70 sampai 80 persen dari total biaya melaut adalah untuk membeli bahan bakar.


Kenaikan harga bahan bakar diperparah lagi dengan kelangkaan BBM tersebut. Bagaimana tidak, terbatasnya stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) dan kios pengisian solar nelayan di sentra produksi, memaksa nelayan membeli bahan bakar eceran yang harganya lebih mahal. Hal ini diperparah dengan adanya penghapusan BBM bersubsidi untuk ukuran kapal tertentu.
Disaat cuaca ekstrem seperti saat ini, banyak nelayan yang memutuskan tidak melaut karena sangat berbahaya. Jika ada yang nekat melaut, tidak sedikit dari mereka yang meninggal dan hilang karena diterjang ombak. Berbeda dengan nelayan asing, mereka masih bisa melaut menangkap ikan di perairan Nusantara meski dalam cuaca ekstrem karena kecanggihan kapal mereka.
Cuaca ekstrem ini bahkan bisa sampai selama sebulan dan selama itulah nelayan kita makin kewalahan untuk menghidupi keluarganya. Dan sampai saat ini belum banyak nelayan yang mendapatkan pekerjaan alternatif pada saat cuaca ekstrem. Sebagian kecil memang sudah ada yang memiliki pekerjaan alternatif, misalnya budidaya perikanan, bertani, berdagang, dan beternak. Akan tetapi sebagian besar masih banyak yang mengandalkan penghasilan dari mencari ikan di laut.
Terakhir, kehidupan nelayan berada di atas gelombang ketidakpastian. Ada kalanya mereka mendapatkan hasil yang melimpah, tetapi ada juga kalanya mengalami masa paceklik. Dalam soal harga penjualan hasil ikan tangkapan  juga demikian. Nelayan makin tersakiti ketika harga ikan impor lebih murah daripada ikan domestik. Padahal ikan impor yang masuk ke Indonesia bisa jadi adalah hasil tangkapan nelayan asing dari perairan Nusantara.
Kondisi inilah yang mengantar dan memaksa nelayan terjebak dalam belenggu kemiskinan dan ketidakpastian hidup. Hal ini juga membuat merosotnya minat generasi muda nelayan untuk mengikuti jejak orangtuanya. Mereka akhirnya lebih memilih menjadi penambang timah bagi anak nelayan yang ada di wilayah Bangka Belitung, sebagai buruh di perusahaan, kuli bangunan atau merantau menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI).


Tanpa ada keseriusan dari negara ini untuk mengembangkan potensi bahari dan memberdayakan nelayan, maka tidak mustahil ke depan Indonesia akan mengalami krisis ikan dan juga krisis nelayan.
Dengan keadaan seperti di atas, seharusnya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang lebih fokus dan memiliki keberpihakan kepada rakyat utamanya rakyat kecil, yaitu nelayan. Bukan malah menerbitkan kebijakan yang menimbulkan pro kontra yang sepertinya hanya berpihak pada sebagian golongan tertentu, utamanya pelaku usaha besar atau pelaku usaha asing yang justru semakin memperburuk kondisi pelaku usaha perikanan kecil, utamanya nelayan tradisional.
Memang dibutuhkan kerjasama yang bersinergis antara pemerintah dan masyarakat utamanya pelaku usaha di bidang kelautan dan perikanan agar bisa mewujudkan kesejahteraan yang nyata bagi semuanya.

Kamis, 27 Februari 2014

Asistensi Penyusunan Lakip dan Revisi Renstra SKPD 2013

Hari ini adalah hari yang penuh warna. Mendapat kesempatan menghadiri undangan "Asistensi Penyusunan Lakip dan Revisi Renstra" adalah hal yang sangat menyenangkan. Saya mendapat pengalaman dan ilmu baru dimana tidak ada hubungannya dengan jabatan fungsional seorang  penyuluh.



