Selasa, 23 Februari 2016

Foto News: Sosialisasi BKP3 dengan Poktan/Gapoktan di BKP Parittiga

Pada Hari Selasa, tanggal 23 Februari 2016 diadakan keegiatan Sosialisasi Tentang Poktan/ Gapoktan Berbadan Hukum. Sosialisasi tersebut di adakan dan difasilitasi oleh Balai Penyuluhan Kecamatan (BPK) Kecamatan Parittiga, dimana Kepala Koordinatornya adalah Dien Zopani, S.Hut. dan terdiri dari sekitar 10 penyuluh yang ada disitu, baik penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan.

Sedangkan peseerta yang diundang atau sasaran yang disosialisasi adalah Poktan/ Gapoktan baik pertanian, perikanan dan kehutanan yang ada di wilayah Kecamatan Parittiga Kabupaten Bangka Barat. Untuk pemateri atau narasumber adalah Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Bangka Barat (BKP3) dalam hal ini dihadiri oleh Bapak Kepala BKP3 yaitu Bapak Saeful Pudri, S.P., juga dihadiri oleh Kabid Penyuluhan yaitu Bapak Syahrizal, Koordinator Penyuluhan tingkat Kabupaten  Bangka Barat yaitu yuk Rahmi serta Koordinator KJF tiap kecamatan. 

Antusiasme dari peserta yang menghadiri acara sosialisasi ini begitu tinggi, dimana banyak yang mengajukan pertanyaan dan memberikan masukan kepada narasumber. Semoga dengan diadakannya kegiatan tersebut para pembudidaya ataupun pelaku utama dan pelaku usaha di bidang perrtanian, perikanan dan kehutanan lebih memahami, mengerti dan tahu akan arti pentingnya membentuk kelompok dan atau gabungan kelompok yang kemudian dijadikan berbadan hukum agar ke depannya berrmanfaat bagi kemajuan dan perkembangan usaha tersebut.





Rabu, 17 Februari 2016

POTENSI PENGEMBANGAN BUDIDAYA AIR PAYAU DI WILAYAH KABUPATEN BANGKA BARAT

I.         Latar Belakang
Kabupaten Bangka Barat merupakan Kabupaten pesisir di pulau utama (mainland) yaitu Pulau Bangka yang terletak pada 105°-107° Bujur Timur dan 01°20’-03°07’ Lintang Selatan, dengan luas wilayah daratan sekitar 2.820,61 Km2 didukung perairan laut seluas 1.690,28 Km2 dan pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitarnya. Dari angka tersebut terlihat bahwa luas wilayah laut Kabupaten Bangka Barat lebih dari setengah luas daratannya, sehingga seharusnya memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian masyarakat khususnya di Kabupaten Bangka Barat.
Kondisi ini menjadikan Kabupaten Bangka Barat memiliki potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang cukup besar untuk budidaya air laut, air payau dan air tawar yang merupakan usaha strategis dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Bangka Barat.
Apabila potensi ini dapat digunakan untuk kegiatan budidaya perikanan, selain dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir juga dapat meningkatkan hasil perikanan untuk memenuhi kebutuhan permintaan produk perikanan sebagai sumber protein, mengingat kegiatan perikanan tangkap di berbagai daerah bahkan di dunia cenderung mengalami penurunan hasil akibat berkurangnya stok ikan di alam.

II.      Potensi Budidaya Air Payau
Kabupaten Bangka Barat memiliki beberapa tambak ikan yang telah berjalan, yaitu tambak Sikka dan kolam Sinar Surya yang terletak di Kecamatan Tempilang. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan ruang yang sesuai baik itu dengan rencana maupun arahan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Bangka Barat telah berjalan. Tambak Sikka dan Kolam Sinar Surya memiliki nilai parameter kualitas air dan substrat yang memenuhi sebagian besar persyaratan untuk melakukan kegiatan budidaya.
Potensi Budidaya Perikanan Payau di Kabupaten Bangka Barat
Potensi Budidaya Perikanan
Desa/ Dusun
Lokasi
Peruntukan Budidaya
Teknis Budidaya
Perkiraan Luasan (Ha)
Air Payau 35.339,5 hektar
Muntok
Tanjung
Pantai tanah merah
Bandeng
Tambak
2.516,6
Simpang Teritip

