Jumat, 04 Desember 2015

Prrospek Budidaya Ikan Sidat

Kalau dilihat Ikan sidat ini bentuknya sekilas mirip dengan belut namun sebenarnya Sidat ini berbeda dengan belut, sidat memiliki sirip dada, sirip punggung, dan Sirip dubur yang sempurna, sehingga orang menduga sirip itu adalah “daun bertelinga‟ sehingga dinamakan pula „belut bertelinga‟.

Sidat tumbuh besar di perairan tawar, setelah dewasa kembali ke laut untuk berpijah. Dalam siklus hidupnya, setelah tumbuh dan berkembang dalam waktu yang panjang di perairan tawar, sidat dewasa yang lebih dikenal dengan yellow eel berkembang menjadisilver eel (matang gonad) yang akan bermigrasi ke laut untuk memijah. Setelah memijah, induk akan mati.

Indonesia paling sedikit memiliki enam jenis ikan sidat yakni: Anguilla marmorata, Anguilla celebensis, Anguilla ancentralis, Anguilla borneensis, Anguilla bicolor bicolor dan Anguilla bicolor pacifica. Di Jepang, laboratorium penelitian sidat, berusaha untuk menemukan teknik pemijahan secara buatan seperti halnya kita memijahkan ikan mas, lele dan udang.
Ikan sidat yang ditangkap dari alam khususnya Anguilla bicolor termasuk ikan berlemak rendah dan sedang dengan kadar protein yang tinggi. Salah satu penelitian menghasilkan protein berkisar 17,5- 21,5%, air 71,5-75,9%, lemak 3,3-9,5% dan abu 1,0-1,6%.
Ikan sidat, Anguilla spp merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki prospek karena sangat laku di pasar internasional seperti: Jepang, Hongkong, Belanda, Jerman, Italia dan beberapa negara lain; dengan demikian ikan sidat ini memiliki potensi sebagai komoditas ekspor. Di Indonesia, sidat banyak ditemukan di daerah-daerah yang berbatasan dengan laut dalam seperti pantai selatan Pulau Jawa, pantai barat Sumatera, pantai timur Kalimantan, pantai Sulawesi, pantai kepulauan Maluku dan Irian Barat. 
Berbeda halnya di negara lain seperti (Jepang, dan negara negara Eropa), di Indonesia sumberdaya sidat belum begitu banyak dimanfaatkan, padahal ikan liar ini baik dalam ukuran benih maupun ukuran konsumsi jumlahnya cukup melimpah.
Tingkat pemanfaatan sidat secara lokal (dalam negeri) masih sangat rendah, akibat belum banyak dikenalnya ikan ini, sehingga kebanyakan penduduk Indonesia belum familiar untuk mengkonsumsi sidat. Demikian pula pemanfaatan sidat untuk tujuan ekspor masih sangat terbatas. Agar sumberdaya sidat yang keberadaannya cukup melimpah ini dapat dimanfaatkan secara optimal, maka perlu dilakukan langkah-langkah strategis yang diawali dengan mengenali daerah disekitar kita yang memiliki potensi sumberdaya sidat mulai dari benih dan ukuran konsumsi yang kemudian dilanjutkan dengan upaya pemanfaatannya baik untuk konsumsi lokal maupun untuk tujuan ekspor.
Berkaitan dengan Program kementerian kelautan dan Perikanan dalam usaha  terhadap target peningkatan produksi perikanan sebesar 353% pada tahun 2014 dimana sebanyak 16,89 juta ton berasal dari perikanan budidaya, yang akan menjadikan Indonesia sebagai negara produsen perikanan terbesar di dunia pada tahun 2015 menjadi isu terdepan yang harus dipikirkan langkah-langkah strategis pencapaiannya. Salah satunya dengan adanya program minapolitan yang bertujuan menggenjot produksi perikanan daerah, serta dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi untuk perikanan komoditas unggulan. Buktinya terlihat dari salah satu spesies ikan kegemaran warga Jepang, yaitu ikan sidat atau unagi, yang banyak hidup di perairan Indonesia. Selain digemari karena kandungan gizi yang tinggi, harga sidat sangatlah fantastis.
A. KARAKTERISTIK SIDAT
Dalam ilmu taksonomi hewan, menurut Nelson (1994) ikan sidat diklasifikasikan sebagai berikut:
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Subkelas : Neopterygii
Division : Teleostei (Ikan bertulang belakang)
Ordo : Anguilliformes (Sidat)
Famili : Anguillidae
Genus : Anguilla
Species : Anguilla spp.
Tubuh sidat bersisik kecil-kecil membujur, berkumpul dalam kumpulan-kumpulan kecil yang masing-masing kumpulan-kumpulan terletak miring pada sudut siku terhadap kumpulan-kumpulan di sampingnya. Bentuk tubuh yang memanjang seperti ular memudahkan bagi sidat untuk berenang diantara celah-celah sempit dan lubang di dasar perairan seperti ular. Warna tubuh abu-abu gelap di punggung, di bagian dada/perut berwarna keputihan.
Panjang tubuh ikan sidat bervariasi tergantung jenisnya yaitu antara 50-125 cm. Ketiga siripnya yang meliputi sirip punggung, sirip dubur dan sirip ekor menyatu. Selain itu terdapat sisik sangat kecil yang terletak di bawah kulit pada sisi lateral. Perbedaan diantara jenis ikan sidat dapat dilihat antara lain dari perbandingan antara panjang preanal (sebelum sirip dubur) dan predorsal (sebelum sirip punggung), struktur gigi pada rahang atas, bentuk kepala dan jumlah tulang belakang.
Sidat termasuk ikan karnivora (pemakan daging). Sama halnya dengan belut sawah (Monoterus albus/Fluta alba), lele (Clarias batracus), dan gabus (Ophiocephalus striatus). Di alam aslinya, sidat memangsa ikan, kodok, udang, dan juga sesama sidat (kanibalisme).
Kanibalisme akan terjadi apabila populasi sidat dalam satu koloni sangat besar, tetapi volume pakan kurang.
B. SIKLUS HIDUP SIDAT
Pada stadium larva, sidat hidup di laut. Bentuknya seperti daun lebar, tembus cahaya, dan dikenal dengan sebutan leptocephalus. Larva ini hidup terapung-apung di tengah samudera. Leptocephalus hidup sebagai plankton terbawa arus samudera mendekati daerah pantai. Pada stadium elver, sidat banyak ditemukan di pantai atau muara sungai.
Panjang tubuh 5-7 cm, tembus cahaya. Burayak (anak ikan/impun) akan hidup di air payau sampai umur satu tahun. Ketika itulah sidat akan berenang melawan arus menuju hulu sungai. Setelah bertemu dengan perairan yang dalam dan luas, misalnya lubuk, bendungan, rawa atau danau, sidat akan menetap dan tumbuh menjadi ikan buas dan liar. Impun dewasa inilah yang selanjutnya dikenal sebagai sidat. Ketika itulah dia akan kembali ke laut lepas untuk kawin dan berkembang biak. Setelah berpijah, induk akan mati. Pola hidup sidat bertolak belakang dengan ikan salmon (Salmonidae). Salmon justru hidup di laut, tetapi kawin dan berkembang biak di air tawar di pedalaman. Perilaku catadromous, tidak hanya terjadi pada sidat, melainkan juga udang galah.