Mampu membuka cakrawala baru bahwa semuanya ternyata saling berkaitan, bersinergi dan berhubungan antara: RPJM, Renstra, Renja, Tapkin dan Lakip. sungguh sesuatu bangets gitu lho...

semoga ilmu tersebut bermanfaat dan maslahat bagi kemajuan dan perkembangan instansi di mana kita bekerja sebagai abdi negara dan abdi masyarakat.

tetap semangaaat...
aira riswana





Sabtu, 08 Februari 2014

Pengawasan SDKP Mewujudkan Kelestarian Sumberdaya Kelautan Dan Perikanan


Pada tahun 2013 Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) terus melaksanakan pengawasan untuk mewujudkan Indonesia bebas illegal fishing dan kegiatan yang merusak sumber daya kelautan dan perikanan, yang pada akhirnya mendukung kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 



Tercatat selama Tahun 2013, Ditjen. PSDKP berhasil memeriksa 3.871 kapal ikan yang diduga melakukan illegal fishing. Dari jumlah tersebut 68 kapal diadhoc untuk proses hukum oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Perikanan. Kapal ikan yang ditangkap tersebut didominasi oleh Kapal Ikan Asing (KIA), sebanyak 44 kapal, dan sisanya, 24 kapal merupakan Kapal Ikan Indonesia (KII). Hal ini menunjukkan bahwa perairan Indonesia masih menjadi surga bagi para pelaku illegal fishing  dari negara lain. Demikian diungkapkan Direktur Jenderal PSDKP, Syahrin Abdurrahman, pada acara konferensi pers Capaian Kinerja Tahun 2013 dan Rencana Kegiatan Tahun 2014, Ditjen. PSDKP di Jakarta, (42). 

Selain upaya repressive (penegakan hukum) oleh Kapal Pengawas Perikanan, pengawasan juga ditekankan pada upaya-upaya preventive (pencegahan) dan pre-emtive (penangkalan dini) melalui kegiatan sosialisasi, pembinaan masyarakat nelayan, pemeriksaan kapal-kapal di darat/pelabuhan sebelum dan setelah melakukan penangkapan ikan, pemantauan dengan Vessel Monitoring System (VMS), pemeriksaan terhadap unit-unit pengolahan ikan, peredaraan ikan di pasar, dan usaha budidaya ikan, ungkap Syahrin.
 
Selanjutnya, Direktur Jenderal PSDKP, menjelaskan dari 3.758 kapal perikanan yang telah terpasang transmitter VMS, ditemukan dugaan pelanggaran atas 229 kapal, yang terdiri dari 26 kapal diduga melakukan transhipment, 78 kapal pelanggaran teritorial, 2 kapal transhipment dan pelanggaran teritorial, 4 kapal membawa tangkapan langsung ke luar negeri, 112 melanggar fishing ground, dan 7 kapal tidak masuk pelabuhan check point. Atas dugaan pelanggaran tersebut, Ditjen. PSDKP telah menyampaikan 38 rekomendasi sanksi kepada Ditjen. Perikanan Tangkap selaku otoritas perijinan, dan telah ditindaklanjuti dengan peringatan kepada 1 kapal, dan membekukan ijin 5 kapal ikan.
 
Selanjutnya, Direktur Jenderal PSDKP, menjelaskankan bahwa pengawasan terhadap lingkungan sumber daya kelautan dan perikanan juga tidak kalah pentingnya, mengingat kelestarian dan stok sumber daya ikan tidak dapat terlepas dari kondisi lingkungannya. Oleh sebab itu Ditjen. PSDKP juga melakukan pengawasan terhadap ekosistem perairan dan kawasan konservasi, pencemaran perairan, survei dan pengangkatan Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT), dan pemanfaatan sumber daya non hayati lainnya. Selain itu, dalam rangka mengawal UU 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (PWP3K), yang telah direvisi dengan UU 1/2014 tentang Perubahan Atas UU 27/2007 tentang PWP3K, Ditjen. PSDKP telah membentuk 167 Pengawas PWP3K dengan kewenangan Kepolisian Khusus atau disebut Polsus PWP3K. Kewenangan Polsus PWP3K diantaranya, mengadakan patroli di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta menerima pengaduan masyarakat terkait kegiatan yang merusak sumber daya ikan.
 
Untuk mendukung tugas-tugas pengawasan, Ditjen. PSDKP juga mengembangkan sarana dan prasarana pendukung. Seperti, pada Tahun 2013, Ditjen. PSDKP telah berhasil menambah 2 armada Kapal Pengawas, yaitu Hiu Macan Tutul 002 dengan panjang 42 meter dan berbahan baja yang akan dioperasikan di Laut Natuna, serta Hiu 011 berbahan aluminium dengan panjang 32 meter yang akan mendukung pengawasan konservasi di Raja Ampat. Selain itu, melalui program Sistem Kapal Inspeksi Perikanan Indonesia (SKIPI), pada bulan November 2013, juga telah dimulai pembangunan 4 kapal pengawas Tipe A dengan panjang 60 meter yang secara resmi dilaksanakan keel laying oleh Menteri Kelautan dan Perikanan.
 