Rambat
Kepiting Bakau
Karamba bambu
19.236,3

Kundi
Kerang Darah
Pagar waring

Pelangas
Kepiting Bakau
Karamba bambu
Jebus
Sungai Buluh
Pangkal Balok
Udang Galah
Kolam Tanah
3.523,4

Sungai Kampak
Nila
Tambak
Parittiga

Teluk Klabat
Kakap, Kerapu
Karamba jaring apung
669,3
Kelapa
Kayu Arang
Sungai kayuarang
Udang Galah
Kolam Tanah
2.461,1
Kacung
Kp. Limau
Udang Galah
Kolam Tanah
Bandeng
Tambak
Tempilang
Penyampak
Payak Laut
Udang Galah
Kolam Tanah
7.292,9
Bandeng
Tambak
Sika dan Tanjung Niur

Udang Galah
Kolam Tanah
Bandeng
Tambak
Tambak Sika
Nila
Tambak
Kolam sinar surya
Nila
Tambak
(Sumber: RTRPP DKP Kabupaten bangka Barat, 2009 dan analisis data primer 2011)
Potensi budidaya air payau sebesar 35.339,5 ha, sementara pemanfaatannya baru sebanyak 234,91 Ha tambak (0,74%). Adapun yang menjadi kendala selama ini adalah keterbatasan sarana penunjang produksi, penerapan teknologi dan permodalan.
Sedangkan dari hasil analisis parameter kualitas lingkungan baik yang dianalisis secara in situ maupun uji laboratorium sebagai faktor pertimbangan dalam menyusun kelayakan budidaya air laut, payau dan air tawar, maka dapat disimpulkan seperti di bawah ini:
1.      Parameter Fisika
a.    Suhu Perairan
Hasil pengukuran suhu secara in situ di kawasan Kabupaten Bangka Barat kisaran suhu yang diperoleh berkisar antara 27–32°C dengan rerata 29°C.
b.    Salinitas
Hasil pengukuran in situ salinitas untuk stasiun di laut dan perairan payau berkisar antara 17–32 ppt dengan rerata 26 ppt. Untuk salinitas perairan di Indonesia berkisar antara 30–35 ppt, sedangkan daerah pesisir salinitasnya berkisar antara 32–34 ppt.
c.    Substrat
Hasil pengujian laboratorium menunjukkan ada beberapa tipe substrat yang terdapat di Kabupaten Bangka Barat diantaranya adalah berpasir, pasir berliat, pasir berlumpur, pasir berlumpur berliat, liat berlumpur. Substrat dengan tipe pasir berliat sangat baik digunakan untuk kegiatan budidaya ikan dengan wadah budidaya kolam ataupun tambak. Hal ini disebabkan substrat pasir memiliki rongga udara, sehingga pasokan oksigen dari kolom perairan menjadi lancar dan ketersediaan oksigen cukup tinggi.
2.      Parameter Kimia
a.  Derajad Keasaman (pH)
Variasi derajad keasaman (pH) umumnya disebabkan oleh proses kimia dan biologis yang dapat menghasilkan senyawa-senyawa kimia baik yang bersifat asam atau basa. Selain itu, adanya masukan limbah yang bersifat asam atau alkalis dari daratan dapat pula menyebabkan adanya variasi pH. Dari hasil pengukuran pH di beberapa wilayah stasiun perairan laut dan payau di Kabupaten Bangka Barat didapatkan hasil pH yang masih sesuai dengan pH yang ada di perairan yang normal, yaitu berkisar antara 6–7.
b. Oksigen Terlarut
Pengukuran kadar oksigen terlarut berkisar antara 1.6–7.8 ppm dengan rerata 5.7 ppm. Hasil pengamatan seluruh stasiun memiliki DO yang cukup baik.
c.  Nitrat (NO3) dan nitrit (NO2)
Hasil pengukuran nitrat (NO3-N) berkisar antara 0.01–11.14 ppm, sedangkan untuk nitrit (NO2) berkisar antara 0.01-0.75 ppm dengan rerata hasil pengukuran 0.16 ppm. Hasil ini menunjukkan kadar nitrat di perairan Kabupaten Bangka Barat tergolong jauh lebih tinggi dari kadar normal di perairan (perairan normal berkisar antara 0.01–0.05 ppm). Variasi kadar nitrat ini erat kaitannya dengan kepadatan fitoplankton. Sedangkan hasil pengukuran nitrit juga menunjukkan konsentrasi yang cukup besar.
d. Parameter kimia lainnya
Hasil pengukuran amonia menunjukkan kandungan yang terlalu tinggi, berkisar antara 0.3-2.09 ppm dengan rerata hasil pengukuran 0.45 ppm.  Tingginya kadar amonia di salah satu stasiun pengukuran diduga disebabkan oleh sisa hasil tambang serta kotoran rumah tangga yang dibuang langsung ke perairan tersebut.
Hasil pengukuran nilai fosfat (PO4) berkisar antara 0.01-2.99 ppm dengan rerata 0.23 ppm. Kadar fosfat yang agak tinggi ini disebabkan letak stasiun pengamatan yang berdekatan dengan pantai yang berasosiasi dengan hutan mangrove atau tumbuhan lain di hutan.
Untuk Alkalinitas berkisar antara 11.83-102.28 ppm dengan rerata 62.84 ppm. Pada umumnya lingkungan media yang baik untuk kehidupan ikan adalah dengan nilai alkalinitas di atas 20 ppm. Sedangkan alkalinitas optimal dalam budidaya ikan intensif adalah 100-150 ppm.
Untuk kecerahan perairan memiliki kisaran antara 0.3-1.2 m dengan rerata 0.7 m. Dengan nilai kecerahan yang cukup besar, dapat meningkatkan kesuburan perairan tersebut. Sedagkan hasil pengukuran mercuri (Hg) menunjukkan konsentrasi yang cukup rendah, yaitu di bawah 0.001 ppm.
3.    Parameter Biologi
Hasil identifikasi plankton menunjukkan terdapat sekitar 53 jenis plankton dengan jumlah total 2.270 individu. Kehadiran plankton di suatu ekosistem perairan sangat penting karena fungsinya sebagai produsen primer dalam kemampuannya mensintesis senyawa organik dari senyawa anorganik melaui proses fotosintesis.