Gambar Larva sidat dan tingkat pertumbuhannya

Keterangan: perkembangan larva sidat dari leptocephalus sampai menjadi impun, yang banyak ditangkap di tepi pantai

C. JENIS-JENIS SIDAT
Sidat (eels) adalah ikan dari famili Anguillidae. Ada sekitar 16 sd. 20 spesies sidat, yang kesemuanya merupakan genus Anguilla. Di antaranya adalah Sidat Eropa (Anguilla anguilla); Sidat Jepang (Anguilla japonica), Sidat Amerika (Anguilla rostrata); Sidat sirip pendek (Anguilla australis), Sidat putih (Anguilla marmorata), Sidat loreng (Anguilla nebulosa), Sidat loreng India (Anguilla bengalensis bengalensis), Sidat loreng Afrika (Anguilla bengalensis labiata), Sidat sirip pendek.
Indonesia (Anguilla bicolor bicolor), sidat sirip pendek india (Anguilla bicolor pacifica), sidat sirip panjang Indonesia (Anguilla malgumora), sidat sirip panjang Sulawesi (Anguilla celebensis), sidat sirip panjang Selandia Baru (Anguilla dieffenbachii), sidat sirip panjang dataran tinggi (Anguilla interioris), sidat sirip panjang Polynesia (Anguilla megastoma), sidat sirip panjang Afrika (Anguilla mossambica), sidat sirip pendek pasifik atau sidat pasifik selatan (Anguilla obscura), sidat bintik sirip panjang atau sidat sirip panjang Australia (Anguilla reinhardtii).
 Siklus hidup sidat