Dalam perjalanan mewujudkan kesejahteraan nelayan, Ditjen PSDKP melaksanakan upaya perlindungan nelayan melalui kegiatan advokasi terhadap nelayan yang tertangkap di luar negeri. Sampai dengan Tahun 2013 Ditjen. PSDKP bekerjasama dengan Kemenlu telah berhasil membebaskan dan memulangkan 421 nelayan, terdiri dari 209 nelayan dari Malaysia, 157 nelayan dari Australia, 20 nelayan dari Rep. Palau, 7 nelayan dari Papua Nugini, dan 14 nelayan dari Timor Leste.
 
Prioritas Kegiatan Tahun 2014
 
Selanjutnya Syahrin, menjelaskan memasuki Tahun 2014, Ditjen. PSDKP akan terus melakukan inovasi dan meningkatkan kinerjanya untuk mencapai tujuan melindungi sumber daya kelautan dan perikanan dari pengrusakan dan kegiatan ilegal, serta mewujudkan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan bidang kelautan dan perikanan. Hal ini dilakukan melalui beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan, antara lain :
  1. Operasional pemantauan dan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan di Pangkalan/Stasiun/Satker/Pos PSDKP,
  2. Pengembangan infrastruktur pengawasan (pembangunan kapal pengawas SKIPI Tahap 1, pembangunan 3 unit speedboat pengawasan, longrange camera di Kapal Pengawas, pengembangan Regional Monitoring Centre (RMC) di Bitung dan Belawan, pembangunan prasarana pengawasan di UPT),
  3. Implementasi Sistem Pengawasan Terpadu (Integrated Surveillance System/ISS),
  4. Operasional 27 unit Kapal Pengawas (90 hari) dan kerjasama operasi pengawasan dengan instansi terkait,
  5. Pembinaan dan pemberdayaan Pokmaswas di 33 Provinsi,
  6. Penyelesaian tindak pidana bidang kelautan dan perikanan,
  7. Melaksanakan advokasi nelayan yang tertangkap di luar negeri,
  8. Pengembangan konsep Monitoring, Control, and Surveillance (MCS),
  9. Penguatan SDM pengawasan,
  10. Penguatan kerjasama bidang SDKP melalui forum RPOA dan IASFS,
  11. Penataaan dan pengembangan kelembagaan pengawasan,
  12. Pemenuhan regulasi di bidang pengawasan, dan
  13. Implementasi Reformasi Birokrasi.
sumber: kkp.go.id