Dari hasil analisis dan survey Dinas Kelautan dan Perikanan pada tahun 2012 ini direkomendasikan beberapa lokasi yang sesuai untuk budidaya perikanan, salah satu lokasi tersebut adalah di perairan sekitar sungai Jering Kecamatan Kelapa.
Vegetasi sempadan sungai jering merupakan habitat mangrove/ bakau yang dapat dikategorikan masih baik. Hal ini dapat dilihat dari spanjang sungai yang ditumbuhi berbagai jenis pohon bakau/ mangrove dengan kerapatan tinggi sehingga seperti hutan belantara yang masih alami. Pohon bakau yang tumbuh di sekitar sungai Jering yang didominasi oleh jenis Rhizophora sp. Sumbangan serasah dari pohon bakau dan adanya pasokan air tawar di bagian hulu menjadikan perairan ini cukup kaya dengan nutrien yang akan mendukung untuk usaha budidaya perikanan.
Menurut nelayan di Desa Kayu Arang, di sungai Jering hasil tangkapan ikannya sangat bervariasi sesuai dengan musim ikan. Ikan yang sering menjadi hasil tangkapan diantaranya ikan kakap, ikan kerapu, kepiting bakau dan ikan betutu (di hulu dan anak sungai). Di wilayah ini sempat ada usaha penampungan dan pembesaran kepiting bakau di lahan hutan mangrove, namun keberadaannya tidak berlangsung lama. Lokasi penampungan dan pembesaran kepiting bakau berada di seberang dermaga penyeberangan Desa Kayu Arang.