Sidat merupakan ikan catadromous. Yakni ikan yang hidupnya di perairan air tawar di pedalaman. Baik berupa sungai besar, danau, waduk atau rawa, tetapi berkembangbiak di laut. Indonesia paling sedikit memiliki enam jenis ikan sidat yakni: Anguilla marmorata, Anguilla celebensis, Anguilla ancentralis, Anguilla borneensis, Anguilla bicolor bicolor dan Anguilla bicolor pacifica. Jenis-jenis ikan tersebut menyebar di daerah-daerah yang berbatasan dengan laut dalam. Di perairan daratan (inland water) ikan sidat hidup di perairan estuaria (laguna) dan perairan tawar (sungai, rawa dan danau) dataran rendah hingga dataran tinggi.
]enis sidat yang sering ditangkap nelayan hanya dua yaitu sidat kembang (Anguilla mauritiana) dan sidat anjing (Anguilla bicolon). Kedua jenis ini berdiam dalam lubang pada cadas-cadas atau diantara sela-sela batu, dan yang disukai masyarakat adalah sidat kembang. Sidat anjing kurang disukai, bahkan ditolak untuk menyantap dagingnya karena namanya yang diembel-embel "anjing".
Sidat Indonesia Anguilla bicolor bicolor, Anguilla marmorata, maupun Anguilla celebensis, populasinya sangat mengkhawatirkan. Sidat Sulawesi, Anguilla celebensis yang terdapat di danau Poso, Sulawesi Tengah, malahan sudah sangat kritis keadaannya. Sebab sidat ini hanya endemik di pulau Sulawesi. Beda dengan Anguilla bicolor bicolor dan Anguilla marmorata yang meskipun diberi nama Indonesia, sebaran habitatnya mulai dari Madagaskar sampai ke Pasifik. Meskipun populasi Anguilla bicolor bicolor, dan Anguilla marmorata masih tidak sekritis Anguilla celebensis, namun penelitian untuk budidaya secara intensif sudah sangat mendesak.Budidaya ikan sidat, bukan sekadar usaha peternakan, melainkan sebuah matarantai agroindustri yang satu sama lain saling terikat.

D. KANDUNGAN GIZI SIDAT
Komposisi kimia hasil perikanan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam diantaranya adalah penyakit dan keturunan (jenis/gen). Sedangkan faktor luar dipengaruhi oleh kondisi lingkungan baik biotik maupun abiotik. Stadia fisiologis juga akan mempengaruhi komposisi. Pada stadia juvenile, remaja, matang gonad, dan pascamemijah komposisi kimia akan disesuaikan dengan kebutuhan fisiologis dari hasil perikanan. ]enis makanan yang tersedia juga mempengaruhi komposisi kimia ikan, sebagai contoh hasil penelitian yang memberikan perlakuan pakan tambahan dengan karbohidrat pada ikan Anguilla anguilla memperoleh komposisi sebagai berikut: air 57,21%, protein 15,89%, lemak 25,61%, dan abu 2,12%. 
Sebaliknya hasil penelitian terhadap ikan sidat (Anguilla bicolor) yang diberi pakan protein dengan kadar bervariasi yang berkisar antara 40,25-55,21 % menghasilkan protein 18,04-20,32%; air 67,79-70,73%; lemak 7,23-8,01 %; abu 2,69- 3,20% dan serat kasar 0,73-0,77%. Semakin tinggi kadar protein pakan yang diberikan semakin tinggi pula kadar protein daging ikan yang terukur. Komposisi kimia beberapa jenis ikan sidat dapat dilihat  dibawah ini (Sidat Dewasa)
Ikan sidat yang ditangkap dari alam khususnya Anguilla bicolor termasuk ikan berlemak rendah dan sedang dengan kadar protein yang tinggi. Penelitian Saleh (1993) menghasilkan protein berkisar 17,5- 21,5%, air 71,5-75,9%, lemak 3,3-9,5% dan abu 1,0 - 1,6%.
Tabel dibawah ini Komposisi kimia beberapa jenis ikan sidat dewasa dalam 100 gram bahan segar (%)
Komponen
Anguilla japonica'
Anguilla bicolor'
Anguilla bicolor pacifica'
Protein
16,8
18,70-20,32
17,5-21,5
Lemak
12,4
7,23-8,11
3,3-9,5
Air
69,6
67,79-70,73
71,5-75,9
Abu
1,2
2,69-3,20
1,0-1,6
Serat
-
0,73-0,77
-