Rabu, 01 Januari 2014

Liburan Bermanfaat

Tulisan saya di bawah ini juga dimuat di Bangka Pos pada Hari Kamis, tanggal 26 Desember 2013 dan di media online bangkatribunnews.com :
Liburan sekolah akan segera tiba, sesuatu yang ditunggu anak-anak sekolah baik dari tingkat SD hingga SMU akhirnya sampai juga. Mereka pasti mempunyai banyak rencana, seperti liburan ke rumah kakek dan nenek, rekreasi ke tempat wisata baik yang ada di sekitarnya (domestik) bahkan berliburan ke luar negeri.
Semua aktifitas liburan akan sangat menyenangkan, karena dapat bertemu dengan sanak saudara. Jikalau berlibur ke kampung halaman kakek dan nenek, bisa berjumpa dengan kakek, nenek, paman, bibi, saudara sepupu dan saudara-saudara yang lainnya, bahkan bisa berkenalan dengan teman-teman baru. Melihat pemandangan yang baru yang jarang ditemui di rumah sehari-hari, seperti kerbau di sawah, pantai, gunung dan lain-lain. Atau mendapat pengalaman baru bertemu dengan orang asing yang berbeda bahasa karena berwisata ke luar negeri.
Tetapi itu semua memungkinkan kalau ada kesempatan seperti tempat tinggal kakek-nenek memang di desa/ daerah yang berbeda. Kalau tempat tujuan (kakek-nenek, paman-bibi) juga sama kotanya, mungkin pengalamannya hampir sama yaitu sama-sama melihat kemacetan, jika tinggalnya di kota besar di pulau Jawa.
Kita bisa liburan ke luar negeri jika ada dana yang cukup, bukankah ke luar negeri butuh biaya banyak kan?, belum lagi masih harus mengurus paspor dan visa, pesan tiket pesawat jauh-jauh hari sebelumnya dan lainnya. Dan itu semua masih memerlukan effort kita sebagai orangtua. Kalau liburan ke dalam negeri, kita mungkin bisa mengantar dan menjemput ke tempat tujuan, tapi kalau ke luar negeri mau tak mau harus ikut menemani. Tidak apa-apa kalau kita punya kesempatan menemani, kalau tidak?.
Ada alternatif lain liburan yang bisa mencakup itu semua yaitu dapat teman dan pengalaman baru, melihat pemandangan yang berbeda, namun masih ada plus-nya. Yakni belajar bahasa Inggris dan atau memelihara ikan di sekitar rumah. Liburan bahasa inggris, liburan di manakah itu?
Liburan di desa Tulungrejo dan sekitarnya di kecamatan Pare, Kediri, Jawa Timur. Lokasi ini masih di desa yang sangat ramah penduduknya serta suasana pedesaan yang juga masih terasa meskipun mungkin sekarang desa ini menjelma menjadi sebuah kota kecil.
Ada areal persawahan, hewan kerbau, sapi, serta sentra budidaya air tawar di desa Canggu yang sangat dekat dengan Candi Surowono. Kota Pare juga dekat dengan gunung Kelud, sehingga bisa melihat pemandangan pegunungan. Ada candi dan peninggalan purba lainnya bekas kerajaan-kerajaan seperti kerajaan Dhoho, Kediri, Majapahit dan lainnya. Misalnya Candi Surowono yang terletak di desa sentra budidaya ikan air tawar di desa Canggu dan Candi Tegowangi di sebelah Barat kota pare tepatnya di desa Tegowangi kecamatan Plemahan.
Jika beruntung bisa menikmati buah dari pohonnya seperti durian, pepaya, belimbing, mangga, sawo dan lainnya. Untuk saat ini yang sedang musim adalah buah mangga dan sawo. Sawo banyak dijumpai di desa Bringin kecamatan Pare, untuk mangga ada mangga podang yang merupakan mangga khas Kediri yang sentranya ada di Kecamatan Banyakan.
Dengan kursus/ les bahasa Inggris, selain menambah ilmu pengetahuan khususnya bahasa Inggris, kita juga dapat berkenalan dengan teman-teman baru dari seluruh Indonesia. Kampung ini banyak sekali tempat kursus bahasa Inggris yang membuatnya terkenal seantaro Nusantara. Kursus bahasa Inggris ini ada yang dari jenjang anak tingkat SD sampai anak Kuliahan bahkan untuk khalayak umum juga ada.
Jika memiliki ketertarikan dengan budidaya perikanan, saat ada waktu luang kita juga bisa mengunjungi sentra budidaya ikan air tawar di desa Canggu. Letaknya hanya sekitar 3 km dari kampung inggris.
Banyak orang pergi ke kampung ini untuk belajar bahasa Inggris terutama di waktu liburan sekolah. Sehingga di sana bisa bertemu dengan banyak manusia, ada yang berasal dari Kalimantan, Jakarta, Sulawesi, Sumatra, Nusa Tenggara dan lainnya.