III.   Arahan Pengembangan Budidaya Air Payau
Dari hasil survey dan analisis kelayakan, maka budidaya air payau di sungai Jering sangat memungkinkan dilakukan di lokasi yang mendekati dermaga Kayu Arang dan letaknya tidak terlalu jauh dari pemukiman penduduk Desa Kayu Arang. Hal ini menjadi penting karena mobilisasi bahan material sarana dan prasarana budidaya akan lebih efektif dan efisien pada saat pembangunan konstruksi, mobilisasi tenaga kerja, proses produksi serta pemasaran hasil produksinya.
Jenis komoditas perikanan yang cocok untuk dibudidayakan di sungai Jering adalah kepiting bakau pada segmen usaha pembesaran/ penggemukan. Sedangkan untuk teknis budidaya penggemukan kepiting bakau yang layak dikembangkan di sungai Jering dan anak sungainya adalah dengan menggunakan Karamba Bambu Apung (KBA) sebagai media budidaya.
Investasi usaha budidaya pembesaran/ penggemukan kepiting bakau dalam Karamba Bambu Apung (KBA) layak untuk dilaksanakan dalam kurun waktu yang cukup panjang. Selain layak secara finansial, penggunaan KBA untuk pembesaran kepiting bakau cocok diterapkan untuk:
o  Meningkatkan pengetahuan dalam aplikasi teknologi budidaya air payau yang tepat guna bagi pembudidaya ikan.
o  Meningkatkan pendapatan pembudidaya
o  Mengoptimalkan pemanfaatan ikan rucah dan hama pengganggu budidaya ikan menjadi barang ekonomis.
Tambak merupakan lahan budidaya perikanan yang dibangun untuk meningkatkan produksi perikanan laut. Tambak menghasilkan berbagai sumber daya alam perikanan khas pesisir berupa ikan dan hewan air lain seperti udang, kerang dan kepiting.
Konstruksi tambak dibangun sedemikian rupa agar dapat menjadi tempat hidup (habitat) yang mampu mendukung pertumbuhan ikan, udang, dan hewan payau budidaya lainnya. Tambak juga berfungsi sebagai wadah penumbuh makanan alami (seperti plankton dan klekap) bagi hewan budidaya. Pembangunan tambak yang digabungkan dengan hutan mangrove , secara ekologis sangat menguntungkan karena dapat menjamin kelangsungan hidup hewan budidaya, ketersediaan benih alami, dan kelangsungan hidup liar lainnya seperti ikan, udang, kepiting, burung air, mamalia dan reptilia.
Hewan air budidaya ini diproduksi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi protein masyarakat dalam dan luar negeri. Harga udang yang tinggi di pasar internasional dan keuntungannya yang tinggi mendorong masyarakat untuk membuka usaha tambak udang, tidak hanya masyarakat dalam negeri namun juga para investor asing.
Kegiatan pertambakan di wilayah Indonesia merupakan usaha budidaya perikanan yang menjadi sumber mata pencaharian dan pendapatan masyarakat pesisir dimana telah mampu menyerap cukup banyak tenaga kerja. Akan tetapi kegiatan pertambakan ini membutuhkan modal yang cukup besar. 

                                            Budidaya ikan di tambak

Apabila kegiatan pertambakan ini dikembangkan di wilayah Kabupaten Bangka Barat, maka sangat dibutuhkan investor atau penanam modal yang berkenan untuk menanamkan modal usahanya di bidang pertambakan. Meskipun pertambakan membutuhkan biaya yang cukup besar, namun jika mampu dikelola dengan baik, usaha tambak akan menghasilkan produksi yang tinggi sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat petambak, khususnya untuk produk-produk perikanan tambak yang bernilai ekonomis tinggi seperti udang, kerang dan kepiting.

Kelangsungan usaha budidaya air payau akan berjalan dengan baik jika dikelola oleh sumberdaya manusia yang sesuai dengan keahliannya. Sehingga diperlukan beberapa tenaga ahli yang memiliki kemampuan dan pengalaman dalam teknik budidaya dan secara non teknis mampu menghadapi dan memecahkan permasalahan di luar teknis budidaya seperti mampu membuka/ mengembangkan jalur pemasaran produk agar proses produksi dapat berlangsung secara simultan.

Jumat, 12 Februari 2016

Cegah Kematian Mendadak Ikan Lele dengan Tanaman Ini


Tak selamanya pembudidaya ikan lele berhasil mengembangkan budidayanya tanpa kematian mendadak atau bencana alam. Kematian mendadak ikan lele bisa karena telah terinfeksi bakteri Aeromonas sp.


Bakteri jenis ini merupakan salah satu penyebab penyakit yang berbahaya pada usaha budidaya ikan air tawar. Bakteri tersebut menyerang ikan mas dan ikan lele yang merupakan komoditas unggulan air tawar dan dapat menginfeksi ikan pada semua ukuran sehingga bisa menyebabkan kematian hingga mencapai 80%.

Ilustrasi. (Foto: Ist)

Usaha yang dilakukan untuk mencegah atau mengobati penyakit biasanya dengan menggunakan antibiotik sintetis seperti tetracycline. Pemberian bahan kimia ini memang dapat mencegah maupun mengobati penyakit pada ikan bila digunakan dengan dosis yang tepat, akan tetapi bila digunakan tidak terkontrol maka dapat menimbulkan beberapa efek negatif.