Sumber: FAO (1972), Rahman (1997), Saleh (1993)
Beberapa tahun belakangan ini ditemukan bahwa ikan sidat mengandung berbagai asam lemak tak jenuh yang tinggi yang tak ada pada hewan lainnya, sehingga dapat merupakan makanan utama yang memenuhi nafsu makan manusia, tanpa perlu kuatir badan akan menjadi gemuk. Tabel atas dan dibawah menunjukkan bahwa komposisi kimia ikan sidat baik dalam satu jenis maupun jenis yang berbeda kadarnya juga berbeda. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor yang sangat besar pengaruhnya adalah jenis makanan yang tersedia, sebagaimana terlihat pada Tabel dibawah ini dengan pemberian protein yang semakin tinggi akan diikuti pula oleh kadar protein daging yang tinggi dan kadar air yang semakin rendah. Pakan dengan kadar protein 40,25% menghasilkan ikan dengan protein terendah dibanding pakan yang kadar protein 55,22%.
Tabel dibawah ini merupakan Komposisi asam amino ikan sidat (Anguilla bicolor) dengan perlakuan pakan (protein) yang berbeda (gram/100 gram protein) 
Jenis asam amino
40,25%
45,28%
50,31%
55,22%
Esensial




Isoleusin
2,67
2,72
2,61
2,72
Leusin
4,49
4,86
4,36
4,19
Lisin
2,75
2,46
2,83
3,87
Metionin
1,71
1,58
1,59
3,87
Fenilalanin
2,39
2,44
2,35
2,26
Tirosin
3,88
3,93
3,90
3,44
Treonin
1,67
1,12
1,80
2,09
Valin
2,87
2,84
2,85
2,88
Non esensial




Asam aspartat
5,59
5,27
5,64
5,39
Asam glutamat
10,11
10,35
11,32
10,79
Serin
2,15
2,57
2,45
2,71
Histidin
1,41
1,18
0,59
1,02
Glisin
4,05
5,04
4,99
0,48
Arginin
7,76
8,45
8,95
8,92
Alanin
0,75
0,90
0,89
0,81
Kadar protein (%)
18,04
18,70
19,54
20,32
Kadar air (%)
70,73
69,38
68,38
67,79
Kadar lemak (%)
7,23
7,81
7,66
8,11
Kadar abu (%)
2,69
3,04
3,20
3,05
Serat kasar (%)
0,73
0,77
0,75
0,76