Mahal kah biayanya? Tentu tidak. Terdapat aneka paket kursus selama liburan, sekitar 1 minggu, dengan biaya hanya sekitar 100 ribu. Tentu masih banyak paket kursus lain dengan berbagai variasi waktu dan intensifikasi jam pelajaran. Sehingga harganya juga berbeda. Biaya tambahan yang dikeluarkan salah satunya biaya untuk tempat tinggal (kost) dan makan. Namun Pare bukanlah kota besar, sepiring nasi pecel masih Rp 2.500,-, murah banget kan, gorengan dengan hargaa Rp 500,- an masih dapat dijumpai di sana. Meskipun kota kecil, Pare juga ramai lho karena adanya “kampung Inggris” di desa Singgahan dan sekitarnya yang tidak pernah sepi dari aktifitas kursus bahasa Inggris. Untuk informasi lebih lengkapnya anda bisa klik di: biaya dan tempat kursus.
Liburan koq masih belajar bahasa Inggris dan jauh pula dari pulau Bangka. Jika anda kurang suka dan ingin agar anak-anak kita bisa menikmati liburan dengan lebih santai, menyenangkan dan biaya yang relatif lebih murah, maka ada alternatif lainnya. Kenapa tidak mencoba mengisi liburan dengan memelihara ikan atau membudidayakan ikan di pekarangan atau rumah, bisa ikan air tawar ataupun ikan hias. Apalagi jika ada biaya atau modal, kenapa tidak dipergunakan untuk memulai berwirausaha dengan memelihara ikan.
Budidaya ikan air tawar merupakan salah satu kegiatan yang sebenarnya sangat menyenangkan, karena selain sebagai cara untuk memberikan ketentraman dan kenyamanan dalam hati juga bisa meningkatkan pendapatan sebagai usaha kita khususnya meningkatkan gizi dan juga pendapatan perekonomian bagi keluarga.
Melakukan Usaha Perikanan Budidaya tidaklah sulit dan itu sangat mudah karena tidak memerlukan pengetahuan atau keahlian khusus, kecuali keseriusan kita dalam menekuni usahanya yaitu dengan memperhatikan teknik budidaya. Semakin sering kita mencoba untuk melakukan usaha tersebut semakin banyak pengalaman yang kita dapat, semakin tentram perasaan hati dan semakin merasa bahagia.
Terlebih lagi di wilayah kepulauan Bangka Belitung prospek budidaya ikan air tawar sangat menjanjikan. Hal ini disebabkan karena ketersediaan lahan yang masih banyak, seperti air bekas kolong timah, serta masih sedikit orang yang berkenan melakukan pembudidayaan ikan, padahal permintaan akan ikan air tawar mengalami peningkatan. Salah satu contohnya adalah permintaan akan ikan lele untuk memenuhi kebutuhan bagi warung-warung makanan yang menjual olahan ikan lele seperti pecel lele.
Seperti yang diberitakan di Bangka Pos, hari Rabu tanggal 18 Desember 2013 para nelayan di salah satu Kabupaten di pulau Bangka mengalami paceklik. Nelayan kesulitan melaut dikarenakan adanya perubahan cuaca, gelombang yang tinggi disertai angin kencang. Selain itu, perubahan arus laut menyebabkan mereka kesulitan menangkap ikan.
Nelayan terpaksa menganggur, mereka tidak memiliki pekerjaan alternatif selain melaut. Sementara itu, ada beberapa nelayan yang beralih menjadi buruh bangunan dan pencari pasir timah. Hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di saat paceklik.
Kenapa tidak mencoba memberikan alternatif lain kepada nelayan, misalnya kerjasama Pemerintah Daerah dan Instansi terkait khususnya Dinas kelautan dan Perikanan dengan memberikan pelatihan kepada nelayan mengenai budidaya ikan air tawar, budidaya ikan dengan menggunakan kolam terpal, serta pelatihan pengolahan lebih lanjut dari hasil perikanan menjadi produk yang lebih memiliki daya jual yang tinggi.
Sedangkan untuk para nelayan, kenapa tidak terbersit keinginan untuk memulai usaha budidaya ikan air tawar skala kecil dengan memanfaatkan lahan dan apa saja yang ada di sekitarnya. Alangkah baiknya jika memiliki anak maka di moment liburan kali ini melibatkan anak-anak dalam membudidayakan ikan air tawar. Tidak usah ikan yang sulit perawatannya,  karena ada ikan yang sangat mudah dibudidayakan seperti ikan nila, ikan lele, ikan mujahir maupun ikan mas.
Jika lahan rumah sempit, dapat memelihara ikan di akuarium mini, atau di bak-bak penampungan. Apabila lahan pekarangan luas, bisa membuat kolam ikan baik kolam tanah, kolam beton ataupun dengan membuat kolam dari terpal. Untuk ukuran kolam disesuaikan dengan dana/ modal yang dimiliki. Jika di dekat rumah ada kolong bekas timah, kenapa dibiarkan begitu saja. Lahan bekas galian timah juga bisa kita pergunakan untuk memelihara ikan, bisa dengan KJA (karamba jaring apung) atau langsung dengan restocking, yaitu menebar ikan di kolong bekas galian timah.