Sejauh ini ada alternatif cara pengobatan alami untuk penanggulangan penyakit Aeromonas hydrophila pada ikan lele, yakni dengan menggunakan daun meniran (Phylanthus urinaria) dan bawang putih (Allium sativum).

Kreativitas menemukan biofarmaka (obat-obatan dari bahan alami) untuk ikan tak hanya berhenti sampai di situ. dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Dinamella Wahjuningrum belakangan mencoba mengembangkan dari tumbuhan yang mudah diperoleh yakni tanaman kipahit.

"Kipahit atau bunga matahari Meksiko merupakan jenis tanaman dengan bunga berwarna kuning keemasan mempesona yang ke luar pada akhir musim penghujan. Tampilan bunganya sangat mirip dengan bunga matahari," kata Dinamela di Bogor beberapa waktu lalu.

Di daerah, tanaman ini memiliki julukan lokal semisal paitan di daerah Jawa (paitan dari asal kata pait atau pahit). Tanaman ini dapat bersifat semusim maupun tahunan dengan ketinggian 2–3 m (6.6–9.8 ft), jarang dibudidayakan secara sengaja sehingga sering dikategorikan sebagai gulma paitan.

Respon ikan lele yang terinfeksi terhadap obat alami inipun sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan kelangsungan hidup ikan lele yang mencapai 95,83% dibandingkan ikan yang tidak mendapatkan ekstrak kipahit.

Menurut Dinamella, ikan yang diberi ekstrak kipahit mendapatkan kelangsungan hidup yang lebih tinggi karena ekstraknya sendiri mampu memperbaiki metabolisme tubuh ikan sekaligus memperkuat sistem imun.

Ekstrak daun kipahit pun sudah pernah diujicobakan terhadap penyakit Mycobacterium pada ikan gurame dengan metode perendaman oleh Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Bogor. Dan hasilnya diperoleh, ekstrak daunnya efektif untuk mengobati dengan cara direndam selama 3 jam dalam level konsentrasi 10.000 mg/l.

Berikut ini beberapa langkah pembuatan ekstrak kipahit :

1. Ambil tanaman kipahit beserta daunnya secukupnya, keringkan kemudian diblender. Hasil blenderan ini kemudian direbus dengan suhu 90°C selama 30 menit saja. Dan disaring menggunakan lap saring.
2. Ambillah 4% dari ekstrak kipahit ini dan tambahkan putih telur. Campurkan dengan merata. Kemudian diangin-angin saja. Hasilnya bisa langsung diberikan begitu kering sebagai pakan ikan yang sakit.
3. Untuk pemeliharaan kesehatan, pembudidaya bisa mencampurkannya dalam pakan dengan formulasi 0,4 mg/gr pakan atau dengan kata lain 0,4 mg kipahit dicampurkan dengan 1 gram pakan.
sumber: jitunews.com

Minggu, 07 Februari 2016

POTENSI PENGEMBANGAN BUDIDAYA AIR LAUT DI WILAYAH KABUPATEN BANGKA BARAT

I.         Latar Belakang
Kabupaten Bangka Barat merupakan Kabupaten pesisir di pulau utama (mainland) yaitu Pulau Bangka yang terletak pada 105°-107° Bujur Timur dan 01°20’-03°07’ Lintang Selatan, dengan luas wilayah daratan sekitar 2.820,61 Km2 didukung perairan laut seluas 1.690,28 Km2 dan pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitarnya.
Kondisi ini menjadikan Kabupaten Bangka Barat memiliki potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang cukup besar utamanya untuk budidaya air laut, air payau dan air tawar dan merupakan usaha strategis dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Bangka Barat. Namun pemanfaatannya belumlah optimal karena keterbatasan sumberdaya manusia yang berkualitas, teknologi, dan permodalan.

II.      Potensi Budidaya Air laut
Kabupaten Bangka Barat terdiri dari 6 Kecamatan yang meliputi 60 Desa dan 4 Kelurahan. Di antara desa-desa tersebut terdapat 32 desa yang merupakan desa-desa yang mempunyai wilayah laut atau bersinggungan/ berdekatan dengan laut/ pantai dan sungai.
Pemanfaatan potensi kelautan dan perikanan tersebut khususnya terhadap potensi kelautan sudah berkembang, yaitu dengan aktifitas penangkapan ikan di laut oleh nelayan. Sedangkan budidaya air laut sampai saat ini belum termanfaatkan. Pemanfaatan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang masih rendah ini disebabkan oleh keterbatasan sarana prasarana yang dimiliki, kemampuan nelayan yang masih rendah, teknologi yang digunakan masih sederhana serta belum adanya pelaku bidang kelautan dan perikanan memanfaatkan teknologi penunjang dalam aktifitasnya.
Sub sektor perikanan khususnya perikanan laut sangat dominan di Kabupaten Bangka Barat mengingat Pulau Bangka dikelilingi oleh lautan yang memiliki sumberdaya laut yang relatif besar untuk dikembangkan. Komoditi yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi seperti ikan kerapu, kakap merah, udang, cumi-cumi, sirip ikan dan lain-lain.
Potensi budidaya air laut sebesar 51.290.2 ha, sementara pemanfaatannya sama sekali belum tersentuh. Adapun yang menjadi kendala selama ini adalah keterbatasan sarana penunjang produksi, penerapan teknologi dan permodalan.
Sedangkan dari hasil analisis parameter kualitas lingkungan baik yang dianalisis secara in situ maupun uji laboratorium sebagai faktor pertimbangan dalam menyusun kelayakan budidaya air laut, payau dan air tawar, maka dapat disimpulkan seperti di bawah ini:
1.      Parameter Fisika
a.    Suhu Perairan
Berdasarkan hasil pengukuran suhu secara in situ di kawasan Kabupaten Bangka Barat kisaran suhu yang diperoleh berkisar antara 27–32°C dengan rerata 29°C.
b.    Salinitas
Hasil pengukuran in situ salinitas untuk stasiun di laut dan perairan payau berkisar antara 17–32 ppt dengan rerata 26 ppt. Untuk salinitas perairan di Indonesia berkisar antara 30–35 ppt, sedangkan daerah pesisir salinitasnya berkisar antara 32–34 ppt.
c.    Substrat
Hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa ada beberapa tipe substrat yang terdapat di Kabupaten Bangka barat adalah berpasir, pasir berliat, pasir berlumpur, pasir berlumpur berliat, liat berlumpur. Substrat dengan tipe pasir berliat sangat baik digunakan untuk kegiatan budidaya ikan dengan wadah budidaya kolam ataupun tambak. Hal ini disebabkan substrat pasir memiliki rongga udara, sehingga pasokan oksigen dari kolom perairan menjadi lancar dan ketersediaan oksigen cukup tinggi.
2.      Parameter Kimia
a.  Derajad Keasaman (pH)
Dari hasil pengukuran pH didapatkan hasil pH yang masih sesuai dengan pH yang ada di perairan yang normal, yaitu berkisar antara 6–7.
b. Oksigen Terlarut
Pengukuran kadar oksigen terlarut berkisar antara 1.6–7.8 ppm dengan rerata 5.7 ppm. Hasil pengamatan di seluruh stasiun memiliki DO yang cukup baik.
c.  Nitrat (NO3) dan nitrit (NO2)
Hasil pengukuran nitrat (NO3-N) berkisar antara 0.01–11.14 ppm, sedangkan untuk nitrit (NO2) berkisar antara 0.01-0.75 ppm dengan rerata hasil pengukuran 0.16 ppm. Hasil ini menunjukkan kadar nitrat di perairan Kabupaten Bangka Barat tergolong jauh lebih tinggi dari kadar normal di perairan (perairan normal berkisar antara 0.01–0.05 ppm).
d. Parameter kimia lainnya
Hasil pengukuran amonia menunjukkan kandungan yang terlalu tinggi, berkisar antara 0.3-2.09 ppm dengan rerata hasil pengukuran 0.45 ppm.  Tingginya kadar amonia di salah satu stasiun pengukuran diduga disebabkan oleh sisa hasil tambang serta kotoran rumah tangga yang dibuang langsung ke perairan tersebut.
Hasil pengukuran nilai fosfat (PO4) berkisar antara 0.01-2.99 ppm dengan rerata 0.23 ppm. Kadar fosfat yang agak tinggi ini disebabkan letak stasiun pengamatan yang berdekatan dengan pantai yang berasosiasi dengan hutan mangrove atau tumbuhan lain di hutan.
Untuk Alkalinitas berkisar antara 11.83-102.28 ppm dengan rerata 62.84 ppm. Pada umumnya lingkungan mediaa yang baik untuk kehidupan ikan adalah dengan nilai alkalinitas di atas 20 ppm. Sedangkan alkalinitas optimal dalam budidaya ikan intensif adalah 100-150 ppm.
Kecerahan perairan memiliki kisaran antara 0.3-1.2 m dengan rerata 0.7 m. Dengan nilai kecerahan yang cukup besar, dapat meningkatkan kesuburan perairan tersebut. Sedangkan hasil pengukuran mercuri (Hg) menunjukkan konsentrasi yang cukup rendah, yaitu di bawah 0.001 ppm.
3.    Parameter Biologi
Hasil identifikasi plankton menunjukkan terdapat sekitar 53 jenis plankton dengan jumlah total 2.270 individu.

Potensi Budidaya Perikanan Laut di Kabupaten Bangka Barat
Potensi Budidaya Perikanan
Desa/ Dusun
Lokasi
Peruntukan
Budidaya
Teknis Budidaya
Perkiraan Luas
(Ha)
Laut 51.290.2 Hektar



Muntok
Tanjung
Pantai tanjung besayap
Kerapu dan Kakap
Karamb jaring apung (KJA)
30.661,4
Tanjung Ular
Pantai tanjung ular
Kerapu dan Kakap
KJA
Selindung
Pantai Bendul
Kerapu dan Kakap
KJA
Belo Laut
Pantai Pait
Kerang Darah
Bagan Tancap
Sukal
Muara Sukal
Kerang Darah
Bagan Tancap
Tanjung
Punai
Pantai Tanjung
Punai
Kerang Darah
Bagan Tancap
Air Limau
Pantai Air Mas
Rajungan
Karamba jaring
Simpang
Teritip
Kundi
Pantai Tanjung
Tadah
Kerang Darah
Bagan Tancap

Air Nyatoh
Pantai Teritip
Rajungan
Karamba, jaring
Simpang Gong
Pantai tungau
Rajungan
Karamba, jaring
Parittiga
Bakit
Pantai Tanjung Ru
Rajungan
Karamba, Jaring
9.396,6
Pulau Nanas
Rumput laut
Tali Panjang
Kelabat
Jebu Laut
Kerapu dan Kakap
KJA
Laut Teluk
Kelabat
Kerapu danKakap
KJA
Cupat
Pantai Cupat
Kerapu dan Kakap
KJA
Teripang
Kurung tancap
Jebus
Teluk Limau
Pantai Pala
Kerapu dan kakap
KJA
6.288,1
Penganak
Pulau Perut
Kerapu dan Kakap
KJA
Ketap
Pulau kemuja
Kerapu dan Kakap
KJA
Sungai Buluh
Pantai Bembang
Rumput laut
Tali Panjang
Rajungan
Karamba, jaring
Kelapa
Pusuk
Teluk Kelabat
Kerang Darah
Bagan Tancap
2.148,1
Teripang
Kurung Tancap
Tempilang
Tanjung Niur
Pantai Tanjung
Niur
Kerang Darah
Bagan Tancap
2.796
Rajungan
Karamba, jaring
Rumput Laut
Tali Panjang
Benteng Kota
Pulau Semubung
Rumput laut
Tali Panjang
Kerapu dan Kakap
KJA
Sinar Surya
Pantai Basun
Kerapu dan Kakap
KJA
Rajungan
Karamba, jaring
(Sumber: Studi Kelayakan Pengembangan Budidaya Air Laut, Payau dan Air Tawar di Kabupaten Bangka Barat, 2011)


III.   Arahan Pengembangan Potensi Budidaya Air laut
Kawasan perairan laut di Kabupaten Bangka Barat memiliki beberapa lokasi yang potensial dikembangkan untuk budidaya laut, terutama pengembangan karamba jaring apung, budidaya rumput laut, budidaya pembesaran kerang darah serta rajungan.
Beberapa kawasan berupa teluk dan pulau-pulau kecil merupakan kawasan terlindung yang menjadi syarat utama pemilihan lokasi budidaya, seperti teluk Kelabat, pulau Nanas, Pusuk dan sekitar Muara Sukal.
Muara sungai Sukal merupakan tempat yang sangat berpotensi untuk menjadi wilayah budidaya kerang darah, dengan kondisi perairan dan substrat yang baik bagi kerang darah menjadi sebuah daya dukung untuk keberlangsungan kegiatan budidaya.
Pulau Nanas yang terletak di perairan teluk kelabat secara visual sangat cocok menjadi tempat budidaya laut, wilayahnya yang cenderung tertutup dari laut lepas membuat perairan di sekitar pulau Nanas menjadi relatif tenang. Dari pengujian parameter pendukung budidaya ikanpun menunjukkan hasil yang mendukung bahwa pulau Nanas dapat menjadi salah satu tempat untuk budidaya laut. Pulau Nanas cukup baik untuk pengembangan usaha budidaya ikan kerapu ataupun kakap dengan menggunakan karamba jaring apung (KJA).
 Potensi budidaya kelautan yang ditawarkan di Pulau Nanas diharapkan mampu mendukung sektor pariwisata di gugusan pulau kecil yang saat ini sedang diteliti potensinya untuk dikembangkan. Pulau nanas selain memiliki keindahan panorama pantai khas dengan pohon kelapa dan pasir putih lembutnya juga airnya masih bening karena tidak ada aktivitas penambangan di daerah itu. Keindahan alamnya masih alami dan asri dimana sangat cocok untuk pariwisata dan budidaya laut seperti pengembangan rumput laut, budidaya ikan dalam karamba, budidaya siput gunggung dan lainnya yang memiliki nilai ekonomi tinggi
Budidaya ikan laut seperti ikan kerapu atau kakap merupakan jenis ikan yang menjadi komoditas unggulan bagi perikanan laut. Budidaya kerapu dan kakap berkembang cukup pesat dalam upaya untuk memenuhi tingginya kebutuhan permintaan baik dalam dan luar negeri. Beberapa jenis ikan kerapu dan kakap yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi antra lain:
§  Kerapu tikus atau kerapu bebek dengan nama komersil grace Kelly (Cromileptis altivellis) merupakan primadona dalam budidaya kerapu, harganya di pasar domestik ditingkat pengecer bisa mencapai 200–300 ribu rupiah perkilogram, sedangkan di pasar mancanegara mencapai U$ 40–50.
§  Kerapu macan (Epinephelus fuscogutatus) dan kerapu lumpur (Epinephelus tauvina), Kerapu jenis ini juga menjadi komoditas yang cukup menjanjikan dimana di pasar domestik saja harga kerapu jenis ini dapat mencapai 90–100 ribu rupiah per kilogram.
§  Kakap putih (Lates calcarifer), jenis ikan kakap ini cukup mudah dibudidayakan dan menjadi komoditas yang cukup menjanjikan.
§  Kakap merah (Epinephelus sp), merupakan jenis ikan laut yang tetap menjadi primadona di masyarakat lokal Indonesia dengan harga yang relatif stabil.
Pembudidaya ikan laut dapat menggunakan budidaya dengan sistem karamba jaring apung (KJA) ataupun membudidayakan ikan laut di tambak. Dimana kedua sistem budidaya tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Untuk menekan biaya, biasanya pembudidaya memilih sistem karamba jaring apung (KJA), karena biaya pembuatan KJA lebih murah dan mudah dibandingkan dengan pembuatan tambak.  Akan tetapi, konsekuensinya, jika menggunakan budidaya sistem KJA, maka pembudidaya melakukan pembersihan karamba secara periodik dari kotoran-kotoran yang biasanya menempel di sekitar karamba.

                              budidaya ikan dengan karamba jaring apung

Budidaya laut dengan sistem tidak KJA (tambak) membutuhkan modal dan biaya yang cukup besar. Sehingga sangat dibutuhkan kerjasama dengan investor atau pihak lain untuk mengembangkan sektor budidaya laut ini.


Dengan demikian, Kabupaten Bangka Barat yang memiliki karakteristik wilayah dengan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang cukup besar dimana pemanfaatannya belum optimal, sehingga perlu pengembangan dan pengelolaan yang lebih baik. Para pelaku budidaya yang ada bisa mengembangkan usaha budidaya laut ini secara mandiri, berkelompok ataupun bekerjasama dengan pihak ketiga (investor), agar ke depannya budidaya laut di wilayah ini semakin berkembang dengan optimal dengan tetap memperhatikan kelestarian ekosistem perairan yang ada agar tetap terjaga dengan baik keberadaannya dan termanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan bersama.