Selain kadar protein yang menentukan komposisi kimia ikan, kadar karbohidrat juga berpengaruh. Pemberian karbohidrat yang tinggi dapat menghasilkan ikan dengan kadar lemak tinggi sesuai hasil penelitian yang telah dilakukan. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa ikan sidat yang rakus dan bersifat karnivor ternyata dengan pakan yang kaya karbohidrat juga bisa menghasilkan lemak tinggi, tetapi kadar proteinnya relatif rendah. Lemaknya dapat mencapai 25,61 %, protein 15,89%, dan kadar air 57,21 %.
Berdasarkan jenis pakan yang diberikan sesungguhnya pengguna dapat memilih ikan yang diharapkan, apakah kaya protein atau kaya lemak serta teksur yang bagaimana. Komposisi kimia ikan ini tidak hanya ditentukan oleh pakan saja, tetapi juga ditentukan oleh fase fisiologis dari ikan tersebut. Namun untuk ikan sidat belum ada data akurat mengenai perbedaan komposisi yang disebabkan oleh fase fisiologis dari ikan.
Rasa ikan sidat harum dan enak, disebut sebagai “ginseng air”, fungsinya dalam memperpanjang umur dan melawan kelemahan dan penuaan tak ternilai. Sidat memiliki kandungan nutrisi protein, karbohidrat, serta omega 3 yang tinggi. Sehingga menguatkan fungsi otak dan memperlambat terjadinya kepikunan. Dibanding ikan salmon, sidat mengandung DHA (Decosahexaenoic acid, zat wajib untuk pertumbuhan anak) sebanyak 1.337 mg/100 gram sementara ikan salmon hanya 748 mg/100 gram. Kandungan EPA (Eicosapentaenoic acid) yang terdapat dalam ikan sidat sebesar 742 mg/100 gram sementara salmon hanya 492 mg/100 gram. Ikan sidat mempunyai kandungan asam lemak Omega 3 tinggi, yakni sekitar 10,9 gram per 100 gram. Omega 3 ini dipercaya mampu meningkatkan fungsi mental, memori, dan konsentrasi manusia. Zat yang banyak terdapat dalam lemak sidat ini juga terbukti mampu mengobati depresi, gejala penyakit kejiwaan atau schizophrenia. Mengkonsumsi ikan sidat dapat mengatur imunitas tubuh manusia, sebagai anti oksidan, menghilangkan racun tubuh, serta memperlambat penuaan.
Ikan sidat adalah sejenis ikan yang mempunyai nilai gizi sangat tinggi, kaya akan protein serta vitamin D dan E, serta mempunyai mucoprotein yang kaya, disebut sebagai asam amino lemak ganggang dan asam ribonukleat. Ikan sidat juga terbukti mengandung vitamin A dengan kadar 100 kali lebih banyak dibandingkan ikan-ikan yang lain. Untuk 100 gram daging sidat mengandung 5000 IU vitamin E. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ikan sidat adalah rajanya ikan untuk kandungan nutrisi yang ada didalam tubuhnya, ini berdasarkan penelitian kedokteran modern yang menemukan bahwa kandungan vitamin dan mikronutrien dalam ikan sidat sangat tinggi, di antaranya:
1). vitamin B1, 25 kali lipat susu sapi
2). vitamin B2, 5 kali lipat susu sapi
3). vitamin A, 45 kali lipat susu sapi,
4). kandungan zinc (emas otak) 9 kali lipat susu sapi.
Teknologi menemukan bahwa daya hidup ikan sidat yang ajaib bersumber dari tulang sum-sumnya yang besar dan kuat. Penelitian modern menunjukkan bahwa tulang sum-sum ikan sidat mengadung beratus-ratus jenis zat bergizi, gizi dan nilai farmakologinya yang istimewa telah mendapat perhatian yang luas dari para pakar.
Sudah banyak terbukti, mengkonsumsi ikan sidat secara teratur dapat mendorong terbentuknya lemak fosfat dan perkembangan otak besar, bermanfaat untuk meningkatkan daya ingat. Juga memperbaiki sirkulasi kapiler, mempertahankan tekanan darah normal, mengobati pembuluh darah otak.
Banyak orang merasakan manfaat mengkonsumsi ikan sidat untuk penyakit rabun jauh, rabun dekat, glukoma dan penyakit mata kering disebabkan karena mata terlalu lelah. Minyak ikan sidat dibuat dari ekstrak sum-sum ikan sidat segar, mengandung tiga jenis nutrient penting yaitu: asam lemak omega 3 (DHA & EPA), Phospholipids dan antioksidan Vitamin E.

E. PROSPEK PERDAGANGAN
Usaha bisnis Sidat sebenarnya sangat cocok untuk dikembangkan mengingat peluang yang ada saat ini cukup menggembirakan, Khususnya Masyarakat Jepang yang saat ini merupakan konsumen ikan sidat terbesar dunia, dimana setiap tahunnya membutuhkan 150 ribu ton dari 250 ribu ton kebutuhan dunia. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, populasi sidat populer dunia seperti Anguilla Japonica, Anguilla anguilla dan Anguilla rostrata mulai menurun drastis karena konsumsi berlebihan, ditambah siklus hidup yang rumit menyebabkan stok benih budidaya ikan ini masih mengandalkan hasil tangkapan alam.
Menurunnya produksi sidat membuat dunia mulai melirik ke spesies sidat tropik di Indonesia yang ternyata merupakan pusat sidat dan memiliki 12 spesies dari 18 spesies yang ada di dunia. Indonesia yang memiliki sidat dengan jenis yang cukup beragam belum dimanfaatkan secara optimal. Kebanyakan sidat yang dipasarkan merupakan hasil tangkapan dari alam. Sampai saat ini jumlah pembudidaya sidat masih sangat terbatas, padahal potensi benih sidat (glass eel) di Indonesia cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa antara jumlah produksi benih yang dihasilkan dari alam belum sepadan dengan pemanfaatannya untuk pembesaran. Dengan demikian perlu dicermati mengingat kenyataan di lapangan permintaan ekspor terhadap benih sidat (glass eel) semakin meningkat, misalnya dengan dalih untuk penelitian.
Demikian dulu sampai disini, semoga menambah wawasan dan pengetahuan
Salam sukses selalu,  semoga keberhasilan tetap bersama anda
Sumber referensi:
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Badan Pengembangan sumberdaya manusia Kelautan dan Perikanan BPSDMKP

Pusat Penyuluhan Perikanan

Selasa, 01 Desember 2015

Budidaya Maggot

MAGGOT adalah istilah dalam bahasa Inggris yang artinya Larva. Menurut DR.Saurin Hem, Maggot tumbuh dari bungkil kelapa.
Cara Pembuatanya :
1.     Bungkil Kelapa sawit dihaluskan dengan cara digiling.
2.     Dipfermentasi dengan campuran air limbah jeroan sapi yang terdiri dari 50 kg bungkil kelapa dengan 75 liter air dan 25 kg jeroan.
3.     Fermentasi diletakan ditempat terbuka, sehingga menarik lalat Black Solder   untuk bertelur di atas fermentasi bungkil tersebut.
4.     Dua Minggu sejak lalat bertelur, bila perlu ditambahkan bungkil untuk asupan makan sikecil Maggot.
5.     Untuk panen Maggot, yaitu semprot air pada fermentasi sehingga Maggot terpisah dari media fermentasi.
6.     Menurut DR. Saurin 4 Kg bungkil bisa menghasilkan 1 Kg Maggot.
7.     Perlu diingat daur hidup Maggot sebelum menjadi lalat hanya 8 hari.
8.     Untuk mengkonsumsi ikan harus dilakukan sebelum Maggot berumur  8 hari

Minggu, 29 November 2015

Budidaya Ikan Betutu



Betutu (Oxyeleotris marmorata, Blkr.) adalah ikan perairan umum yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, dan merupakan komoditas ekspor. Tingginya harga ikan ini utamanya pasar ekspor, mengakibatkan usaha penangkapan di alam dilakukan secara berlebihan. Kondisi ini terjadi karena pasok kebutuhan pasar sepenuhnya merupakan  hasil tangkapan dari perairan umum.


Kekhawatiran terjadinya penurunan drastis populasi yang mengarah kepada kepunahan, maka keberhasilan pencapaian teknologi pembenihan merupakan hal yang sangat penting dalam mencegah kepunahan dan memasok benih untuk budidaya. Informasi teknologi pembenihan ikan betutu yang telah dicapai, diharapkan sebagai pendukung rintisan pengembangan budidaya ikan betutu secara komersial dan ekonomis.

Pematangan Gonada

Induk betutu dengan berat 200-500 g dipelihara dalam kolam tanah dengan luas 50-300 m2 dan kedalaman air rata-rata 0,5 m. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar, udang, dan ikan ukuran kecil yang hidup. Jumlah pakan yang diberikan 2% dari bobot total ikan, 1 kali pada sore atau malam hari.


Pemijahan

Pemijahan dilakukan secara alami atau buatan  dengan suntikan hipofisa 1-2 dosis atau ovaprim 0,5 – 0,7 cc/kg bobot badan. Perbandingan kelamin antara jantan dan betina adalah 1 : 1 – 1 : 3.
Kolam pemijahan diberi sarang/tempat penempel telur yang  terbuat dari asbes atau potongan paralon berdiameter 3 – 4 inci. jarak antar sarang sekitar 2-3 m. Sarang dikontrol pada hari ke 3-7 setelah penebaran induk untuk melihat keberadaan  telur. Apabila sarang telah berisi telur maka  dilakukan pencucian dari kotoran untuk ditetaskan di wadah penetasan yang sudah dipersiapkan.

Penetasan
Wadah penetasan dapat berupa bak fibreglass/akuarium yang dilengkapi aerasi dan pemanas apabila suhu air penetasan lebih rendah dari 25C. Selain itu wadah dapat  berupa hapa ukuran panjang  2 m, lebar 1 m dan tinggi 0.75 m yang diletakan di kolam. Telur menetas sekitar 1-3 hari pada suhu air 25-27 oC. Setelah telur menetas, sarang di ambil dan air penetasan sebaiknya diberi obat pencegah jamur MB atau MG 1-3 ppm selama 24 jam.

Perawatan Larva Dan Benih
Larva umur 2 hari ditebar ke wadah pendederan pada sore hari dengan kepadatan 30 ekor/l. Pendederan terkontrol dilakukan dalam wadah atau bak volume 500-1000 l, sampai masa kritis larva terlewati yaitu umur 14-21 hari atau diteruskan sampai benih mencapai ukuran 1-3 gram/ekor.
  

 Pakan awal larva  pada  saat  kuning telur habis (umur 2-3 hari setelah menetas) adalah  pakan alami jenis Coelastrum  sp.  sampai umur 5 hari. Selanjutnya secara bertahap diberikan  rotifera  dengan kepadatan 75 individu/ml sampai umur 19 hari. Umur 20 - 30 hari larva betutu diberi pakan artemia dan moina. Kemudian pada umur  30–60 hari dapat diberikan larva chironomus. Ukuran benih pada umur 60 hari berkisar antara 5 - 7 cm atau 3 - 5 g/ekor.

Senin, 23 November 2015

Menghadiri FGD Formikan 2015 Se-Prov. Kep. Babel

FGD Formikan Tahun 2015 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diselenggarakan di Hotel Aston Soll Marina, Bangka Tengah. Tujuan dari diadakannya FGD Formikan tersebut adalah:
-      Temu Mitra Masyarakat Pelaku Usaha Perikanan
-   Membumikan Gema Satu Kata “Ikanku Sehat, Bermutu dan Lestari”
-   Pembacaan Pengurus dan Anggota Formikan Prov. Kep. Babel Periode 2015–2016 
-   Revolusi Mental bagi semua pelaku usaha/ pelaku utama dan ssemua elemen yang 
     bergerak dan ada hubungannya dengan dunia Kelautan dan Perikanan


-    Pembukaan: Acara diawali dengan sambutan dari:
-   Kepala BKIPM Pangkalpinang
-   Ketua Formikan 2015 Prov. Kep. Bangka Belitung
-   Kapusluh KP dalam hal ini diwakili oleh BKIPM Pusat Kepala standarisasi Kepatuhan dan Kerjasama
-    Narasumber utama: Bapak Lotti (Dosen STP Jakarta) membahas materi Revolusi      Mental, dimana dengan ringkasan materi  sbb:
-   Visi dan tujuan KKP
-   Perikanan budidaya yang mandiri berdaya saing dan berkelanjutan
-   Pendidikan, Latihan, Pemberdayaan ke masyarakat
-   Dukungan dari Pemda
-   Revolusi Mental:
-   Integritas
-   Etos kerja
-   Gotong royong
-    Penutup


Hasil yang ingin dicapai adalah:
  • Gemasatukata: Ikanku Sehat, Bermutu dan Lestari
  • Memotivasi Pelaku Utama/ Pelaku Usaha dan semua elemen di bidang Kelautan dan Perikanan agar semangat dalam menumbuhkan ekonomi perikanan yang berkelanjutan 

  • Revolusi Mental seluruh elemen masyarakat bidang Kelautan dan Perikanan sehingga menghasilkan Perikanan Kelautan yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan

Minggu, 08 November 2015

Budidaya Ikan Patin

Ikan patin (Pangasius sp) merupakan salah satu jenis ikan air tawar. ikan patin ini dapat dimasak untuk lauk teman nasi di keluarga maupun ikan bergengsi yang dijajakan di restoran dan hotel kelas atas. Hal ini merupakan peluang pasar potensial yang patut dilirik. Namun sayang sekali, peluang pasar tersebut belum bisa dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat dan pembudidaya ikan di Bangka Belitung pada umumnya, karena adanya berbagai kendala.


Salah satu kendalanya adalah belum dikuasanya teknik budidaya ikan patin secara baik dan benar sesuai rekomendasi teknis yang ada. Terkait hal itu, maka agar bisa berhasil, teknik budidaya yang baik dan benar memang harus diterapkan oleh para pembudidaya, terutama pembudidaya pemula yang baru mencoba menekuni budidaya ikan patin. 

Kontruksi Kolam
Pembesaran patin bisa dilakukan di kolam tanah atau bak tembok. Luas kolam disesuaikan dengan ketersediaan lahan. Idealnya luas kolam minimal 300 M2. Konstruksi dasar kolam dibuat melandai ke arah pintu pembuangan air sehingga saat panen kolam bisa dikeringkan.Pada setiap petak kolam sebaiknya dilengkapi dengan pipa pembuangan air yang dipasang dengan system monik (membentuk huruf “L”) sehingga ketinggian airnya bisa diatur. 


         
Persiapan Pemeliharaan
Keringkan kolam/bak. Untuk kolam tanah, jika dasarnya berlumpur cukup setebal 2 cm saja. Sebelum lumpur kolam kering perlu ditaburi kapur tohor 50 – 100 gram/M2. Untuk bak tembok, kapur tohor bisa dilaburkan ke dinding bak. Berikan pupuk kandang bersamaan penggenangan kolam. Sebaiknya yang diberikan bentuk larutannya tidak bersama ampasnya. Kebutuhan pupuk 250 500 gram/M2  dan genangan air cukup sedalam 30 cm. Setelah warna air berubah hijau kecoklatan atau mulai terlihat jentik-jentik nyamuk, dan serangga air bermunculan, kolam siap di tebari benih.

Penebaran Benih
Pilih benih patin yang sehat (gerakannya lincah) dan ukurannya seragam. Sebaiknya dipilih benih berukran 5–8 Cm (minimal 2 inc). Padat tebar benih 5 -10 ekor/m2. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Cara penebaran benih sebaiknya melalui aklimatisasi agar benih tidak stress. Caranya, masukkan air kolam ke dalam ke wadah pengangkut benih (kantong plastik atau ember) sedikit demi sedikit sampai penuh. Tenggelamkan wadah dengan posisi mendatar, biarkan sebagian wadah berisi udara dan tetap di atas permukaan air. Biarkan benih keluar dengan sendirinya. Jangan dituangkan atau di taburkan langsung ke kolam untuk menghindari stress.

Pangaturan Air
Sampai umur 3 minggu, setiap hari ketinggian air kolam cukup ditambah 5 cm setiap pagi. Tanpa melepas pipa-pipa pembuang air, selanjutnya setiap pagi saja memasukkan air selama 1 jam. Ketika air dimasukkan ke kolam maka otomatis air lapisan dasar (yang kotor ) akan terbuang. Jika tidak memiliki sumbar air tetap, pemasukan/pengeluaran air kolam dapat dilakukan setiap tiga hari sekali. Cukup kira-kira 20 persen atau seperlimanya saja. Selama masa pemeliharaan, ketinggian air kolam dipertahankan pada kisaran 80 – 150 Cm

Pemberian Pakan
Pakan yang diberikan untuk patin dapat berupa pakan buatan pabrik berbentuk butiran atau pellet (batangan), ikan rucah atau pakan buatan sendiri berbentuk pasta. Pakan berbentuk pasta padat dapat dibuat sendiri, dengan campuran tepung ikan, dedak halus dan kanji dengan perbandingan 5:4:1 bagian. Semua bahan dicampur dalam keadaan kering, kemudian dikukus. Setelah dikukus, campuran pakan tersebut dibentuk menjadi bulatan-bulatan bola. Jika sudah dingin siap diberikan. Setiap hari, pakan diberikan dengan dosis 3 persen dari bobot total ikan yang dipelihara. Frekuensi pemberian pakan 2–3 kali dalam sehari, yakni pada waktu pagi, siang dan sore hari.

Panen  
Dalam jangka waktu pemeliharaan sekitar enam bulan, ikan patin sudah bisa dipanen. Ukuran ikan yang dipanen berkisar 500 – 600 gram/ekor.



Cara panen ikan patin cukup mudah. Keringkan air kolam sampai tertinggal  kira-kira 5 cm. Patin ditangkap menggunakan seser (sau). Hasil tangkapan ditampung dalam sebuah hapa, kemudian dibilas dengan air untuk membersihkan lumpur. Ikan yang sudah bersih, kemudian ditampung dalam wadah pengangkut siap untuk dijual.