Memelihara ikan atau budidaya ikan  banyak cara yang dilakukan, baik secara tradisional atau sederhana, maupun dengan cara modern sesuai dengan teknologi yang telah berkembang. Sedangkan ikan yang dipelihara, bisa berupa ikan hias yang sangat disukai oleh anak-anak kita, atau ikan konsumsi yang bisa dinikmati untuk menu makan sehari-hari, seperti ikan lele, ikan mas, ikan mujahir, ikan nila ataupun gurame. Untuk pembelian bibit atau benih ikan dapat di beli di sentra penjualan benih ikan air tawar seperti di Balai Benih Ikan ataupun pembudidaya ikan yang khusus menjual benih-benih ikan air tawar tersebut.
Salah satu contohnya, usaha budidaya ikan lele ini tampaknya dapat senantiasa beruntung. Hal ini dikarenakan makin meningkatnya kesadaran penduduk akan pentingnya ikan sebagai sumber protein yang tinggi dengan harga yang terjangkau. Ikan dapat menjadi alternatif mengingat harga daging yang semakin hari semakin mahal. Salah satunya, ikan lele yang mempunyai nilai gizi  tinggi, di samping dagingnya yang gurih. Ikan lele memiliki kandungan protein yang tinggi serta zat penguat tulang (kalsium) yang baik untuk makanan anak balita. Di samping itu ikan lele juga memiliki kandungan mineral lain yang mutlak juga untuk kesehatan tubuh.
Ikan juga sangat dibutuhkan oleh anak-anak untuk membantu perkembangan tubuhnya karena ikan mengadung protein 16-24%. Selain itu, ikan mengandung lemak antara 0,2-2,2%, karbohidrat, mineral, dan vitamin. Ikan juga cocok untuk dikonsumsi oleh penderita tekanan darah tinggi karena kandungan kolesterolnya sedikit. Kolesterol ini merupakan lemak yang jenuh yang bias menyebabkan penyakit atau kambuhnya tekanan darah yang tinggi.
Anak-anak akan sangat senang ketika di dalam rumah terdapat akuarium berisi aneka ikan hias warna-warni atau benih-benih ikan air tawar yang dalam ukuran kecil sangat indah dilihat. Anak-anak juga akan gembira ketika ikan air tawar yang dipelihara di kolam terpal atau kolam ikan semakin tumbuh membesar dan siap dipanen. Mereka akan memiliki rasa tanggungjawab dan sayang pada makhluk hidup karena secara rutin harus memberi makan berupa pellet ke ikan-ikan yang dipelihara.
Di saat ikan konsumsi peliharaan siap panen, anak akan sangat suka diajak ikut terlibat memanen, mengolah ikan hingga siap di santap sebagai menu makan di meja keluarga. Hal ini juga akan mempererat kedekatan anak dengan orangtua.
Jika skala usaha memelihara ikan lebih besar, anak akan ikut serta dan mengetahui proses budidaya ikan dari awal saat pembelian benih, tebar benih, pemeliharaan ikan hingga ikan siap panen dan di jual. Hal ini akan menumbuhkan rasa tanggungjawab serta enterpreneur pada diri anak-anak. Kegembiraan akan terpancar di wajah mereka karena ikan peliharaannya laku terjual. Mari manfaatkan lahan yang ada di sekitar rumah untuk usaha budiaya ikan yang akan mendatangkan keuntungan jika dikelola dengan baik.
Seperti tulisan saya yang pernah dimuat di Bangka Pos pada hari Sabtu, tanggal 14 Desember 2013 tentang “Budayakan Memelihara Ikan di Pekarangan”. Maka, mari manfaatkan moment liburan sekolah ini dengan mengajak anak-anak kita untuk melakukan kegiatan yang positif dan bermanfaat. Kegiatan tersebut dapat berupa memelihara ikan di pekarangan rumah. Dapat juga mengisi liburan sekolah dengan kursus bahasa inggris/ pun kursus-kursus yang lainnya yang akan mendatangkan manfaat bagi anak-anak kita. Selamat menikmati moment liburan sekolah dengan kegiatan positif dan bermanfaat bagi anak-anak kita. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca.